Showing posts with label Travel. Show all posts
Showing posts with label Travel. Show all posts

Mendaki Papandayan

Pada dasarnya, gue ini emang anak alam. Gunung, pantai, danau -- apapun yang judulnya bertualang di alam bebas umumnya membuat gue bersemangat dan tertarik. Rasanya seperti di rumah sendiri kalau berada di alam, dan banyak hal yang bisa ditemukan dalam perjalanan menjelajah alam.


Entah sejak kapan, gue merasa ada sesuatu yang lebih selain sekedar menikmati siluet hangat matahari terbenam, atau sensasi geli karena pasir dan ombak yang bermain di kaki, atau bau rumput dan daun basah di gunung. Dibalik semuanya itu selalu ada momen gue bisa mensyukuri apa yang ada, merasa disapa Tuhan lewat pemandangan-pemandangan itu dan selalu ada refleksi ke dalam diri sendiri yang bisa dilakukan, setiap kali gue hiking, naik gunung, atau berenang di pantai. Gue rasa setiap orang memang butuh channel sendiri untuk berefleksi, meditasi atau merenungkan ulang kehidupan, dengan caranya masing-masing. Karena tanpa itu, ribuan momen dan hal-hal yang terjadi dalam hidup akan lewat begitu saja, tanpa kita bertumbuh melaluinya. Sibuk sih, setiap hari. Jadi nggak ada waktu untuk berpikir mendalam tentang hidup. Bertualang di alam memaksa gue untuk hening sejenak, dan belajar mendengar. Menutup mata dan mencoba mendengar suara detak jantung sendiri setelah susah payah mendaki gunung. Menghirup nafas dalam-dalam dan mencoba mendengar suara sebenarnya dari ombak yang pecah di pantai, mencoba tekan tombol mute untuk suara-suara lain, baik itu suara pikiran sendiri, suara pedagang yang menjajakan jajanan, atau suara teman-teman yang riuh bermain air. Momen-momen seperti itu biasanya jadi saat-saat gue bisa kembali membulatkan tekad, balik lagi, ke track yang bener kalau selama ini ternyata sudah melenceng jauh. Momen-momen yang gue harap bisa terjadi lebih sering.

Perjalanan alam yang jadi highlight tahun lalu adalah mendaki Papandayan. Gue suka dihina-hina kalau menyebut Papandayan sebagai gunung. Kata banyak orang, "Papandayan mah bukit!". Tapi berhubung Papandayan itu tingginya 2.665 meter, pernah meletus dan menghancurkan 40 desa juga menewaskan 2.957 orang di tahun 1772, dan dinyatakan masih aktif dengan kawah dan lubang magma yang dapat dengan mudah terlihat -- yak, Papandayan sangat memenuhi syarat untuk disebut sebagai gunung. Maaf saudara-saudari di luar sana yang kukuh dengan pendirian bahwa Papandayan itu bukit, tapi bukit nggak meletus, percayalah.

yang begini dibilang bukit? Bercanda ya?
Setelah berunding dengan Cinday dan Pingi, akhirnya diputuskan Desember 2014 lalu kami akan mendaki Gunung Papandayan. Ini pendakian Papandayan yang pertama kalinya buat gue dan mungkin yang ke-entah-berapa-belas-kalinya bagi Cinday dan Pingi. Menganut agama the more the merrier, kami menyeret Pilip, JD (bacanya Jeydih), dan Herman untuk meramaikan pendakian (baca: memaksa pria-pria ini jadi porter. Ha-ha).

Gue inget hari itu, 11 Desember 2014, ada banyak hal yang terjadi sekaligus. Ada seseorang yang penting yang lagi liburan di Jakarta dan sebisa mungkin gue pengen menghabiskan waktu bersama anak ini. Maklum ya bapak-ibu, kalau lagi nggak di Jakarta, orangnya jauh dan secara fisik nggak bisa dijangkau. Jadi gue mengiyakan ajakannya untuk melewati siang bersama sebelum sore nanti meluncur ke Semanggi untuk bertemu Cinday cs, naik bus ke Kampung Rambutan, tidur di perjalanan dan bangun-bangun sudah di Garut. Itu rencana sempurna gue. Tapi namanya juga hidup. Hal yang tidak terduga bisa terjadi kapan saja.

Singkat cerita, rencana melewati siang merembet jadi melewati sore juga, dan gue sukses dicerca oleh Cinday. Waktu akhirnya menyusul ke Kampung Rambutan, Cinday dan Pilip sih kelihatan banget capeknya, dengan JD berusaha tetap menceriakan semua orang, padahal dia yang paling capek karena menunggu gue yang nggak tau diri ini di Semanggi dari jam 4 sore (JD, besar upahmu di surga nak. Maafkan saya yang khilaf ini). Pingi dan Herman juga belum sampai, karena stuck dengan kisah ban motor bocor dan bus yang tidak kunjung datang. Setelah menunggu yang rasanya berabad-abad, berusaha menceriakan Cinday dan Pilip, dipelototin Pilip karena berani-beraninya nge-charge HP di counter pulsa di terminal, beli cemilan bersama JD di Indomaret dan terheran-heran kenapa di terminal nggak ada ATM, Pingi dan Herman akhirnya sampai. Setelah merapikan tas dan memastikan tidak ada yang tertinggal kami akhirnya naik bus menuju Garut dan resmi memulai perjalanan.

Gue kasih tau ya, bus Garut berhenti di beberapa titik dan pedagang-pedagang tahu, jeruk, tissue dan lain sebagainya melompat ke dalam bus, berteriak dengan sangat keras dan bahkan menyalakan senter supaya para penumpang bangun. Gue butuh waktu beberapa saat untuk mencerna apa maksudnya orang-orang ini bawa-bawa senter dan menyorotkannya ke wajah orang-orang yang tidur. JD yang duduk di sebelah gue malah lebih terganggu karena bau rokok dari smoking room (iya, busnya punya smoking room) di belakang bus. Dia memutuskan untuk beli jeruk demi meng-counter bau rokok. 'Jey, meskipun elu nggak nyium bau rokoknya, efek untuk perokok pasif yang elu benci itu kan nggak hilang.............' begitu pikir gue saat itu, tapi berhubung tampang JD udah senewen, gue memutuskan untuk mendukung saja semangat berapi-apinya untuk mengupas jeruk. Daripada ditimpuk jeruk kan.

