Lukisan Alam Cikondang dan Peradaban Kuno Gunung Padang


Hal traveling itu semacam heroin: sifatnya mengikat lebih dari satu reseptor saraf di seluruh badan, membuat kita percaya sedang dibanjiri hormon endorphin -- membuat tenang, nyaman dan senang, lalu secara ekstrim membuat seseorang ketagihan.

Saya rasa, sedikit banyak persamaan pandangan tentang traveling itu merupakan satu dari banyak hal yang menyatukan saya, C.J dan Iin. Kami berteman sejak zaman SMA, ketika hiburan umumnya terpusat di mall (dan kucing-kucingan dengan satpam karena tidak boleh masuk mall dengan seragam) hingga kini ketika kami hanya akan nge-mall kalau terpaksa.

Melalui masa-masa itu kami sudah survive beberapa trip bersama, konser Sheila On 7 di lapangan sekolah, berjam-jam diskusi tentang kehidupan, berbagai galau nya cinta anak-anak manusia yang memasuki usia early adulthood, sesi makan ramen dan sushi yang sudah tidak terhitung lagi berapa banyaknya dan main Lara Croft: Tomb Raider demi menghibur C.J yang terkapar karena DBD (contoh kurang baik, orang sakit bukannya disuruh istirahat malah dibujuk buat main xD). Perjalanan kali ini artinya bisa berbeda-beda bagi kami. Bisa juga dibilang perayaan ulang tahun saya, bisa juga perjalanan farewell karena C.J akan segera berlayar ke negeri orang. Bisa juga sekedar memenuhi kecanduan jalan kami sih.

Semua berawal ketika saya dan C.J kegirangan melihat sebuah paket tur ke situs megalitikum tertua dan terbesar di Indonesia: Gunung Padang. Konon katanya, situs purbakala yang bentuknya menyerupai piramida ini bisa membuktikan keberadaan peradaban pra-sejarah, bahkan lebih tua dari peradaban Sumeria di Timur Tengah, yang saat ini dipahami sebagai peradaban tertua di dunia. Sebagai anak Sejarah sejati (C.J) dan bolang yang pada dasarnya curious dengan segala sesuatu (saya), kami menyeret Iin yang sebetulnya tidak percaya dengan ilmu Arkeologi sama sekali untuk pergi melihat situs purba ini dengan mata kepala sendiri.

Satu dan lain hal muncul dan membuat kami terlambat memesan paket tur yang dimaksud (cih). Namun akhirnya setelah browsing sana-sini, kami membulatkan tekad untuk pergi bertualang bertiga.

#1 Persiapan Petualangan

Situs Gunung Padang letaknya di Desa Karyamukti, Cianjur. Perjalanan dapat ditempuh menggunakan kendaraan pribadi dan angkutan umum. Saran saya sih, pakai angkutan umum saja. Kecuali kendaraan pribadi kalian tahan jalanan off-road. Dari Jakarta, cara paling mudah dan membahagiakan hidup adalah jelas dengan menggunakan kereta api. Pertama-tama, naik kereta Commuter Line jurusan Bogor lalu turun di stasiun terakhir: stasiun Bogor (Stasiun Jakarta Kota - Stasiun Bogor: Rp 5.000, waktu tempuh 1 jam 20 menit).

Selanjutnya, kita perlu berganti kereta dengan KA Pangrango jurusan Cianjur. Turun di Stasiun Lampegan, satu stasiun sebelum stasiun Cianjur. Harga tiketnya untuk kelas ekonomi Rp 40.000 dan untuk kelas eksekutif Rp 85.000. Perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam.

Kami mempersiapkan dua alternatif untuk mencapai situs Gunung Padang. Alternatif pertama dengan menyewa angkot (katanya Rp 200.000) pulang-pergi. Kalkulasi kami uang itu tidak terlalu mahal jika dibagi bertiga. Alternatif kedua adalah menggunakan ojek dengan harga Rp 100.000 untuk perjalanan pulang pergi ke Lampegan - Gunung Padang - Cianjur, belum termasuk pergi ke Curug Cikondang. Untuk perjalanan pulang, rencananya kami akan naik bus dari Cianjur sampai ke Terminal Kampung Rambutan (Rp 25.000). Ide besar kami setelah melihat foto-foto Curug Cikondang adalah berpiknik di area itu, maka kami membagi tugas. C.J mempersiapkan sarapan, saya mempersiapkan bekal makan siang dan Iin sebagai spesialis cemilan akan menjarah isi kulkas rumahnya (lumpia, brownies Bandung dan pisang keju) untuk meramaikan piknik akbar kami.

