Semoga Indonesia Tetap Rukun
Rey Lasano
4:10:00 PM
Salah satu proyek dalam Kemah Kepemimpinan 2013 lalu adalah latihan jurnalistik. Latihan dilakukan dengan menugaskan kami layaknya para wartawan untuk mencari berita dan menuliskannya. Berita yang kami tulis kemudian diberikan feedback oleh salah seorang pentolan koran Tempo. Tidak bisa dibilang sebagai pengalaman paling menyenangkan, tapi saya rasa ada saatnya kita belajar melalui hal-hal yang tidak enak, tidak nyaman, dan membuat kita ingin memberontak dari berbagai segi.
Proyek itu membawa pengalaman tersendiri untuk saya, yang baru pertama kali melakukan simulasi mencari dan menulis berita. Prosesnya lumayan seru dan mempertemukan saya dengan banyak hal tak terduga di balik gang-gang rumah kontrakan di Cinangka. Ada cerita di sana dan berbagi cerita tersebut adalah salah satu hal yang dapat saya lakukan untuk membuat kisah mereka terdengar.
“Anda
dapat kapan saja bepergian dan berwisata mengunjungi negara saya. Tetapi saya
tidak bisa pulang ke rumah sendiri.”
Aziz (26) menatap mata saya
lekat-lekat. Ia adalah salah seorang dari delapan pengungsi asal Myanmar yang
sekarang tinggal di Kampung Cinangka, Megamendung, Jawa Barat. Kedatangan
mereka difasilitasi oleh badan PBB United Nation High Commissioner for Refugees
(UNHCR) dan secara resmi dilindungi di Indonesia. Siang itu saya bertemu dengan
Aziz dan ketiga temannya, M. Suman (26), Kabir Hussain (25) dan M. Sobuz (28)
di sebuah warung nasi di Kampung Cinangka. Ketiganya menceritakan bahwa belumlah genap dua bulan semenjak
kedatangan mereka di Tanah Air, meninggalkan Myanmar yang semenjak dua tahun
silam kisruh dengan konflik agama. Mereguk kopi dan menyalakan rokok, Aziz
kembali bercerita. “Jumlah kaum muslim hanya sedikit di Myanmar. Tapi kaum
Buddha tidak henti-hentinya mengejar, menembaki, mengusir dan membenci kami.”
Konflik antara para penganut agama Buddha dan Muslim di Myanmar mulai mendapat
perhatian internasional sejak insiden Rohingya yang terjadi pada awal Juni 2012
silam. Sejak saat itu, situasi terus memanas dan ketegangan antara umat Buddha
dan Muslim tidak dapat dikendurkan.
Setelah tinggal di Indonesia,
Aziz merasa lebih nyaman, meskipun tidak dapat sepenuhnya tenang karena masih
ada keluarga yang ditinggalkannya dalam ancaman kematian setiap hari. “Di Indonesia,
saya merasa aman.” kata Aziz. “Kami tahu ada banyak penganut Kristen, Buddha
dan agama lainnya di sini. Tapi kami sama sekali tidak takut. Kami tahu kami
aman.” Hussain menambahkan. Sehari-harinya para pengungsi ini bangun pagi,
berbelanja beberapa bahan makanan di pasar, kemudian kembali pulang dan
memasak. Sesekali mereka makan di warung nasi Bu Oom, yang selalu mereka
panggil dengan sebutan “kakak”. Setelah itu seringkali mereka saling
mengunjungi kediaman pengungsi-pengungsi lainnya dan saling berbagi informasi.
Informasi biasanya berkaitan dengan keadaan di negara masing-masing dan
kemungkinan kesempatan berbisnis atau bekerja. Menjelang sore mereka akan
mampir di Masjid Al Taqwa untuk beribadah sebelum pulang dan beristirahat.
Keseharian ini telah mereka lakukan selama enam minggu berturut-turut di
Kampung Cinangka.