Pukul 2 pagi kami sampai di Garut. Bergabung dengan para pendaki lainnya, kami menyewa angkot. Selanjutnya harus menyewa mobil pick-up bak terbuka dan gue menikmati angin subuh yang dingin dan langit yang sedikit mendung hari itu. Sempat terpikir, kalau ibunda melihat putrinya naik mobil model begini di bak-nya, dijamin langsung didaulat untuk turun. Si mami bakal dengan segera mengkategorikan duduk-duduk di pick-up bak terbuka sebagai kegiatan radikal yang meneriakkan kata "pemberontakan" dan "berandal" dengan keras. Tapi sungguh, tidak seburuk itu. Lebih banyak sisi lucu dan serunya. Lagipula, untuk melawan dingin memang perlu banyak-banyak tertawa.

selamat pagi dari kaki Papandayan
Hujan mengawali pagi kami dan sambil menyeruput kopi dan teh, kami memandangi awan tebal di atas gunung, awan yang membawa hujan. Di dekat kami ada kelompok partai politik yang dengan bersemangat mengadakan apel di tengah-tengah hujan. Semakin keras komandan upacara berpidato, semakin deras hujannya. Karena tidak tahan, para peserta membubarkan diri. Kalau di Paskibra, itu namanya bunuh diri. Anggota pasukan hanya dapat bergerak dengan mematuhi perintah komandan. Jadi kalau hujan dan komandan tidak memerintahkan untuk bubar, yasudah nikmati saja guyuran hujan. dan benar saja, si komandan yang ditinggal di lapangan langsung ngamuk, memerintahkan dengan segera supaya semua peserta kembali ke lapangan. Gue dan yang lain kontan ngakak. Kasihan juga sih, sebagian dari mereka berdiri sampai gemetaran.

Gue lupa siapa yang ngomong. Mungkin Pingi, mungkin juga Herman. Mereka menyusun teori bahwa kelompok parpol ini adalah pembawa hujan. Kemanapun mereka pergi, awan hujan akan mengikuti mereka dan ada baiknya kami menghindari bepergian bersama kelompok ini. Awalnya gue menganggap teori itu bercandaan di pagi hari. Tapi betulan, setelah kelompok parpol itu akhirnya menyelesaikan upacara, matahari mulai menampakkan diri dan langit perlahan-lahan jadi cerah. Kami mempersiapkan diri, mengangkut tas, mengambil foto-foto, menyeruput sedikit minuman hangat lagi dan mulai mendaki. Pingi dan Cinday sudah cerita, Gunung Papandayan itu bisa didaki dengan cukup cepat, berbeda dengan Gunung Gede. Tapi pendakian bisa lebih lama karena Papandayan menawarkan pemandangan cantik kawah-kawah, hutan-hutan hijau, hutan-hutan mati dan pemandangan menarik lainnya. Beberapa menit berjalan saja gue udah langsung paham maksud Cinday dan Pingi.

Janji teman seperjalanan untuk melibatkan sebanyak mungkin tawa dan keceriaan
Pemandangan awal yang disuguhkan oleh Gunung Papandayan adalah batu-batu besar. Jalannya dipenuhi dengan bebatuan, semuanya warnanya kuning-cokelat dibingkai campuran kabut dan asap dari kawah-kawah di bawah kami. Jalannya belum terlalu menanjak.


Gue memang baru dua kali mendaki gunung. Pendakian pertama dilakukan di Gunung Gede, untuk merayakan ulang tahun ke-23. Saat itu tim pendakian hanya beranggotakan tiga orang. Ternyata, memang lebih seru mendakai berama-ramai seperti ini. Gue selalu berpikir kalau mendaki gunung itu betul-betul seperti melihat hidup. Perjalanannya tetap sendiri-sendiri, masing-masing membawa beban sendiri-sendiri, tapi seperti yang Cinday bilang, "gunung itu tetap harus didaki dalam kelompok." Seperti halnya hidup, yang tidak bisa dijalani sendirian. Manusia itu makhluk ringkih sih, kita mah apa dibanding segala kekuatan besar lainnya yang mengelilingi kita.

Herman dan Pingi percaya gue bisa akrobat cium lutut sambil iket sepatu.
Mereka juga percaya kami cocok jadi model untuk poster film.
Yang gue syukuri adalah karena perjalanan ini dilakukan bersama teman-teman yang stok energi dan keceriaannya luar biasa banyaknya. Nggak ada yang bilang mendaki gunung itu mudah, bahkan gunung dengan medan cenderung "rata" seperti Papandayan sekalipun. Jadi kalau mendaki gunung dengan geng yang grumpy dan mudah terusik dengan hal-hal yang membuat tidak nyaman (keringat, bawaan yang berat, jalan yang menanjak, matahari yang terlalu menyengat dan lain sebagainya), perjalanan akan sulit dinikmati. Kalau gue ingat-ingat lagi sekarang, banyak hal-hal konyol yang kami lakukan selagi menanjak. Mendiskusikan kemungkinan kami dikejar oleh si parpol pembawa hujan, mendiskusikan kehidupan percintaan selagi terengah-engah menanjaki jalan berbatu,  berdebat apakah yang warnanya putih-putih itu asap, kabut atau awan (??) sampai menggoda pasangan dalam tim kami yang tampaknya lagi latihan pose foto pre-wedding.

Adalah Pingi, yang sekali dalam setahun bisa ambil pose merenung dengan serius macam ini
Setelah berjalan hampir satu jam, kami tiba di kawasan kawah yang mengeluarkan bau sulfur yang menyengat. Awalnya gue pikir itu bau telur rebus, lalu "mungkin telurnya kelamaan direbus ya. Baunya jadi aneh.", lalu "sebentar, ini macam bau telur busuk." Lalu Herman dengan kalemnya menjelaskan, "Ini bau belerang. Ga enak kan baunya? Itu pertanda nggak bagus buat badan. Marilah bergegas menyeberangi area ini." *pasang muka cool*

.....Ngomongnya dari tadi bisa kali Man.

Setelah melewati kawah-kawah belerang, kami mulai disuguhi pemandangan hijau. Gue udah mulai bertanya-tanya, ini gunung apa tumpukan batu? Daritadi yang kelihatan hanya batu-batu berbagai jenis, bentuk dan ukuran. Maka ketika mata menangkap barisan pepohonan, kami berhenti lagi untuk mengambil foto. Gue rasa, perjalanan pendakian Papandayan ini lebih cocok disebut hunting foto daripada mountain climbing.

Lama-lama encok si Herman
JD udah siap guyur orang pake air. Dia lupa nggak ada yang lagi ulang tahun.
Hal unik yang nggak gue temukan dalam perjalanan sebelumnya adalah bagaimana semua orang menikmati kegiatan masing-masing sambil tetap berada di dalam kelompok. Pingi dan Herman berbagi musik, Cinday dan Pilip berbagi cinta *eh*, entahlah mungkin mereka mendiskusikan prospek Gunung Papandayan sebagai tempat untuk prewedding photoshoot mereka, dan JD si ahli biologi sibuk mengamati segala jenis hewan dan tumbuhan yang ditemuinya (kalau nggak dilarang gue rasa dia akan ngantongin semua sampel tanah, batu, daun dan lain sebagainya).