#2 Bogor dan Hal-hal Kecil Diantaranya

Serius nih, ini hal paling penting yang perlu diketahui dalam abad ini. Kereta api Pangrango dan Siliwangi yang melayani jurusan Bogor-Cianjur itu kereta yang maiden voyage nya baru dilakukan satu bulan lalu. Singkat cerita, ini trayek kereta baru. Pada e-tiket kereta saya tertulis Bogor - Lampegan yang saat itu saya imani hanya punya satu arti: naik dari stasiun Bogor, turun di stasiun Lampegan. Apa daya, ternyata ada stasiun kecil yang disebut "halte" kereta api Bogor Paledang. Halte Paledang dibangun khusus karena stasiun Bogor sudah tidak memiliki tempat lagi untuk menampung KA Pangrango. Letak halte ini sekitar 200 meter dari stasiun Bogor, letaknya berseberangan dan patokan nya adalah KFC di depan stasiun bogor. Dari samping KFC tinggal berjalan lurus saja untuk mencapai halte Paledang.

Bukan masalah kalau kami tahu dari awal. Masalah besar kalau kami baru sampai di Bogor pukul 07.45, 10 menit sebelum waktu keberangkatan KA Pangrango. Saya, C.J dan Iin saling berpandangan cengo waktu petugas loket stasiun Bogor menjelaskan sambil lalu tentang keberadaan halte Paledang. Kami berlari-lari setelah itu, karena meskipun menyenangkan berada di kota sejuk macam Bogor, kurang lucu nih kalau akhirnya kami piknik di kebun raya. C.J sempat tersandung dan jatuh di dekat KFC, menyisakan battlescar perjalanan ke Gunung Padang.

KA Pangrango
Perjalanan sampai ke Lampegan ditempuh dalam waktu 3 jam. Kami sarapan (roti, telur dan bacon ala C.J, I love you girl), mengobrol dan (berusaha) memotret pemandangan karpet sawah hijau yang menggantikan jalan-jalan besar dan siluet-siluet gunung di kejauhan. Duo bocah ini juga memberikan CD Ed Sheeran dan Jason Mraz untuk ulang tahun saya, dengan kartu ucapan yang belum ditandatangani Iin (kebiasaan). Pemandangan yang disuguhkan di luar sangat menyegarkan mata, dan dengan diiringi suara awak kereta yang menawarkan nasi goreng, mie instan dan jus jambu, saya bersyukur. Bersyukur kami berkesempatan melakukan perjalanan ini, bersyukur dengan pemandangan hijau di luar sana yang langsung mengingatkan saya bahwa sesumpek-sumpeknya Jakarta, Indonesia masih memiliki daerah-daerah hijau, deretan rumah-rumah sederhana dan saung-saung bambu di tengah sawah.


#3 Lukisan Curug Cikondang dan Terowongan Tua Lampegan

Sepanjang yang bisa saya ingat, air terjun sering sekali jadi model lukisan-lukisan alam di rumah-rumah saudara atau teman yang pernah saya kunjungi. Tukang-tukang taman di pinggiran jalan juga sering memamerkan karya mereka yang berupa miniatur air terjun, siap dipasang di rumah-rumah pemesan. Melihat Curug Cikondang hari itu, rasanya kurang lebih saya jadi paham kenapa.

