Observasi Amatiran: 10 Tipe Penumpang Gerbong Wanita KRL Commuter Line
Rey Lasano
5:37:00 PM
![]() | ||
| Gambar dari sini
Sebagai AnKer (AnakKereta) masa kini, udah semacam makanan hari-hari gw berjuang bersama para AnKer dan commuters lainnya untuk sekedar nitip kaki di KRL Commuter Line (kalo hoki bisa juga sekali-sekali nitip pantat di kursi). Rute hari-hari gw adalah KRL Bekasi - Kota, transit di Manggarai, lanjut (Bogor-Tanah Abang), turun di Sudirman, dan sebaliknya untuk rute pulang.
Hari Kamis lalu (12/6), sekitar jam 19.30 dengan riang gembira gw melipir ke Stasiun Sudirman. Kereta menuju Bogor baru aja lewat di depan mata, tapi gw berpikir 'ga apa-apa lah, mungkin kereta berikutnya bisa lebih lowong (terus bisa nitip pantat 8 menit dari Sudirman ke Manggarai sebelum berperang buat naik kereta Bekasi)'. Tapi apa daya, harapan tinggal harapan. Setelah setengah jam nongkrong di Sudirman, gw mulai curiga. Apalagi waktu melirik ke belakang gw dan ternyata sudah ada 4 lapisan antrian pasukan AnKer yang terbentuk.
Tapi akhirnya, kereta pun datang dan dengan dorongan 4 lapis pasukan, gw pun berhasil masuk ke kereta, gerbong 1 yang adalah gerbong khusus wanita. Kondisinya kurang lebih macam gini:
1. Tipe Pertapa
Tipe ini langsung melakukan meditasi dan relaksasi di dalam kereta. Tarik nafas, hembuskan, tarik nafas, hembuskan. Ciri-ciri tipe ini adalah memejamkan mata, tenang, nggak celingak-celinguk, mendengarkan musik dan terlihat menghitung nafas. Tipe ini tipe pasif, anteng dan kalem. Kalau ada yang nggak sengaja injek kaki, atau narik jilbab atau nyikut pinggang, umumnya tipe ini nggak terganggu. Alisnya berkerut sedikit, kalau parah bisa juga sampai melotot, tapi umumnya segera kembali ke mode pertapa nya. Tipe yang bikin gw salut. Gambar dari sini.
2. Tipe CLC (Commuterline Lawak Club)
Tipe ini riang gembira, selalu menemukan lelucon atau hal-hal yang bisa dikomentari dengan komentar lucu. Hobinya tertawa terbahak-bahak, sambil ngajakin yang lain ikut ngakak juga, meskipun penumpang lain sekarat dengan asupan oksigen yang hanya cukup untuk bernafas pelan -- sama sekali ga cukup buat dipakai ngakak berjamaah. Semuanya dibawa bercanda sama tipe ini, kereta mogok aja diketawain sama dia. Tipe ini setengah disukai, setengah dibenci. Yang suka bisa ikut-ikutan jadi CLC, yang nggak suka biasanya keki setengah mati, karena suara besar dan lelucon
3. Tipe Revolusioner
Tipe ini pejuang rakyat, punya visi-misi untuk memperjuangkan hak rakyat commuterline, hak atas udara segar dan hak atas informasi. Tekniknya macem-macem, mulai dari intervensi damai (manggil-manggil mas-mas security. "Mas, ada apa nih mas? Mas, ada apa nih?"), mengancam ("Mas, WOI MAS PURA-PURA BUDEK YA?? Ntar budek beneran loh!) dan mengancam sekali lagi ("Mas, ada apa niih?? Mau dikeroyok sama semuanya? Ha!?). Ketika semua ini tak berhasil juga, mulailah para tipe ini ngerajuk berjamaah. Segala macam rajukan dikeluarkan, mulai dari kepanasan (biar dibukain pintu -- ditolak mentah-mentah karena hari itu cuaca sedang tak bersahabat), kaki nggak bisa nafas (maksud ngana, bu?), hingga rajukan tentang bagaimana mereka membawa ASI yang harus segera disetor di kulkas. Tipe ini sesungguhnya bisa masuk ke tipe CLC juga, sebab mereka secara nggak sadar suka bikin yang lain ngakak. Ketika alasan ASI pun tak mampu melembutkan hati masinis untuk membukakan pintu, tipe ini berubah mode jadi warrior: gebuk-gebuk kaca, jendela, pintu dan benda mati lainnya yang bisa digebuk, untung ga sampe gebukin orang. Setelah diminta istighfar dan/atau bersabar, tipe ini biasanya anteng sejenak, lalu mulai lagi cycle nya dari mengancam mas-mas security dan masinis yang malang.
4. Tipe Ramah Tipe ini sabar, selalu berusaha ngajakin orang lain di dekatnya ngobrol, makin lama makin banyak yang dia ajak ngobrol dan nimbrung bareng, lama-lama bisa jadi arisan. Tipe Ramah mencari informasi dengan bertanya kiri-kanan, atau dengan menawarkan gosip terkini untuk sekedar mengurangi tekanan emosi di dalam kereta. Suka nggak sadar kalau orang lain di sebelahnya lagi nggak pingin ngobrol, mungkin saking terlalu ramah nya.