Gue? Menghirup rakus udara segar pegunungan dan memikirkan tentang hal-hal yang terjadi sepanjang tahun 2014. 2014 banyak memberi ruang buat gue mengeksplor diri sendiri, mempertanyakan hal-hal yang selama ini gue terima aja, memberanikan diri melihat lebih dalam dan mengakui bahwa banyak hal yang selama ini gue take for granted. Persahabatan, salah satunya. Saking terbiasanya dengan manusia-manusia luar biasa di sekitar gue, gue suka lupa kalau mereka mungkin nggak akan ada di sini selamanya. Saking terbiasanya dengan kehadiran seseorang, gue lupa untuk memberitahu mereka kalau dunia gue nggak akan sama kalau mereka nggak ada.


Karena gunung selalu menarik keluar refleksi macam begini, persiapan mental jadi lebih diperlukan dibanding ketika pergi main ke pantai. Gue inget waktu pendakian pertama kali ke Gede, salah satu ranger di sana ngomong begini ketika tahu itu perjalanan pendakian pertama, "If you do it right, in front of the mountain you will lay open like a book. An open book for yourself."


Mungkin itu sihirnya gunung buat gue ya. Belum tentu juga sih yang lain merasakan hal yang sama. Sementara itu, perjalanan semakin menanjak. Batu-batuan dan kawah sekarang sudah digantikan dengan pemandangan hijau, tanah yang gue injak bukan lagi tanah yang kering kecokelatan, tapi sudah rumput-rumput hijau. Rasanya seperti sedang menembus pedesaan. Gw spot JD bertampang seperti ini dan langsung tertawa. JD memang cocoknya berada dikelilingi alam seperti ini ya.


Gue inget di satu titik di pendakian Papandayan Desember lalu, gue bertanya-tanya dalam hati apakah jalur kami ini adalah jalur yang benar. Tanjakannya mulai terasa berat, semuanya sudah berhenti haha-hihi sana-sini, kaki JD sudah kram beberapa kali dan pada dasarnya semua orang sudah lelah. Gue beberapa kali menangkap ekspresi wajah ragu dari Herman, yang memimpin jalan hari itu, tapi dia mencoba stay cool aja dan memutarkan lagu Dust in the Wind nya Kansas.


Karena udah capek banget, biar nggak menjadi-jadi gue mencoba memusatkan konsenterasi dengan mendengarkan lirik lagu yang diputar Herman keras-keras dari hapenya. "I close my eyes, only for a moment and the moment's gone. All my dreams, pass before my eyes a curiosity." Lalu mendadak disuguhin pemandangan ini.


Gue berhenti sebentar, menutup mata, mendengarkan bunyi jantung yang berdebar keras karena habis menaiki tanjakan panjang, mendengarkan suara-suara di sekitar gue dan tiba-tiba merasa memahami lirik lagunya si Kansas itu. "close my eyes, only for a moment and the moment's gone." Gue mencoba mengingat, momen apa ya, di 2014 yang rasanya lewat begitu saja saat gw menutup mata? Lalu yang terpikir malah, rasa-rasanya 2014 lewat begitu saja. Saking cepetnya waktu berlalu. Gue membuka mata dan mikir, oke cukup perenungannya. Malah jadi depresi. Hahahaha.

Ketika akhirnya sampai di Pondok Seladah, kami mendirikan tenda dan mulai memasak. Pondok Seladah ini daerah lembahan, dan dinginnya ampun-ampunan. Bisa gemetar sampai ke tulang. Suhunya sih berkisar 15-17 celcius, tapi ketika angin bertiup... mak. Pilihan paling logis jelas adalah meringkuk dalam sleeping bag yang hangat di tenda. Tapi ini gunung, di malam hari. Ada satu pemandangan yang demi apapun nggak akan gue lewatkan: bintang. Jika cuaca cerah, berada di ketinggian seperti ini, jauh dari lampu-lampu kota dan polusi, langit akan memamerkan starry night show yang tidak ditemukan di tempat lain. Gue bergabung dengan Pingi dan Herman yang merapatkan diri di dekat api kecil parafin, sambil membawa sebungkus marshmallow untuk dicemil ramai-ramai.

Baru tau kalau marshmallow dan malam berbintang adalah pasangan yang romantis
Ketika mendongak, gue bisa melihat ribuan bintang. Ribuan bintang memenuhi langit seperti berdesak-desakan. Dan gue nggak pernah nggak terpesona dengan langit berbintang. Langit berbintang adalah lukisan alam yang paling gue suka, nomor satu, diikuti pemandangan sunset dan hujan. Sayangnya kamera hape nggak cukup canggih untuk menangkap masterpiece di langit Papandayan malam itu, dari ketinggian 2.400 mdpl. Herman berbisik pelan, "bersyukurlah karena kita disuguhi pemandangan ini, padahal dari pagi tadi langitnya mendung."

Tiruan pemandangan ini, dua malam sebelumnya gue saksikan di langit-langit Planetarium Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Ketika menyaksikan pemandangan aslinya, nggak ada yang lain yang gue harapkan selain bisa teleport orang-orang yang gue sayang untuk berdiri di samping gue malam itu (selain yang udah ada di sana) dan menunjukkan pemandangan itu. Dan untuk berterimakasih kepada mereka karena mereka membuat gue merasa seperti pemandangan ribuan bintang itu: beautiful, precious and loved. Bisa dibilang diantara semua pemandangan indah yang disuguhkan Papandayan, pemandangan langit malamnya adalah pemandangan favorit gue. Setelah menemukan Orion dan Sagitarius (dengan bantuan JD), gue menyerah dengan udara dingin dan kembali ke tenda.

Paginya, kami kembali mendaki, melewati hutan mati dan menuju Tegal Alun, padang Edelweiss di Gunung Papandayan. Pagi ini, karena sudah beristirahat dan sarapan enak, semuanya sedikit lebih bersemangat.

Three musketeers
Gue nggak tahu harus merasa apa soal hutan mati. Di satu sisi, gue bisa bilang itu hutan memang punya pemandangan yang bisa bikin terdiam sesaat. Kesannya misterius dan sunyi. Gue juga paham kenapa hutan mati Papandayan disebut-sebut sebagai "Alpine" nya Indonesia.


Masalahnya, Alpine itu ya meranggas karena musim dingin, yang ini kan karena pohonnya benar-benar sudah mati. Pohon-pohon ini menjadi pohon mati ketika Gunung Papandayan meletus ratusan tahun lalu. Kalau dipikir-pikir, mendadak gue merasa kecil sekali ketika berada dikelilingi pepohonan itu. Mereka sudah ada disana ratusan tahun lalu. Ratusan tahun lalu, seperti apa tanah di tempat ini? Dunia ternyata sudah tua sekali ya.