Sekitar pukul 11.00 kami sampai di stasiun Lampegan. Stasiun ini adalah salah satu stasiun tertua di tanah air. Salah satu hal yang membuat stasiun ini terkenal adalah terowongan Lampegan, terowongan pertama yang dibangun di Jawa Barat pada tahun 1879 - 1882. Seperti halnya objek-objek tua pada umumnya, stasiun ini memiliki "aura" antik tersendiri. Kang Dadang, seorang tukang ojek yang mangkal di sana bercerita bahwa belasan tahun silam, ia dan setidaknya seorang teman akan berjalan sambil berpegangan tangan dan menyusuri rel kereta di dalam terowongan gelap tersebut dalam perjalanan menuju sekolah. Terowongan dan stasiun Lampegan ditutup pada tahun 2001 karena dinilai tidak layak untuk dioperasikan. Baru pada tahun 2010 terowongan dan stasiun Lampegan difungsikan kembali.


Dari Lampegan, kami akhirnya memutuskan untuk naik ojek. Hal ini karena ternyata, Lampegan sepenuhnya adalah daerah pedesaan (baca: nggak ada angkot, jek.) Angkot bisa dicarter kalau kita turun di Cianjur, yang kurang lebih adalah kota yang ramai, dilalui berbagai jenis angkot dan bis. Sebaliknya, Lampegan didiami oleh para petani, pekerja kebun teh atau pekerja tambang emas. Ojek merupakan usaha sampingan yang akhir-akhir ini laris manis semenjak Dede Yusuf dan Pak SBY mengunjungi situs Gunung Padang. Tawar-menawar dengan 3 orang babang ojek, kami sepakat di harga Rp 160.000 per ojek untuk perjalanan Stasiun Lampegan - Curug Cikondang - Situs Gunung Padang - Cianjur. Babang ojek dengan setia akan menunggu, mengantar hingga memastikan kami para pelancong dari Jakarta naik bus yang tepat (bus Marita) dari Cianjur ke Jakarta. Mereka juga bisa menjadi local guide karena telah menghabiskan sebagian besar hari-hari mereka di tempat ini, paham apa yang terjadi pra dan pasca situs Gunung Padang menjadi tenar dan pada dasarnya senang diajak mengobrol.

Satu hal yang saya perhatikan, nyaris semua orang di Lampegan berasumsi bahwa orang Jakarta yang datang ke sana pasti mau pergi ke Gunung Padang. Setidaknya untuk saat ini hal itu tidak buruk, sih. Namun pada tahun-tahun yang akan datang kemungkinan besar stasiun ini akan ramai dengan ojek yang langsung memberondong orang-orang "berlogat Jakarta" dan yang tidak berbahasa Sunda dengan penawaran ojek ke situs megalitikum tersebut.

Mengendarai ojek, saya dihadiahi kombinasi pemandangan hijau dan angin segar di sepanjang jalur menuju Curug Cikondang. Kombinasi ini adalah sesuatu yang bagi saya jarang dapat saya lihat di kota besar macam Jakarta. Perkebunan teh, udara yang bersih, angin yang sejuk; belum sampai Curug Cikondang saja saya sudah senang sendiri dengan pemandangan yang ada. Namun hal tersebut tidak bertahan terlalu lama karena segera sesudah itu jalanan aspal yang kami lalui berubah wujud. Saya belum pernah melakukan kegiatan off-road sebelumnya, jadi jujur saja, lumayan jantungan dengan perjalanan ojek. Jalanan nya berbatu-batu besar dan meliuk-liuk, mengingat ini adalah daerah perkebunan teh. Untungnya, babang ojek saya, Kang Dadang, sepertinya sudah berpengalaman membawa penumpang melewati jalur ini, karena tampaknya beliau santai-santai saja dan cukup menikmati perjalanan, sambil bercerita tentang pertambangan emas, tentang jalan-jalan yang bertahun-tahun lalu belum diaspal, tentang rute berjalan kaki yang dilaluinya dari dan ke sekolah, juga tentang kekecewaannya akan perusakan lingkungan seperti ini.