Kampung Cinangka merupakan
salah satu kampung dalam naungan Desa Cipayung di Megamendung, Jawa Barat. Penduduk
di kampung ini sudah tidak heran lagi dengan adanya warga negara asing yang
berseliweran di jalan-jalan kecil kampung mereka. Ibu Oom (44) pemilik warung
nasi dan beberapa rumah kontrakan di Cinangka misalnya, telah terbiasa
mengontrakkan rumahnya untuk para pengungsi dari Somalia, Irak, Afghanistan,
Sri Lanka dan Myanmar. “Mereka pengungsi legal, mereun (mungkin). Dibantu kedutaan, mereun.” Ibu Oom berbicara dengan logat Sunda yang kental.
Menurutnya di kawasan Megamendung, Bogor dan sekitarnya ada banyak para
pengungsi dari negara konflik. “Di Cibereum juga banyak. Kalau disana itu
banyakan pengungsi Irak, neng. Yang hidungnya mancung-mancung pisan.” Canda Bu Oom. Bu Oom kemudian
menjelaskan, bahwa para pengungsi mengontrak rumah dengan harga dua juta rupiah
setiap bulannya. Untuk makan dan kebutuhan sehari-hari, rata-rata menghabiskan
uang satu juta rupiah per bulan. Para pengungsi umumnya membuka rekening bank
dan mendapatkan kiriman uang seadanya dari keluarga di negara masing-masing
untuk memenuhi kebutuhan mereka. Mereka sulit mendapatkan pekerjaan di daerah
Cinangka karena adanya keterbatasan bahasa dan masih membutuhkan waktu untuk
menyesuaikan diri dengan budaya lokal.
Para pengungsi, meskipun sangat lega
karena mendapatkan rasa aman di Indonesia, namun mereka juga merindukan
kehidupan sebelum konflik mulai terjadi di Myanmar. Aziz, terutama, rindu untuk
dapat membaca buku. Sebelumnya di Myanmar ia memiliki akses yang mudah setiap
kali ingin membaca buku. “Apakah Anda dan Tempo bisa memberikan buku berbahasa
Inggris untuk saya dan teman-teman?” tanyanya penuh harap. Bagi Aziz, Myanmar
dulu pernah menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Namun kini, ia merasa
ditolak oleh negerinya sendiri. “Presiden tidak menginginkan kami. Oleh karena
itu kami ditembaki dan diusir. Masjid-masjid kami dibakar, lalu rumah kami dirubuhkan.”
Aziz kemudian menunjukkan beberapa foto yang dimilikinya. Ia menunjukkan wajah
bangunan dan jalan-jalan di Myanmar sebelum dan sesudah terjadi konflik.
Jenazah dapat tergeletak begitu saja di jalanan, tidak peduli laki-laki,
perempuan atau bahkan anak-anak. “Mereka menembaki kami yang bertangan kosong.”
Hidup para pengungsi sebagai
kaum minoritas di Myanmar sangat berat namun, mereka sangat berterimakasih
kepada Indonesia dan penduduknya yang ramah. “Kami menyukai Indonesia.
Makanannya, rokoknya, kopi dan para penduduknya. Kami sangat menyukai negeri ini.”
kata Suman. “Saya suka nasi kuning, tapi tidak makan soto.” tambah Kabir
Hussain sambil menyunggingkan senyum. Aziz kemudian menambahkan bahwa
kedepannya ia berharap dapat juga membawa keluarganya ke Indonesia. Untuk saat
ini ia ingin terlebih dahulu mendapatkan pekerjaan tetap supaya dapat membantu
menghidupi keluarganya. “Terimakasih.” kata Aziz. Ia berharap Indonesia akan
selalu menjaga kerukunannya. Karena ketika Indonesia turut mengusir sekelompok
orang karena agama yang dianutnya, pada saat itulah Aziz akan tahu bahwa ia
tidak lagi memiliki tempat dimanapun di dunia ini.
***
Jatuh Cinta pada Indonesia
Rey Lasano
9:28:00 AM
Jatuh Cinta pada Indonesia
Memangnya,
perlu merantau jauh dari tanah air dulu baru bisa mengerti seribu hal dari
Indonesia yang selama ini hanya kita terima dengan cuma-cuma?