Happiness is contagious, believe me.
Yang langsung terasa di hutan mati adalah betapa panasnya tempat itu. Gue selalu mengasosiasikan daerah tinggi dengan udara yang bersih dan sejuk, dengan panas matahari yang ditahan oleh rimbunan pohon-pohon. Berhubung pohon disini memang tingal batang, ya apa mau dikata. Setelah puas foto-foto di hutan mati, kami melanjutkan perjalanan. Tujuan akhir dari pendakian Papandayan adalah mencapai Tegal Alun, hamparan Edelweiss seluas 35 hektar. Waktu mendaki Gede dulu, gue nggak mampir ke Surya Kencana, jadi belom sempat melihat seperti apa sih bunga yang disebut-sebut sebagai bunga abadi itu. Jalan menuju Tegal Alun ternyata masih didominasi oleh tanjakan-tanjakan kejam. Di sebagian besar tanjakan itu sudah disediakan tali untuk membantu pendaki, sesuatu yang oleh Pingi disadari sebagai sesuatu yang baru.

Diberkatilah siapapun itu yang menaruh tali disana
Ngomong-ngomong soal pendakian, nyokap adalah orang yang paling nggak rela setiap kali anaknya menggendong ransel. Padahal dia juga mantan MAPALA, dan tahu betul bahwa naik gunung itu nagih, untuk keteduhannya, untuk refleksi yang diberikannya, untuk sensasi nyut-nyutan di kaki, untuk suara detak jantung yang terdengar jelas di telinga, untuk pemandangan awan, bintang, matahari terbit dan untuk persahabatan yang terjalin di antara para pendaki. Tapi pada akhirnya doi selalu mengizinkan sih, karena gue rasa nyokap juga tahu kalau pemandangan seperti ini bukan pemandangan reguler harian, dan kenyataan bahwa kita perlu berjuang untuk melihatnya membuat pemandangan itu berkali-kali lipat lebih worth it untuk dinikmati.


Gue nggak begitu ingat berapa waktu yang dibutuhkan untuk mendaki dari Pondok Seladah - Hutan Mati - Tegal Alun. Yang gue ingat hanya Herman yang mengingatkan kami untuk menambah kecepatan, karena mendadak mendung lagi. Pingi menyebutkan sesuatu tentang "mungkin kelompok partai politik itu udah berkemah di daerah Pondok Seladah. Jadi, naturally, mereka manggil hujan." Gue kok ya antara mau ngakak dan nelangsa juga mendengarnya. Berjalan di medan yang cukup datar, gue tahu Tegal Alun sudah di depan mata ketika Cinday dan Pingi memanggil-manggil gue dengan riang.

Tegal Alun. Edelweiss. Akhirnya.

I felt like running with my arms stretched in here
Bunga Edelweiss ini bunga original pegunungan-pegunungan tinggi seperti Himalaya dan Alpen. Namanya berasal dari bahasa Jerman yang artinya "noble" dan "pure". Mereka disebut-sebut sebagai the star of the snow, karena warnanya yang putih bersih. Di banyak negara, Edelweiss termasuk tanaman yang dilindungi, artinya nggak boleh dipetik dan dibawa turun dari gunung. Katanya, dulu Edelweiss hanya tumbuh di tempat-tempat yang sulit dijangkau oleh manusia.

Star of the Snow
Kami menghabiskan cukup banyak waktu di padang Tegal Alun. Banyak merenung, banyak tertawa, merenung lagi, bahkan Pingi dan Herman sempat-sempatnya photoshoot dengan toga wisuda. Gue baru sadar kalau mereka bawa-bawa toga sampai ke atas. Sungguh berdedikasi.

"Laughter will always be the best medicine"
Ceritanya terharu melihat Pingi dengan toga
Gue mendaki gunung bukan karena ingin dunia -- orang lain melihat gue sebagai pendaki gunung. Gue mendaki gunung justru supaya gue bisa melihat dunia, dari perspektif yang berbeda. Hari itu gue berdiri di depan hamparan Edelweiss, menarik nafas dalam-dalam dan berjanji pada diri sendiri untuk jadi seseorang yang lebih baik lagi begitu turun gunung. Jadi seperti Edelweiss yang bertahan dalam situasi keras, tetap pure  dan jujur pada diri sendiri. Pendakian ini jadi perjalanan penutup 2014 dan saat itu gue merasa 2015 akan jadi tahun yang banyak membawa perubahan, banyak tantangan dan petualangan-petualangan besar. Gugup? Nggak usah ditanya. Perubahan bukan hal yang mudah, tapi gue percaya bahwa ketika diletakkan dalam satu path , God provides you with wings.



 Ketika berjalan turun, tim yang isinya enam orang super ribut mendadak hening. Mungkin itu juga ya salah satu "mantra" nya gunung. Atau mungkin juga semua orang mulai lelah, atau mungkin karena kabut turun perlahan, semuanya mendadak gloomy. Kami kembali dalam keheningan yang tidak biasa, menuju Pondok Seladah, memasak sebentar, menanti hujan berhenti dan berjalan menuruni Gunung Papandayan.

Dan selalu, gue bersyukur.

Can you hear the woods calling?


7 Menit di Langit: Menjejak Langit Cisarua


Photo beautifully captured by Jeddy Prionggo (JP)
 "Dalam diri masing-masing kita terdapat serat-serat angkasa dan debu-debu bintang, sisa-sisa dari penciptaan kita. Kebanyakan orang terlalu sibuk untuk menyadarinya sementara beberapa orang dapat merasakannya lebih kuat dari yang lain. Kesadaran tentang hal itu bertanggung jawab untuk semua keinginan bawah sadar; paling kuat dirasakan oleh kami yang terbang, sebuah hasrat yang mendorong kami untuk memakai sayap-sayap, dan mencoba memahami batas-batas kabur tentang asal-usul kami." -KO Eckland
"Bagaimana mungkin kamu tidak rindu untuk terbang?" Gue rasa hal itu yang paling ingin ditanyakan sama KO Eckland, seorang penerbang, ilustrator dan pecinta musik jazz dari Cleveland, Ohio, melalui kata-katanya di atas. Menurut beliau kita ini memiliki residu komponen-komponen langit, sisa-sisa serat angkasa dan bubuk debu bintang di dalam diri masing-masing. Jadi, wajar jika langit memanggil kita untuk menjelajahinya. Manusia terlalu lama berpijak di tanah, lupa seluas tanah di bumi, seluas itu juga --bahkan mungkin lebih-- cakrawala di atas sana yang dapat dijelajahi.