Menurut Kang Dadang, berbagai usaha sedang dilakukan untuk mengembalikan kehijauan beberapa bagian perkebunan yang sudah gundul. Namun tetap menyedihkan melihat ada bagian tanah yang gundul diantara rumpun-rumpun hijau Desa Karyamukti. Setelah melakukan kegiatan offroad berkendara selama 45 menit, kami akhirnya tiba di pintu masuk Curug Cikondang. Ada biaya masuk Rp 5.000 rupiah yang harus dibayar di sini. Dari pintu masuk, saya, C.J dan Iin perlu melewati jalan kecil yang menurun menuju Curug. C.J terjatuh sekali lagi di sini (mbak..sehat, mbak? :P) dan sukses keseleo. Saya tidak terlalu kaget sih, habis keseleo itu memang trademark nya C.J. Iin berusaha memberi penghiburan dengan menyatakan mungkin C.J salah pakai sepatu (dia lagi pakai sepatu running), belum sempat saya mengatakan apa-apa, yang bersangkutan sudah menepis pernyataan Iin. "Gue emang selalu keseleo kapanpun dimanapun. Di mall aja bisa kesandung." 
Tawa dan pembicaraan kami terhenti karena saya menoleh ke sebelah kiri dan langsung berhenti bergerak. Ada pemandangan macam begini di sebelah saya.


*Mari mengambil waktu tenang sejenak untuk menikmati keindahan alam ini*
*Di otak langsung keputer lagu The Shire nya Lord Of The Rings*


Buat saya, rasanya seperti melihat lukisan jadi nyata. Karena hari biasa, Curug Cikondang betul-betul sepi. Pengunjungnya hanya kami bertiga, serasa curug milik sendiri. Saya, C.J dan Iin bermain air sebentar disini. Menikmati percikan air, banyak mengambil foto disana-sini (Iin: "Belom puas juga foto? Bawa pulang sekalian curugnya. Bawa pulang."), dan makan siang sama-sama di saung yang ada di deket curug.


#4 Gunung Padang: Peradaban Purba di Indonesia

Puas main di Curug Cikondang, kami langsung berangkat menuju tujuan utama hari itu: Situs Megalitikum Gunung Padang. Perjalanannya sekitar 30 menit dari Curug Cikondang. Begitu masuk langsung disambut deretan warung di dekat gerbang depan. Tiket masuknya Rp 2.000 untuk wisatawan Indonesia dan Rp 5.000 untuk wisatawan asing. 

Situs Gunung Padang disebut-sebut sebagai struktur makam raksasa yang bentuknya menyerupai piramida. Sekarang ini sedang ada penggalian bear-besaran di sana, untuk kepentingan penelitian dan membuktikan bahwa sudah ada peradaban maju yang lebih tua dari peradaban Sumeria, peradaban tertua yang diketahui dunia saat ini. Dibanding piramida, sebenarnya struktur situs ini lebih mirip punden berundak, yang memiliki teras-teras seperti halnya Machu Picchu di Peru.

Gampangnya, penampangnya kelihatan seperti ini nih:

Gambar diambil dari sini
Saya, C.J dan Iin memanjat struktur ini melalui jalur yang telah dibuat khusus untuk wisatawan. Kaki C.J yang keseleo nggak memungkinkan kami mengambil jalur alami yang batuannya lebih terjal, meskipun katanya sih, waktu tempuhnya lebih singkat. Kami naik sampai ke teras ketiga dan  begini pemandangannya:


Banyak batu-batu besar khas situs megalitikum dan diduga teras ini berfungsi sebagai tempat pelaksanaan upacara-upacara dan berbagai ritual. Situs Gunung Padang pertama kali ditemukan oleh N.J Krom, seorang berkebangsaan Belanda. Kata C.J, catetan tentang penemuan situs ini pasti ada somewhere di Belanda, tapi semacam sudah dilupakan orang. Setelah itu sempat ada laporan juga dari masyarakat umum tentang situs ini, namun baru akhir-akhir ini akhirnya pemerintah menaruh perhatian serius, melakukan penelitian sekaligus tetap membuka situs ini untuk masyarakat umum.