Saat bersekolah selama satu
tahun di sebuah universitas di Jepang, saya berangkat dengan keyakinan bahwa saya
akan belajar banyak tentang Jepang dan kebudayaannya. Tidak sabar ingin
membuktikan apakah kehidupan sekolah di Jepang sama dengan yang digambarkan Hana yori dango, penasaran dengan distrik
fashion Harajuku dan Shibuya,
setengah mati ingin merasakan tradisi hanami
(makan dan minum sambil melihat bunga sakura) dan ingin mengunjungi kota-kota
bersejarah layaknya Hiroshima, Nagasaki dan lain sebagainya. Melihat ke belakang
sekarang, betapa sederhana, naif dan egoisnya saya saat itu. Karena ternyata,
justru dengan menjadi anak rantau di negeri orang, saya belajar lebih banyak
tentang negeri sendiri.
Di kampus, saya bertemu
dengan banyak mahasiswa pertukaran pelajar lainnya dari berbagai negara di
dunia dan tentu saja, dengan para mahasiswa Jepang. Ada yang merasa familiar dengan
nama Indonesia, beberapa mengaitkannya dengan Pulau Dewata, tapi tidak sedikit
yang sulit percaya bahwa Bali adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Reaksi pertama saya adalah terkejut, karena tidak menyangka bahwa
banyak sekali orang yang tidak tahu-menahu tentang Indonesia.
Saat itu saya berdiri di
sana, di depan rekan-rekan saya dan menceritakan tentang beberapa hal yang
berkaitan dengan kebudayaan di Indonesia. Seorang teman dari Finlandia
memperhatikan pin Garuda emas yang saya sematkan di tas saya. Dan ia bertanya,
apakah itu adalah coat of arm negara
Indonesia. Pertanyaannya membuka diskusi panjang tentang negara kami
masing-masing. Saya mencoba menjelaskan tentang simbolisasi Garuda, makna 17
helai sayap, 8 bulu ekor dan 45 bulu dada yang dimilikinya. Juga perisai
Pancasila dan pita bertuliskan bhinneka tunggal ika yang dicengkeramnya. Si
pria Finland kemudian berkata bahwa ia tidak tahu Indonesia ternyata adalah
negara yang dibangun di atas filosofi yang sangat kuat, dan bahwa rupa-rupanya
para pendiri bangsa memiliki visi yang sangat besar untuk negeri ini.
Rekan-rekan saya hari itu mungkin
kembali ke asrama mereka dengan sedikit tambahan informasi tentang Indonesia,
namun saya kembali dengan suatu percikan api yang memenuhi relung hati: saya
adalah orang Indonesia dan saya ingin
Indonesia dikenal lebih luas lagi sebagai negara yang kaya budaya dan penting
untuk dikenal. Maka, saya kembali ke asrama dan melakukan riset besar-besaran
melalui internet. Mengingat kembali sejarah, mencari tahu lagi tentang berbagai
upacara adat dan kesenian Indonesia dan fakta-fakta yang sebelumnya terlewat
begitu saja dari ingatan dan keseharian saya selama masih berada di Tanah Air. Lalu
saya merasa lucu. Sebagai anak-anak Indonesia, kita adalah orang-orang yang
semestinya paling mengerti tentang kebudayaan Indonesia. Kita hidup di dalamnya
selama bertahun-tahun, kebudayaan itu adalah kita, dalam keseharian kita, dalam cara kita menghayati apa
yang kita miliki sebagai Bangsa Indonesia. Namun, saat merantau tiba-tiba saya
diserang oleh kesadaran bahwa ternyata sebelumnya saya pun bukanlah orang yang
menghayati dan mengenal kebudayaan sendiri dengan segenap hati.
Bagaimana saya akan
memperkenalkan Indonesia, jika saya sendiri tidak mengenalnya secara mendalam?
Melalui berbagai presentasi, tugas dan interaksi saya dengan rekan-rekan dari
mancanegara, saya akhirnya menemukan jalan untuk pertama kalinya menyadari
penuh bahwa saya telah jatuh cinta pada bangsa Indonesia.