Setelah pengalaman kabur ke Puncak hari Selasa lalu, rasa-rasanya gue paham sama omongannya si Eckland. Langit, kapanpun dilihat selalu menawarkan pemandangan yang berbeda. Pemandangan anggun matahari terbit atau terbenam, pemandangan langit biru yang cerah atau kelabu berawan, pemandangan langit malam yang kadang berbintang dan kadang tidak.

Gue sering mikir. Apa ya rasanya, bergerak di ruang terbuka itu, waktu kaki nggak menginjak tanah. Apa iya karena takdirnya di tanah, lalu manusia cuma bisa menatapi langit? Waktu masih polos, imajinasi gue sedikit lebih liar. Terinspirasi gula-gula kapas yang nyaris tiap tahun gue makan di PRJ (kalo nggak di PRJ nggak boleh makan gula-gula kapas. Aturan emak-bapak gue dari dulu emang aneh-aneh), gue jadi bertanya-tanya, awan juga bisa dikunyah nggak ya? Bentuknya sama.

Mulailah sindrom penasaran gue dan setelah browsing Internet kanan-kiri, gue menemukan beberapa hal berikut:

Daftar Cara Menjejak Langit

#1 Base Jumping
Foto dari Asosiasi Base Jumping Indonesia
Base Jumping disebut-sebut sebagai salah satu olahraga paling ekstrim. Jumper melompat dari base (yang bisa berupa gedung, tiang, patung atau bangunan lain) tanpa membuka parasut terlebih dahulu. Sebenernya mirip-mirip terjun payung, tapi waktu jatuh bebas (free fall) tanpa parasutnya lebih singkat. Di Indonesia ada Asosiasi Base Jumping dan anggotanya termasuk jumper pertama di Indonesia, Frangky Kowaas dan Petra Mendagi. Foto di atas adalah foto bung Frangky Kowaas yang melompat dari Menara Imperium Kuningan, Jakarta tahun 2009 silam.

#2 Skydiving / Skysurfing
Ini olahraga terjun bebas dari pesawat. Ada free fall dan parasut dibuka di ketinggian tertentu. Jadi untuk sekian menit kita melayang-layang di udara tanpa parasut. Awalnya gue mencari-cari tempat untuk melakukan skydiving. Ada yang mencatat wilayah Bogor dan Lido sebagai arena untuk melakukan skydiving, masalahnya kebanyakan yang melakukan kegiatan ini sudah berlisensi profesional. Gue agak kesulitan menemukan skydiving tandem (melompat bersama orang lain yang sudah ahli melakukan skydiving). Setelah mencari-cari opsi lain gue menemukan ini:

#3 Paragliding (Paralayang)
Beda dengan skydiving yang adrenalinnya diperoleh dari meloncat bebas tanpa parasut untuk waktu tertentu, paralayang menggunakan parasut yang sudah dikembangkan dari awal. Tinggal berlari dan melompat. Buat mencoba paragliding ini gue menghubungi tim MountNear di daerah Puncak. Kalau belum bisa sendiri, kita bisa memilih terbang tandem. Terbang tandem artinya akan ada master paragliding, atau pilotnya yang terbang bersama-sama kita. Kitanya sih duduk aja, anteng.

Beres-beres parasut sebelum terbang (JP)
Paralayang terkenal akan kepraktisan alat-alat yang digunakan. Parasut yang digunakan (parasut utama dan cadangan) dapat dimasukkan ke dalam sebuah ransel yang digendong di punggung. Jadi begitu selesai main, parasutnya bisa langsung dibungkus lagi ke dalam ransel.

Sambil terbang, si pilot tandem ngajakin gue ngobrol. Beliau menjelaskan tentang updraft (gerakan udara ke atas, arus vertikal) yang dibutuhkan saat paragliding agar parasutnya bisa membawa kita terbang ke atas. Waktu gue tanya soal apa si pilot pernah ikutan skydiving, dia langsung ketawa dan bilang kalo nggak berani. Gue yang sempet niat banget mau cobain skydiving pun bertanya, "kang, emang udah berapa lama main paragliding?" si pilot pun menjawab "Udah 14 tahun nih jadi pilot. Ini bulan depan mau ikut kompetisi di Phuket."

14 tahun. Kalau dia aja yang udah 14 tahun jadi pilot paragliding masih nggak berani terjun bebas buat skydiving..... mungkin udah saatnya gue cari tau lebih banyak tentang skydiving itu sendiri. Selagi gue tenggelam dengan pemikiran itu, pilot tandem mulai memutar-mutar parasut, gerakan parsut jadi circling perlahan. Beliau menjelaskan bahwa ini caranya untuk menambah ketinggian dan gue tentu saja semangat karena memang naik semakin tinggi.

Cuma 1 hal: makin naik ke atas makin sulit bernafas. Gue lupa pelajaran IPA zaman SMP yang menjelaskan bahwa di tempat tinggi molekul udara semakin tipis dan jantung akan dipaksa bekerja lebih keras, hasilnya jadi berdebar-debar. Lalu jadi merasa capek, padahal itungannya cuma jadi penumpang yang duduk diam menikmati langit.

Si akang pilot tandem tampaknya menyadari bahwa gue nggak biasa main paragliding, maka beliau pun menyarankan kami landing saja. Gue terbang kurang lebih selama 7 menit. Tadinya waktu dikasih tahu waktu di udara hanya 5-10 menit, gue sempet mikir: cih, sebentar banget dong ya. Ternyata itu semua ada alasannya saudara-saudari. Kalau tidak terbiasa terbang dengan ketinggian seperti itu, maksa untuk berlama-lama terbang justru akan membahayakan diri sendiri.

Terbang. Akhirnya. (JP)
Gue inget banget, angin sejuk Puncak, cuacanya yang berawan, petak-petak perkebunan teh di bawah gue, semuanya itu memberi sensasi tersendiri. Rasanya jelas berbeda dari sekedar mengamati pemandangan dari kaca jendela pesawat. Bagi gue, waktu terbang itu rasanya gue menyatu dengan langit. Meskipun beberapa orang secara spontan nanya, "Bahaya nggak tuh?" atau "Elu nggak takut?" ketika mendengar gue menyampaikan keinginan buat main paragliding, gue nggak bisa bilang ini olahraga memacu adrenalin. Apa mungkin karena gue terbang tandem dan sepenuhnya mempercayakan nyawa gue ke si pilot tandem ya?