Saya penasaran setengah mati dengan situs ini. Jadi, begitu melihat para bapak dengan kaos bertuliskan "Juru Pelihara Situs Gunung Padag", langsung deh samperin dan tanya-tanya ke beliau. Beliau ini mempersilahkan saya untuk bertanya-tanya lebih lanjut pada pak Dani, arkeolog dari LIPI Bandung. Beliau kemudian menjelaskan bahwa berdasarkan pencitraan bawah tanah, tampak lorong-lorong dan ruangan-ruangan di dalam struktur situs Gunung Padang yang hampir dapat dipastikan adalah buatan tangan manusia. Ada beberapa artefak-artefak batu yang juga ditemukan dan diduga digunakan oleh manusia-manusia purba. Pembuktian secara ilmiah menjadi penting bukan hanya untuk Indonesia, tapi untuk dunia untuk melengkapi sejarah besar umat manusia. Pak Dani bilang, "Manusia zaman sekarang terlalu merasa diri paling hebat, menganggap manusia zaman batu adalah makhluk primitif. Padahal mungkin tidak demikian." Saya menangkap kesan bahwa pak Dani juga ingin menyampaikan bahwa penelitian situs ini secara menyeluruh penting untuk mengingatkan manusia tentang sejarah mereka sendiri dan untuk menyadarkan manusia agar tidak terlalu bermegah diri.

Penggalian saat ini dilakukan di beberapa titik. Terlihat anggota-anggota ABRI membantu proses penggalian di situs Gunung Padang. Sekilas betul-betul mengingatkan pada adegan Lara Croft / Indiana Jones. Mudah-mudahan tidak ada informasi yang kemudian ditahan dari publik ya.


Curug Cikondang dan Gunung Padang jelas adalah salah satu harta Indonesia. Ada banyak rahasia dan petualangan yang ditawarkan tanah ini untuk para penduduknya. Senang bisa berkesempatan mengunjungi tempat ini, dan diingatkan kembali bahwa ada tempat-tempat yang berada dalam jangkauan langkah kaki dan kereta api, tempat-tempat menarik milik Indonesia yang perlu diperkenalkan juga kepada semua orang.


Ah, hampir lupa. Ini persembahan sunset dari Cianjur. Pemandangan terakhir yang menemani jalan saya kembali ke ibukota, dengan tekad menjelajah lebih banyak lagi tempat di Tanah Air.

No comments :

Post a Comment

Psikologi dan Mengapa Segalanya Nampak Dibesar-besarkan

Sebelum jadi mahasiswa Psikologi tapi sudah mengutarakan niat untuk belajar Psikologi:
Kamu : "Mau kuliah Psikologi ah."
Orang-orang : "Biar bisa baca orang yaaaa?"
Kamu : "Aaah, nggak juga. Hahahaha" (sambil berpikir, apa mungkin ini sungguh ilmu untuk baca orang. Jangan-jangan habis lulus kamu didaulat jadi dukun.)

Semasa jadi mahasiswa Psikologi (semester-semester awal):
Kamu : "Saya mahasiswa Psikologi kampus Anu."
Orang-orang : "Waduh, bisa baca saya dong? Coba dong bacain saya, kamu bisa tau saya orangnya kayak gimana?"
Kamu : "Hahaha. Nggak oom, tante, belom bisa sampe segitu." (sambil berpikir, sepertinya ada yang salah dengan orang-orang ini. Sampai sekarang kamu belum juga menerima turunan ilmu / buku panduan baca orang dengan kasat mata dari para Suhu Psikologi-mu di kampus.)

Kamu : (Melakukan tindakan bunuh diri)
Orang-orang : 
"Kok bisa ya..? Padahal anak Psikologi. Cuma karena ditinggal pacar aja sampai bunuh diri ckckckck."
"Bego banget sih, buat apa ilmu Psikologi nya?"
"Kan anak Psikologi emang gitu tau, mereka tuh stress."



Semasa jadi mahasiswa Psikologi (semester-semester akhir):
Kamu : "Saya mahasiswa Psikologi, lagi skripsi nih."
Orang-orang : "Wah, harus hati-hati nih kalo deket-deket kamu. Nanti ketahuan lagi, saya orangnya kayak gimana. Nanti kebaca semua deh rahasia-rahasia saya."

--alternatif jawaban (bisa juga berubah-ubah; tergantung mood mu dan siapa yang berkomentar)--

Kamu sebagai mahasiswa Psikologi bertanggungjawab: "Sebenarnya kami tidak punya kemampuan semacam itu. Manusia itu makhluk yang kompleks, bukan buku yang tinggal dibuka dan dibaca. Tapi kami bisa sedikit memperoleh gambaran dengan bantuan alat tes, observasi, juga mendengarkan autoanamnesa dan alloanamnesa tentang yang bersangkutan."