5. Tipe Intelijen
Tipe ini diem-diem mencari informasi. Mereka terus pegang handphone, paling mungkin buka twitter atau BBM buat cari-cari info tentang apa yang sedang terjadi. Biasanya nggak bilang-bilang, kecuali ditanya sama si Ramah. Umumnya mereka nggak pelit bagi informasi, cuma perlu ada yang inisiatif duluan buat nanya. Tipe ini mantengin timeline nya @commuterline, sekali-sekali mengerutkan kening, menggumamkan "ck." atau garuk-garuk kepala. 6. Tipe Eksis Bah. Tipe ini paling gampang dikenalin, pemirsa. Tipe ini update status di semua media sosial yang dia punya, FB, Twitter, Instagram, Path, BBM, Line, Whatsapp dan lain sebagainya. Ada juga yang melengkapi dengan foto (apa yang bisa difoto, lautan kepala gitu padahal), buat mereka yang penting eksis broh. Kisaran status bisa mulai dari 'lemotz', 'help', 'trapped (tambahkan sebuah emoticon di sini)', PT KAI bang*at dan lain sebagainya. Mengecek like, share, retweet dan replies setiap saat, sepertinya malah senang kereta mogok karena punya sesuatu untuk dibahas di media sosial. Tipe yang sebetulnya penting perannya supaya kerabat, teman dan juga petugas yang bertanggungjawab lebih aware dengan mogok nya kereta. Mereka sungguh tipe yang berjasa. 7. Tipe Aku Rapopo Hhh. Gw kehilangan kata buat tipe ini. Antara mereka emang orangnya welas asih dan sabar, atau emang membiarkan orang mem-bully mereka tanpa perlawanan berarti. Tipe ini berkali-kali diinjek kakinya (biasanya sih sama orang yang sama), disikut, kena sabetan rambut atau scarf dan lain sebagainya. Mereka cenderung pasrah, diam saja dan tidak berkata apa-apa, padahal muka keliatan banget kesakitan. Ketika tipe ini akhirnya merasa disiksa dan mencoba menyampaikan pada si penyiksa, umumnya mereka dimarahin balik; "Yeee mbak, penuh gini gimana nggak keinjek! Gitu aja protes. Ga usah naik kereta, wooo!", mereka kemudian hanya tersenyum dan tertunduk. Gambar Cony Rapopo dari sini.
8. Tipe Ga Tau Diri
Yang ini juga keliatan banget dan gampang dikenalin. Tipe yang gelisah gerak kanan-kiri depan-belakang, celingak-celinguk, ngedumel, dan bahkan garuk-garuk (padahal waktu ga ada open space gitu, waktu dia garuk kaki, kaki orang lain juga ikut kegaruk), kalo udah gatel, gatelnya permanen, setiap semenit sekali garuk-garuk. Tipe ini juga yang biasanya maksa nitip pantat, padahal setting-an kursi buat 7 orang itu udah diisi 8 orang. Alesannya biasanya karena yang duduk kecil-kecil, atau dia juga udah bayar tiket. Tipe ini juga bisa-bisanya jongkok di tengah-tengah lautan manusia, demi kenyamanan tubuh sendiri. Termasuk dalam tipe ini juga orang yang nginjek kaki orang lain berkali-kali, padahal udah tau di situ ada kaki. Ckckckck. 9. Tipe Kombinasi Tipe ini kombinasi macam-macam tipe yang sudah disebut di atas. Berdasarkan observasi gw, Kamis lalu yang paling kelihatan adalah tipe Pertapa-Ga tau diri. Setelah bertapa dan nggak membuahkan hasil, mereka kemudian frustrasi dan mulai berjongkok, mungkin mau lanjut bertapa pakai pose lotus. Ada juga kombinasi tipe Intelijen-Dauntless. Setelah dapet info kalau sesama intel dan dauntless (lihat tipe berikut) dari gerbong sebelah berhasil loncat, tipe ini pun ingin melakukannya juga di gerbong wanita. Yang paling kasihan tipe ramah-rapopo. Udah niatnya baik mau beramah-tamah, apa boleh buat dia di bully juga.
10. Bonus: Tipe Dauntless
Dauntless dalam novel Veronica Roth, Divergent adalah jenis manusia pemberani, penggoda maut, daredevil, hobinya membahayakan diri sendiri untuk membuktikan kekuatannya. Tipe ini nggak ada di gerbong wanita, adanya di gerbong sebelah, gerbong campuran. Tipe ini mencoba berteriak agar masinis membukakan pintu kereta, tujuannya hanya satu: mereka mau keluar dan mencari alternatif lain, daripada stuck tempel-tempelan sama orang lain macam puzzle manusia di dalam gerbong kereta selama satu jam. Ketika tidak digubris juga, keluarlah sifat alami tipe ini. Mereka membuka paksa pintu-pintu kereta dan terjun ke kegelapan rel tanpa adanya peron -- atau bahkan penerangan selain lampu di dalam kereta. Gambar dari sini.