Buat gue rasanya bebas dan tenang. Gue jadi sedikit paham keras kepalanya para pilot atau kenapa mereka-mereka yang disebut adrenaline junkie nggak juga berhenti melakukan kegiatan ini. Karena bukan sekedar menantang maut, masbro, mbaksist, ini perihal mendeklarasikan kebebasan dan ketenangan diri sendiri. Ini tentang mengekspresikan rasa ingin tahu dan menembus batas "biasa". Dan selalu, rasa syukur yang mengikuti itu berlimpah-limpah. Bumi Puncak kelihatan jauh lebih cantik dilihat dari atas. Rasanya gue nggak akan melihat Puncak dengan "biasa" lagi sejak diijinkan buat melihat penampakannya dari langit.



Mountnear Paragliding Center
Paramotor & Paragliding Indonesia
mountear.com
Tandem Flight:
Rp 350.000 / flight (+ Rp 100.000 untuk video + foto dengan kamera GoPro)
support@mountnear.com
info@mountnear.com
+62818-14-3508

DISCLAIMER:
Semua foto dan video diambil oleh manusia-manusia gembira dan berbakat: Angelika Cindy W / Jeddy Prionggo / Filipus Prionggo. Kepada mereka gue berhutang semua dokumentasi kegiatan paralayang ini, karena kamera GoPro tim Mountnear diboyong semua untuk kompetisi di Manado, dan gue terlalu nggak percaya dengan tangan sendiri untuk memegang handphone sambil terbang.
Kalau kata Filip (tentang gue ngambil selfie sambil terbang): "Udah dah. Byebye hape. byebye." Mengikuti saran semuanya, gue meninggalkan hape dan berserah sepenuhnya pada tiga orang ini untuk mengabadikan momen-momen selama paralayang di Puncak. Terimakasih banyak ya kalian!


Lukisan Alam Cikondang dan Peradaban Kuno Gunung Padang


Hal traveling itu semacam heroin: sifatnya mengikat lebih dari satu reseptor saraf di seluruh badan, membuat kita percaya sedang dibanjiri hormon endorphin -- membuat tenang, nyaman dan senang, lalu secara ekstrim membuat seseorang ketagihan.

Saya rasa, sedikit banyak persamaan pandangan tentang traveling itu merupakan satu dari banyak hal yang menyatukan saya, C.J dan Iin. Kami berteman sejak zaman SMA, ketika hiburan umumnya terpusat di mall (dan kucing-kucingan dengan satpam karena tidak boleh masuk mall dengan seragam) hingga kini ketika kami hanya akan nge-mall kalau terpaksa.

Melalui masa-masa itu kami sudah survive beberapa trip bersama, konser Sheila On 7 di lapangan sekolah, berjam-jam diskusi tentang kehidupan, berbagai galau nya cinta anak-anak manusia yang memasuki usia early adulthood, sesi makan ramen dan sushi yang sudah tidak terhitung lagi berapa banyaknya dan main Lara Croft: Tomb Raider demi menghibur C.J yang terkapar karena DBD (contoh kurang baik, orang sakit bukannya disuruh istirahat malah dibujuk buat main xD). Perjalanan kali ini artinya bisa berbeda-beda bagi kami. Bisa juga dibilang perayaan ulang tahun saya, bisa juga perjalanan farewell karena C.J akan segera berlayar ke negeri orang. Bisa juga sekedar memenuhi kecanduan jalan kami sih.

Semua berawal ketika saya dan C.J kegirangan melihat sebuah paket tur ke situs megalitikum tertua dan terbesar di Indonesia: Gunung Padang. Konon katanya, situs purbakala yang bentuknya menyerupai piramida ini bisa membuktikan keberadaan peradaban pra-sejarah, bahkan lebih tua dari peradaban Sumeria di Timur Tengah, yang saat ini dipahami sebagai peradaban tertua di dunia. Sebagai anak Sejarah sejati (C.J) dan bolang yang pada dasarnya curious dengan segala sesuatu (saya), kami menyeret Iin yang sebetulnya tidak percaya dengan ilmu Arkeologi sama sekali untuk pergi melihat situs purba ini dengan mata kepala sendiri.

Satu dan lain hal muncul dan membuat kami terlambat memesan paket tur yang dimaksud (cih). Namun akhirnya setelah browsing sana-sini, kami membulatkan tekad untuk pergi bertualang bertiga.

#1 Persiapan Petualangan

Situs Gunung Padang letaknya di Desa Karyamukti, Cianjur. Perjalanan dapat ditempuh menggunakan kendaraan pribadi dan angkutan umum. Saran saya sih, pakai angkutan umum saja. Kecuali kendaraan pribadi kalian tahan jalanan off-road. Dari Jakarta, cara paling mudah dan membahagiakan hidup adalah jelas dengan menggunakan kereta api. Pertama-tama, naik kereta Commuter Line jurusan Bogor lalu turun di stasiun terakhir: stasiun Bogor (Stasiun Jakarta Kota - Stasiun Bogor: Rp 5.000, waktu tempuh 1 jam 20 menit).

Selanjutnya, kita perlu berganti kereta dengan KA Pangrango jurusan Cianjur. Turun di Stasiun Lampegan, satu stasiun sebelum stasiun Cianjur. Harga tiketnya untuk kelas ekonomi Rp 40.000 dan untuk kelas eksekutif Rp 85.000. Perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam.

Kami mempersiapkan dua alternatif untuk mencapai situs Gunung Padang. Alternatif pertama dengan menyewa angkot (katanya Rp 200.000) pulang-pergi. Kalkulasi kami uang itu tidak terlalu mahal jika dibagi bertiga. Alternatif kedua adalah menggunakan ojek dengan harga Rp 100.000 untuk perjalanan pulang pergi ke Lampegan - Gunung Padang - Cianjur, belum termasuk pergi ke Curug Cikondang. Untuk perjalanan pulang, rencananya kami akan naik bus dari Cianjur sampai ke Terminal Kampung Rambutan (Rp 25.000). Ide besar kami setelah melihat foto-foto Curug Cikondang adalah berpiknik di area itu, maka kami membagi tugas. C.J mempersiapkan sarapan, saya mempersiapkan bekal makan siang dan Iin sebagai spesialis cemilan akan menjarah isi kulkas rumahnya (lumpia, brownies Bandung dan pisang keju) untuk meramaikan piknik akbar kami.

#2 Bogor dan Hal-hal Kecil Diantaranya

Serius nih, ini hal paling penting yang perlu diketahui dalam abad ini. Kereta api Pangrango dan Siliwangi yang melayani jurusan Bogor-Cianjur itu kereta yang maiden voyage nya baru dilakukan satu bulan lalu. Singkat cerita, ini trayek kereta baru. Pada e-tiket kereta saya tertulis Bogor - Lampegan yang saat itu saya imani hanya punya satu arti: naik dari stasiun Bogor, turun di stasiun Lampegan. Apa daya, ternyata ada stasiun kecil yang disebut "halte" kereta api Bogor Paledang. Halte Paledang dibangun khusus karena stasiun Bogor sudah tidak memiliki tempat lagi untuk menampung KA Pangrango. Letak halte ini sekitar 200 meter dari stasiun Bogor, letaknya berseberangan dan patokan nya adalah KFC di depan stasiun bogor. Dari samping KFC tinggal berjalan lurus saja untuk mencapai halte Paledang.