Kamu sebagai mahasiswa Psikologi iseng: "Iyaa, bisa dong! Sekarang aja udah tau fakta-fakta mendasar tentang kamu!" (Lalu pasang aura sok misterius ketika ditanya lebih lanjut dan meninggalkan yang berkomentar penasaran setengah mati tentang apa yang mungkin kamu ketahui tentang dia).

Kamu sebagai mahasiswa Psikologi creepy: (Diam saja, memberikan tatapan gua tau segalanya tentang lo, lo nggak bisa kabur dan menyembunyikan apapun, sambil tersenyum tipis).

Semasa jadi alumni Fakultas Psikologi:
Kamu : "Saya S1 Psikologi, dari Universitas Anu."

--alternatif respon (bisa juga berubah-ubah; tergantung konteks percakapan dimana kamu membuka rahasia bahwa kamu belajar ilmu Psikologi)--

Respon ekstrim a : "Saya NGGAK MAU deket-deket kamu!! Iya, kamu sarjana Psikologi kan! Saya nggak mau dibaca! Saya diem aja atau dari cara duduk aja kamu bisa tau kan saya kayak gimana. Jangan dekat-dekat!"
Kamu : ... (Pengen gua colok ni orang).

Respon ekstrim b : (setting mau wawancara kerja) "anak Psikologi ya? Udah tau dong semua jawaban psikotes, bagi-bagilah. Kalau tes gambar orang harus kayak gimana biar bagus? Kalo pohon? Harus gambar beringin ya?"
Kamu : ngga ada bener salah kok, itu kan natural aja buat...
Dia : aah, ngga mau bagi-bagi nih. Anak Psikologi gitu kan, sukanya eksklusif.
Kamu :

Respon ekstrim c : (setting wawancara kerja) "anak Psikologi? Sayang banget ngelamar di bagian ini. Kenapa nggak jadi HRD aja? Saya Psikologi juga, kerja di HRD. Kan ga selamanya di belakang meja, ada urusin jobfair juga, jadi bisa keluar-keluar kantor kok. Jadi HRD aja ya?"
Kamu : (menjelaskan passion mu dan teori bahwa Psikologi bisa diterapkan dimana saja).
Pewawancara (yang katanya anak Psikologi juga) : Sayang banget, sayang. Kenapa nggak HRD aja?
Kamu : (sekali lagi menjelaskan bahwa ada bedanya mengerjakan sesuatu yang merupakan passion mu. Ada kebahagiaan tersendiri. Kamu berpikir, karena orang ini juga belajar Psikologi, dia pasti paham).
Pewawancara : Hmmm (mengangguk-angguk). Kamu bener nggak mau coba di HRD aja?



Mengapa sedemikan dibesar-besarkan? Mungkin karena kurangnya pemahaman akan hal-hal berikut.

#1 Psikologi itu ilmu tentang manusia. Dimana ada manusia, Psikologi dapat diterapkan disana. Kelas Psikologi Sosial yang saya ambil pada tahun kedua di kampus diampu oleh dekan fakultas Psikologi saat itu. Banyak hal yang beliau ajarkan dan salah satu ucapannya yang tetap saya bawa hingga kini adalah "laboratorium Psikologi adalah manusia. Selama masih ada manusia, seorang lulusan Psikologi dapat bekerja dimana saja." Butuh waktu sekian semester sebelum saya memahami sepenuhnya ucapan beliau di kelas berisikan 30 orang siang itu. Seringkali, orang-orang mengasosiasikan Psikologi dengan pekerjaan tertentu; HRD di sebuah perusahaan, atau guru BP / Konselor di sebuah Psikologi. Manusia, entah kenapa, memiliki kecenderungan mengkategorikan segala sesuatu. semua harus dimasukkan ke dalam kotak-kotak tertentu, dan merupakan sesuatu yang aneh untuk melihat segala sesuatu dalam gambaran yang lebih besar. Pemahaman macam ini; sifat mengkotakkan seperti inilah yang jadi bumerang. Arti dari belajar Psikologi dikerdilkan jika seseorang langsung menyimpulkan bahwa lulusan sarjana Psikologi pasti HRD-qualified, entah di bidang OD (organization development), recruitment, training dan lain sebagainya. 