Gw kayaknya tipe kombinasi -- Intelijen-Dauntless. Cari info dulu dan akhirnya melakukan loncatan akbar keluar kereta. Apa boleh buat, ini namanya survival of the fittest bahahaha. Kalau kalian, kira-kira tipe apa? |
5 Minutes Reading: On Falling in Love
Rey Lasano
1:19:00 PM
Friday morning, which I started with half energy -- spending this week trying to figure out if actually I am standing on the right path, only to find that I won't figure it out in a matter of a week anyway.I woke up early and 60 minutes later found myself in the station, waiting for my daily train. I let my eyes wandered, and my gaze fixed upon this elderly guy, almost bald, his remaining hair and eyebrows look more like silver than white. He wore glasses with a black frame, and thick lenses. He had fair skin and small eyes. If I have to make a guess, he was probably around 60, he had this oriental look on him. He wore a white and green striped polo shirt, and a dark green trousers.
What caught my eyes was because he walked so slowly, if not with some difficulties, his hand slightly shaking, his posture was somehow crooked, and there was a very familiar markings, a unique one in the way he walked that instantly reminded me of my late father, a stroke survivor. Or, he could be in early stage of Parkinson disease. Or, it's just aging that's happening to him.
I watched him until Cindy called me on the phone and then I stopped staring (note to self: staring is rude, stop it). I listened to her telling stories about her morning and then my train arrived, so I hang up. Even before the train fully stopped in front of me, I could see what has become of it: a sardine tin. And everyone insides were sardines, cramped together inside a tin. There is just no way anyone could enter that train, no one supposed to want to ride on that train. I decided that I love my life so much so I opted to wait for the next train.
As I wait, I looked around again and there he was, that elderly guy again! Let's call him Kenzo from now on, for the sake of simplicity. Mr. Kenzo was standing there waiting for another train, but he was not alone. Somebody else was holding his hands, steadying him, helping him stand firmly. He smiled so warmly to the person standing by his side, a smile that makes me smile myself.
The other person was a woman, roughly the same age with Mr. Kenzo, but unlike him, she still still a lot of hair and it was black. She wore white shirt and a dark green trousers, matching Mr. Kenzo's.
She looked like she was talking to Mr. Kenzo and the two of them just seems like enjoying each other's company so much. I stood close enough to them, but did not hear any sound. They were gazing at each other, smiling, whispering sometimes, she was caressing his hands, he was staring at the station's make shift roof, mouth half open, enjoying the soft orange sunlight above him, and smiling with his eyes. They stood very closely to each other, and even when they made no sound, I felt like I'm witnessing a very intimate conversation.
The atmosphere around them was so warm and calm, so different with the rushing atmosphere around other people, some with visible frustration over late and overcrowded trains, and strangely I found myself physically drawn towards them. It is as if I can also taste the warmth they share if I stood close enough.
I thought about my mom and dad. I thought about what my best friend's mom told me a month ago, that when lovebirds lose its' couple, she / he will just slowly losing their will to live too, the literally literal meaning of "I can't live where you do not exist" -- a thought so unreal for me, but makes a little sense when I see these two persons. I was a little bit drowned in those thoughts until the next train arrived.
I stepped into the train and they were behind me. No more seat available, so we stood there. I remember wishing with all my heart that someone will give his seat to Mr. Kenzo. But Mr. Kenzo -- unlike most elderly people I saw on the train, he didn't look around with pleading eyes, he was just too preoccupied with the lady who still holding his hand, steadying him by his elbow.
And then somebody stood up, a gentleman and gave his seat. Mr. Kenzo thanked him in a clear voice, smiled and sat. I smiled-- I just cant help it and noticed that the man sitting in front of me was staring at me and he smiled too. Soon, the woman beside him smiled too and then offered her seat for Mr. Kenzo's lady and she sat, after thanking that woman. The train moved, people come in and out and somehow I ended up sitting beside Mr. Kenzo. He was calmly looking around, seemed interested with the trains interiors.
Then we arrived at a very crowded station and so many people rushed inside, blocking his view of her Lady Kenzo, and it was then when he looked agitated. He kept searching for the face of Lady Kenzo behind a crowd that standing in front of him, smiling when he got a glimpse of her and staring to just one point: where she sat.
Some more stations and then I heard a clear voice calling, "Pa, we're here." Over and over again, and Mr. Kenzo's eyes lit up and he smiled again. When the train stopped, people made way for Mr. Kenzo and the last thing I saw before the train doors shut was both of them, hand-in-hand, stepped out of the train.
Intimate conversations with no sound, attached to each other, seeing a dear person in front of us that weak legs and overcrowded train doesn't really matter, supporting each other when our old bodies started to give up on us,
When I grow old, will I still be able to fall in love the way they do?
![]() |
| Picture from here |
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)






No comments :
Post a Comment