Bukan masalah kalau kami tahu dari awal. Masalah besar kalau kami baru sampai di Bogor pukul 07.45, 10 menit sebelum waktu keberangkatan KA Pangrango. Saya, C.J dan Iin saling berpandangan cengo waktu petugas loket stasiun Bogor menjelaskan sambil lalu tentang keberadaan halte Paledang. Kami berlari-lari setelah itu, karena meskipun menyenangkan berada di kota sejuk macam Bogor, kurang lucu nih kalau akhirnya kami piknik di kebun raya. C.J sempat tersandung dan jatuh di dekat KFC, menyisakan battlescar perjalanan ke Gunung Padang.

KA Pangrango
Perjalanan sampai ke Lampegan ditempuh dalam waktu 3 jam. Kami sarapan (roti, telur dan bacon ala C.J, I love you girl), mengobrol dan (berusaha) memotret pemandangan karpet sawah hijau yang menggantikan jalan-jalan besar dan siluet-siluet gunung di kejauhan. Duo bocah ini juga memberikan CD Ed Sheeran dan Jason Mraz untuk ulang tahun saya, dengan kartu ucapan yang belum ditandatangani Iin (kebiasaan). Pemandangan yang disuguhkan di luar sangat menyegarkan mata, dan dengan diiringi suara awak kereta yang menawarkan nasi goreng, mie instan dan jus jambu, saya bersyukur. Bersyukur kami berkesempatan melakukan perjalanan ini, bersyukur dengan pemandangan hijau di luar sana yang langsung mengingatkan saya bahwa sesumpek-sumpeknya Jakarta, Indonesia masih memiliki daerah-daerah hijau, deretan rumah-rumah sederhana dan saung-saung bambu di tengah sawah.


#3 Lukisan Curug Cikondang dan Terowongan Tua Lampegan

Sepanjang yang bisa saya ingat, air terjun sering sekali jadi model lukisan-lukisan alam di rumah-rumah saudara atau teman yang pernah saya kunjungi. Tukang-tukang taman di pinggiran jalan juga sering memamerkan karya mereka yang berupa miniatur air terjun, siap dipasang di rumah-rumah pemesan. Melihat Curug Cikondang hari itu, rasanya kurang lebih saya jadi paham kenapa.

Sekitar pukul 11.00 kami sampai di stasiun Lampegan. Stasiun ini adalah salah satu stasiun tertua di tanah air. Salah satu hal yang membuat stasiun ini terkenal adalah terowongan Lampegan, terowongan pertama yang dibangun di Jawa Barat pada tahun 1879 - 1882. Seperti halnya objek-objek tua pada umumnya, stasiun ini memiliki "aura" antik tersendiri. Kang Dadang, seorang tukang ojek yang mangkal di sana bercerita bahwa belasan tahun silam, ia dan setidaknya seorang teman akan berjalan sambil berpegangan tangan dan menyusuri rel kereta di dalam terowongan gelap tersebut dalam perjalanan menuju sekolah. Terowongan dan stasiun Lampegan ditutup pada tahun 2001 karena dinilai tidak layak untuk dioperasikan. Baru pada tahun 2010 terowongan dan stasiun Lampegan difungsikan kembali.


Dari Lampegan, kami akhirnya memutuskan untuk naik ojek. Hal ini karena ternyata, Lampegan sepenuhnya adalah daerah pedesaan (baca: nggak ada angkot, jek.) Angkot bisa dicarter kalau kita turun di Cianjur, yang kurang lebih adalah kota yang ramai, dilalui berbagai jenis angkot dan bis. Sebaliknya, Lampegan didiami oleh para petani, pekerja kebun teh atau pekerja tambang emas. Ojek merupakan usaha sampingan yang akhir-akhir ini laris manis semenjak Dede Yusuf dan Pak SBY mengunjungi situs Gunung Padang. Tawar-menawar dengan 3 orang babang ojek, kami sepakat di harga Rp 160.000 per ojek untuk perjalanan Stasiun Lampegan - Curug Cikondang - Situs Gunung Padang - Cianjur. Babang ojek dengan setia akan menunggu, mengantar hingga memastikan kami para pelancong dari Jakarta naik bus yang tepat (bus Marita) dari Cianjur ke Jakarta. Mereka juga bisa menjadi local guide karena telah menghabiskan sebagian besar hari-hari mereka di tempat ini, paham apa yang terjadi pra dan pasca situs Gunung Padang menjadi tenar dan pada dasarnya senang diajak mengobrol.

Satu hal yang saya perhatikan, nyaris semua orang di Lampegan berasumsi bahwa orang Jakarta yang datang ke sana pasti mau pergi ke Gunung Padang. Setidaknya untuk saat ini hal itu tidak buruk, sih. Namun pada tahun-tahun yang akan datang kemungkinan besar stasiun ini akan ramai dengan ojek yang langsung memberondong orang-orang "berlogat Jakarta" dan yang tidak berbahasa Sunda dengan penawaran ojek ke situs megalitikum tersebut.

Mengendarai ojek, saya dihadiahi kombinasi pemandangan hijau dan angin segar di sepanjang jalur menuju Curug Cikondang. Kombinasi ini adalah sesuatu yang bagi saya jarang dapat saya lihat di kota besar macam Jakarta. Perkebunan teh, udara yang bersih, angin yang sejuk; belum sampai Curug Cikondang saja saya sudah senang sendiri dengan pemandangan yang ada. Namun hal tersebut tidak bertahan terlalu lama karena segera sesudah itu jalanan aspal yang kami lalui berubah wujud. Saya belum pernah melakukan kegiatan off-road sebelumnya, jadi jujur saja, lumayan jantungan dengan perjalanan ojek. Jalanan nya berbatu-batu besar dan meliuk-liuk, mengingat ini adalah daerah perkebunan teh. Untungnya, babang ojek saya, Kang Dadang, sepertinya sudah berpengalaman membawa penumpang melewati jalur ini, karena tampaknya beliau santai-santai saja dan cukup menikmati perjalanan, sambil bercerita tentang pertambangan emas, tentang jalan-jalan yang bertahun-tahun lalu belum diaspal, tentang rute berjalan kaki yang dilaluinya dari dan ke sekolah, juga tentang kekecewaannya akan perusakan lingkungan seperti ini.