Tahan dulu pemikiran itu sebentar. Memang betul, mahasiswa Psikologi pasti akan dibekali pelajaran-pelajaran dan latihan tentang Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), alat tes, sistem rekruitmen, pembuatan modul pelatihan dan lain sebagainya. Tapi jangan lupa bahwa PIO adalah satu bagian kecil dari ilmu Psikologi yang besar. PIO adalah aplikasi dari berbagai jenis ilmu. Sebelum belajar membuat modul pelatihan, seorang mahasiswa akan dibekali dengan pelajaran tentang bagaimana manusia belajar. Sarjana Psikologi yang melakukan rekrutmen sedang mengaplikasikan kemampuan observasi, berkomunikasi dengan orang lain, attending listening dan sederet kemampuan dasar Psikologi lainnya.

Ilmu tentang manusia artinya belajar tentang bagaimana manusia bereaksi, apa yang terjadi di dalam otak (serius, kami belajar teori biologisnya), mengapa manusia melakukan apa yang mereka lakukan, bahkan mengapa manusia tidur dan bermimpi. Kami belajar tentang mengkondisikan seseorang, melakukan behavior modification, mempelajari bagaimana manusia belajar hal-hal baru, mengapa manusia melakukan tindakan kriminal dan lain sebagainya.

Dalam empat tahun, bukan hanya pekerjaan HRD yang kami pelajari. Bukan hanya tentang konseling. Bukan hanya tentang merekrut orang. Oleh karena itu, para dosen (yang juga adalah senior-senior kami dalam belajar Psikologi) sering menggoda dengan mengatakan, "kalian ini sedang berobat jalan." Karena inti dari pelajaran Psikologi adalah tentang manusia -- tentang memahami diri sendiri sebagai manusia, (berusaha) memahami orang lain juga sebagai manusia, dan mengembangkan diri, orang lain dan kemanusiaan itu sendiri.

Maka jika ada alumni Psikologi yang bekerja sebagai Fashion Designer, tidak perlu mengatakan "sayang ya ilmu S1 nya." Justru, pekerjakanlah anak-anak Psikologi di rumah desain anda, karena mereka yang paling tahu tentang apa yang membuat manusia tertarik -- dan ketagihan.
Maka jika ada alumni Psikologi yang bekerja di kantor Periklanan, tidak perlu mengatakan dia membuang-buang waktu selama 4 tahun belajar Psikologi. Ada banyak hal yang bisa dilakukan seseorang dengan latar belakang ilmu Psikologi di sebuah kantor iklan.
Maka jika ada alumni Psikologi yang ingin melanjutkan studinya dengan master Komunikasi atau Hubungan Internasional, tidak perlu mengatakan bahwa mereka salah jurusan. Justru, terima mereka di fakultas tersebut dan lihat apa yang dapat mereka sumbangkan dalam memperkaya sudut pandang rekan-rekan sekelasnya melalui apa yang telah mereka pelajari tentang manusia.

#2 Tentang seni dan latihan observasi. Oke, saya mengerti bahwa ada banyak orang yang terpesona (Dan tidak sedikit juga yang mencibir) tentang mahasiswa / alumni Psikologi yang bisa "membaca orang". Maaf kalau tulisan ini lantas menghancurkan fantasi indah tentang adanya sebuah cabang ilmu yang dapat mengajarkan kemampuan untuk mengetahui sifat dan karakteristik manusia dalam waktu singkat. Manusia bisa dibilang makhluk paling kompleks yang ada di bumi ini. Segala sesuatu tentang manusia rumit adanya dan sulit dimengerti.