Saya jatuh cinta pada negara
yang memiliki lebih dari 17.000 pulau dalam wilayahnya. Saya jatuh cinta pada
negara yang masing-masing pulaunya memiliki tarian, kisah dan legenda memesona,
kepingan sejarah, ragam kepercayaan, sensasi makanan khas dan juga tradisi yang
berbeda-beda. Saya jatuh cinta, pada negara yang berusaha merantai semua
perbedaan itu dalam semangat persatuan. Saya jatuh cinta, pada negara yang
memiliki kombinasi ragam keindahan alam, baik darat dan laut yang terindah di
dunia. Saya jatuh cinta, pada negara yang masih jatuh bangun menata
pemerintahannya.
Kemana saja saya selama 22
tahun ini? Apakah terlalu sibuk menggandrungi kebudayaan negara lain dalam era
globalisasi? Apakah terlampau apatis untuk memperhatikan pertumbuhan negara
sendiri? Apakah kelewat egois dengan terus mencemooh pemerintah tanpa
merefleksi apa yang sudah saya lakukan untuk negara?
Dalam banyak kesempatan
berpikir, saya bertanya-tanya apakah rasa nasionalisme dalam diri generasi muda
Indonesia sekarang sudah menjadi terlalu tipis? Ada berapa banyak generasi
Indonesia yang sama egoisnya dengan saya sebelum datang ke Jepang? Sebetulnya,
saya merasa menyesal, tidak lebih cepat jatuh cinta pada Indonesia. Seharusnya,
rasa nasionalisme sekuat ini sudah saya miliki sejak dulu dan tidak perlu
menunggu merantau jauh-jauh untuk bisa menyadari betapa bangganya menjadi
seorang anak Indonesia.
Cinta bangsa seharusnya
ditumbuhkan dari pendidikan budaya dalam keluarga, di sekolah, dan masyarakat
sejak usia dini. Saat saya menjadi siswa SMP bertahun-tahun silam di Jakarta,
saya masih diwajibkan membaca karya sastra Indonesia. Sebut saja Layar
Terkembang dan Anak Perawan di Sarang Penyamun karangan Sutan Takdir
Alisjahbana. Namun dewasa ini, penanaman nilai-nilai budaya seperti itu telah
semakin bergeser dan terlupakan. Padahal, hal ini penting dalam pembentukan
karakter siswa yang notabene adalah generasi penerus bangsa. Contoh lain,
pemerintah Indonesia belakangan menyadari tentang pentingnya penanaman
nasionalisme, dan meyakini bahwa penambahan porsi jam mata pelajaran Agama dan
Pendidikan kewarganegaraan akan menjadi solusi yang baik. Sedangkan,
pelajaran-pelajaran tersebut masih seringkali didominasi oleh tumpukan teori
dan hafalan.
Soe Hok Gie dalam Catatan
Seorang Demonstran pernah berkata, “Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan
slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia
mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan
mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.” Oleh karena itulah, rasa
cinta tanah air tidak akan dimunculkan hanya dengan menghafal teori dan
menambah porsi jam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah-sekolah. Cinta
tanah air tidak akan berakar jika generasi muda tidak dididik untuk mengenal
kebudayaannya dari dekat.
Saya rindu, generasi muda akan
terus-menerus jatuh cinta pada Indonesia. Saya rindu, perasaan cinta itu tumbuh
seiring dengan pertumbuhan kami sebagai pribadi-pribadi Indonesia. Saya rindu,
kami-kami ini akan dapat memperkenalkan Indonesia kepada dunia luas bahwa
mereka akan merugi jika tidak mengenal Indonesia. Untuk itu saya rindu,
pelajaran “kewarganegaraan” dan “budaya” adalah pelajaran yang menfasilitasi
siswa untuk menggunakan inderanya demi meresapi budaya bangsa. Mumpung masih berada di bumi Indonesia,
saya rindu generasi muda melihat, menyentuh, mencium, mendengar dan membaui
budaya itu sendiri. Karena tempat mana lagi yang lebih tepat digunakan sebagai
ajang eksplorasi budaya bangsa, kalau bukan di lahan bangsa itu sendiri?
Saat ini, saya berada dalam jalur
pekerjaan yang memungkinkan saya memiliki akses pada pendidikan anak usia dini.
Saya akan memulainya dari sini. Dari anak-anak muda ini, saya akan menularkan
virus jatuh cinta pada tanah air. Dan saat mereka bertumbuh dewasa, saya
berharap virus itu sudah merajalela di setiap nadi dan pembuluh darah mereka.