Asal-usul manusia? Mmm-hmm. Ada banyak teori tentang itu, mulai dari yang paling biasa didengar (Teori Evolusi Darwin, misalnya) hingga yang kedengarannya paling abstrak (Teori Ellis Silver tentang bumi sebagai planet penjara, dan manusia dibawa ke sini oleh alien yang kemungkinan besar berasal dari Alpha Centauri, sistem bintang terdekat dengan sistem tata surya bumi. Dibuktikan dengan sakit punggung yang diderita hampir semua orang di bumi pada suatu masa dalam kehidupannya, kesulitan melahirkan secara normal dan kecenderungan untuk tidak menyukai makanan yang disediakan secara alami oleh bumi. Semuanya adalah bukti evolusi, dan usaha manusia untuk bertahan hidup di tempat yang bukan habitat aslinya). Semuanya masih terbuka untuk debat.

Hubungan antar manusia? Yap, bisakah ada yang lebih rumit dari itu? Ada hubungan antar anggota keluarga, hubungan sosial antar jenis kelamin atau dengan sesama jenis kelamin, hubungan sosial antara orang-orang dengan jabatan berbeda; belum lagi ditambah dengan selusin peraturan berbeda menurut masing-masing budaya dan adat setempat.

Kompleks sekali, kan? Manusia tidak semudah itu "dibaca".

Tapi kalau ada satu hal yang mungkin dirasakan oleh sebagian besar alumni Psikologi: kemampuan observasi kami meningkat. Empat tahun di fakultas Psikologi akan menyebabkan hal itu. Kami pada dasarnya dilatih untuk menangkap emotional cue dari orang lain, melalui bahasa tubuh, melalui pemilihan kata dan lain sebagainya. Kesemuanya itu berguna, dan umumnya dengan berjalannya waktu dan "jam terbang", akan menjadi lebih tajam. Namun demikian, observasi hanya dapat memberikan gambaran yang kasar. Melakukannya tidak berarti dalam waktu satu menit memperhatikan seseorang, mahasiswa / alumni Psikologi akan langsung tahu cerita di balik kehidupan orang tersebut, lengkap dengan sifat-sifat dan karakteristiknya yang terdalam. Observasi, jika dilakukan dengan ahli dapat membentuk dugaan-dugaan tertentu, dan dari situ kami dapat berangkat untuk lebih mengenali, memahami dan menentukan cara untuk mendekati seseorang. Itu seni dan kemampuan yang keren, tapi bukan sihir dan jampi-jampi untuk secara instan mengetahui segala sesuatu tentang seseorang sampai ke detil terkecil.

#3 Belajar Psikologi tidak membuatmu kebal pada depresi atau gangguan kejiwaan. Terakhir, tentang ekspektasi tidak masuk akal masyarakat terhadap mahasiswa / alumni Psikologi. Jika suatu saat ada kasus dimana seorang mahasiswa Psikologi melakukan tindakan bunuh diri, atau alumni Psikologi mengalami depresi berat, atau dikabarkan memiliki gangguan bipolar, atau bahkan merupakan seseorang dengan Skizofrenia, apakah Anda akan terkejut? Terkejut karena orang-orang yang mempelajari Psikologi seharusnya tahu cara menghindari dan/atau mengatasi depresi? Terkejut, karena orang-orang yang mempelajari Psikologi seharusnya pekerjaannya termasuk membantu orang-orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri agar merasa lebih baik?

Hanya ini yang bisa saya katakan. Tidak ada seorangpun yang kebal terhadap depresi, gangguan jiwa, atau pemikiran bunuh diri. Tidak seorangpun kebal. Mahasiswa kedokteran atau seorang dokter, sekalipun mengetahui langkah-langkah untuk mencegah penyakit, tidak serta merta kebal terhadap penyakit kan? Mahasiswa / alumni Psikologi hanyalah manusia biasa. Ada juga diantara mereka yang bahkan tidak memahami ketiga hal di atas, malah berperan juga sebagai orang-orang yang mengecilkan makna ilmu Psikologi itu sendiri. 

Pada akhirnya, semua kembali pada masing-masing orang, sebesar apa seseorang ingin memperluas wawasan dan memperdalam pemahamannya masing-masing? Apakah cukup hanya dengan mengenyam pendidikan setinggi mungkin? Atau melengkapinya dengan aplikasi sehari-hari, melatih diri melihat segala sesuatu melalui gambaran yang lebih besar?

2 comments :

Post a Comment