Dan bahwa kami, anak-anak Indonesia, akan membawa virus itu kemanapun kami pergi.
***
Selain perjalanan pendakian ke Gunung Gede, salah satu highlight tahun lalu bagi saya adalah mengikuti Kemah Kepemimpinan yang diselenggarakan oleh Tempo Institute. Kemah Kepemimpinan yang merupakan bagian dari KEM (Kompetisi Esai Mahasiswa) itu mempertemukan 30 anak muda dari berbagai tempat di Indonesia untuk mendiskusikan ide tentang bagaimana menjadi Indonesia. Seleksi pertama dilakukan dengan meminta para kandidat untuk menuliskan sebuah esai. Esai di atas adalah esai yang saya tulis untuk KEM Menjadi Indonesia 2013.
KEM membuat saya belajar banyak hal, dan mendapatkan banyak teman baru, manusia-manusia yang memiliki idealisme masing-masing dan tidak ragu menyampaikannya dalam diskusi. Perbedaan jelas terlihat diantara kami, dan tidak sedikit yang berdiri di kutub-kutub ekstrim dari sebuah pandangan. KEM lalu mempertemukan kami-kami ini dan memfasilitasi sebuah think tank, membiarkan masing-masing orang berproses dan mengemukakan idenya, imajinya tentang sketsa Indonesia. Proses ini bagi saya terbilang baru, karena saya didorong untuk berpikir dan secara jujur mengemukakan sketsa saya sendiri, untuk pertama kalinya secara intens mempertanyakan pada diri sendiri, "bagimu, apa itu Indonesia?" dan "apa yang membuatmu mau menjadi Indonesia?"
Dalam KEM ini pula muncul sosok unik Rocky Gerung, seeorang yang langsung mengambil posisi pengusik, seorang penggoda seperti dalam cerita Adam dan Hawa. Singkatnya, ia mempertanyakan ideologi 30 anak muda ini. Menantang dan menuntut jawaban logis, apakah kami percaya pada Republik? Sungguhkah Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sesuatu yang patut dipertahankan, tidakkah akan jauh lebih baik dan adil bila kita menjadi sebuah negara serikat? Pada kami yang meyakini Undang Undang Dasar 1945 dan pada kami yang sentimentil mengungkit kisah perjuangan para pejuang untuk mempersatukan negeri, pak Gerung bertanya, "Mengapa?" tidakkah ideologi kami tentang NKRI adalah ideologi yang "dipaksakan" melalui pelajaran Sejarah, melalui hal-hal yang kami telan mentah-mentah dari orang-orang dewasa di sekitar kami? Sesuatu yang menjadi bagian dari kami begitu saja, tanpa kami pertanyakan, tanpa kami hayati sebagai sebuah ideologi. Mengapa memaksakan negeri ini harus tetap menjadi suatu kesatuan? Tetap menjadi sebuah Republik Indonesia? Ia bahkan bertanya apa yang kami pahami dengan nasionalisme, sebuah pertanyaan mendasar yang ternyata telaah jawabannya jauh lebih dalam dari yang saya yakini selama ini.
Pak Gerung memang pengusik yang handal.
Kurang lebih seperti itu sepenggal nostalgia saya tentang KEM 6 bulan yang lalu. Kami diusik untuk merumuskan kembali "menjadi Indonesia". Lalu, tanggal 30 Maret kemarin, rekan-rekan dari Tempo Institute beserta para alumni berangkat ke Bandung untuk memulai rangkaian kegiatan Menjadi Indonesia 2014.
Saya duduk di depan komputer dan sebuah senyu menyungging begitu saja. Sudah dimulai lagi, ternyata. Rangkaian kegiatan yang saya harap akan tetap menjadi proses berpikir ulang bagi para anak bangsa, dalam perjuangan merealisasikan sketsa Indonesia. Menurut saya ini proses yang penting. Tahun ini pun, saya berharap KEM akan menjadi wadah dimana anak-anak muda Indonesia dari berbagai paham, idealisme dan sudut pandang akan berkumpul dan berlatih memahami perbedaan, toleransi, dan patriotisme.
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)

No comments :
Post a Comment