Menurut Kang Dadang, berbagai usaha sedang dilakukan untuk mengembalikan kehijauan beberapa bagian perkebunan yang sudah gundul. Namun tetap menyedihkan melihat ada bagian tanah yang gundul diantara rumpun-rumpun hijau Desa Karyamukti. Setelah melakukan kegiatan offroad berkendara selama 45 menit, kami akhirnya tiba di pintu masuk Curug Cikondang. Ada biaya masuk Rp 5.000 rupiah yang harus dibayar di sini. Dari pintu masuk, saya, C.J dan Iin perlu melewati jalan kecil yang menurun menuju Curug. C.J terjatuh sekali lagi di sini (mbak..sehat, mbak? :P) dan sukses keseleo. Saya tidak terlalu kaget sih, habis keseleo itu memang trademark nya C.J. Iin berusaha memberi penghiburan dengan menyatakan mungkin C.J salah pakai sepatu (dia lagi pakai sepatu running), belum sempat saya mengatakan apa-apa, yang bersangkutan sudah menepis pernyataan Iin. "Gue emang selalu keseleo kapanpun dimanapun. Di mall aja bisa kesandung." 
Tawa dan pembicaraan kami terhenti karena saya menoleh ke sebelah kiri dan langsung berhenti bergerak. Ada pemandangan macam begini di sebelah saya.


*Mari mengambil waktu tenang sejenak untuk menikmati keindahan alam ini*
*Di otak langsung keputer lagu The Shire nya Lord Of The Rings*


Buat saya, rasanya seperti melihat lukisan jadi nyata. Karena hari biasa, Curug Cikondang betul-betul sepi. Pengunjungnya hanya kami bertiga, serasa curug milik sendiri. Saya, C.J dan Iin bermain air sebentar disini. Menikmati percikan air, banyak mengambil foto disana-sini (Iin: "Belom puas juga foto? Bawa pulang sekalian curugnya. Bawa pulang."), dan makan siang sama-sama di saung yang ada di deket curug.


#4 Gunung Padang: Peradaban Purba di Indonesia

Puas main di Curug Cikondang, kami langsung berangkat menuju tujuan utama hari itu: Situs Megalitikum Gunung Padang. Perjalanannya sekitar 30 menit dari Curug Cikondang. Begitu masuk langsung disambut deretan warung di dekat gerbang depan. Tiket masuknya Rp 2.000 untuk wisatawan Indonesia dan Rp 5.000 untuk wisatawan asing. 

Situs Gunung Padang disebut-sebut sebagai struktur makam raksasa yang bentuknya menyerupai piramida. Sekarang ini sedang ada penggalian bear-besaran di sana, untuk kepentingan penelitian dan membuktikan bahwa sudah ada peradaban maju yang lebih tua dari peradaban Sumeria, peradaban tertua yang diketahui dunia saat ini. Dibanding piramida, sebenarnya struktur situs ini lebih mirip punden berundak, yang memiliki teras-teras seperti halnya Machu Picchu di Peru.

Gampangnya, penampangnya kelihatan seperti ini nih:

Gambar diambil dari sini
Saya, C.J dan Iin memanjat struktur ini melalui jalur yang telah dibuat khusus untuk wisatawan. Kaki C.J yang keseleo nggak memungkinkan kami mengambil jalur alami yang batuannya lebih terjal, meskipun katanya sih, waktu tempuhnya lebih singkat. Kami naik sampai ke teras ketiga dan  begini pemandangannya:


Banyak batu-batu besar khas situs megalitikum dan diduga teras ini berfungsi sebagai tempat pelaksanaan upacara-upacara dan berbagai ritual. Situs Gunung Padang pertama kali ditemukan oleh N.J Krom, seorang berkebangsaan Belanda. Kata C.J, catetan tentang penemuan situs ini pasti ada somewhere di Belanda, tapi semacam sudah dilupakan orang. Setelah itu sempat ada laporan juga dari masyarakat umum tentang situs ini, namun baru akhir-akhir ini akhirnya pemerintah menaruh perhatian serius, melakukan penelitian sekaligus tetap membuka situs ini untuk masyarakat umum.



Saya penasaran setengah mati dengan situs ini. Jadi, begitu melihat para bapak dengan kaos bertuliskan "Juru Pelihara Situs Gunung Padag", langsung deh samperin dan tanya-tanya ke beliau. Beliau ini mempersilahkan saya untuk bertanya-tanya lebih lanjut pada pak Dani, arkeolog dari LIPI Bandung. Beliau kemudian menjelaskan bahwa berdasarkan pencitraan bawah tanah, tampak lorong-lorong dan ruangan-ruangan di dalam struktur situs Gunung Padang yang hampir dapat dipastikan adalah buatan tangan manusia. Ada beberapa artefak-artefak batu yang juga ditemukan dan diduga digunakan oleh manusia-manusia purba. Pembuktian secara ilmiah menjadi penting bukan hanya untuk Indonesia, tapi untuk dunia untuk melengkapi sejarah besar umat manusia. Pak Dani bilang, "Manusia zaman sekarang terlalu merasa diri paling hebat, menganggap manusia zaman batu adalah makhluk primitif. Padahal mungkin tidak demikian." Saya menangkap kesan bahwa pak Dani juga ingin menyampaikan bahwa penelitian situs ini secara menyeluruh penting untuk mengingatkan manusia tentang sejarah mereka sendiri dan untuk menyadarkan manusia agar tidak terlalu bermegah diri.

Penggalian saat ini dilakukan di beberapa titik. Terlihat anggota-anggota ABRI membantu proses penggalian di situs Gunung Padang. Sekilas betul-betul mengingatkan pada adegan Lara Croft / Indiana Jones. Mudah-mudahan tidak ada informasi yang kemudian ditahan dari publik ya.


Curug Cikondang dan Gunung Padang jelas adalah salah satu harta Indonesia. Ada banyak rahasia dan petualangan yang ditawarkan tanah ini untuk para penduduknya. Senang bisa berkesempatan mengunjungi tempat ini, dan diingatkan kembali bahwa ada tempat-tempat yang berada dalam jangkauan langkah kaki dan kereta api, tempat-tempat menarik milik Indonesia yang perlu diperkenalkan juga kepada semua orang.


Ah, hampir lupa. Ini persembahan sunset dari Cianjur. Pemandangan terakhir yang menemani jalan saya kembali ke ibukota, dengan tekad menjelajah lebih banyak lagi tempat di Tanah Air.



"Salamate Lai He Hina Allane"

"Welcome, to the village of Allang"



I visited a quite remote village called Allang on my trip to Ambon back then. The two spots I was dying to see were Tanjung Allang and Pasir Putih Beach. My Ambon-raised cousins volunteered to take me there and I dragged all of my other cousins (the city boys and girls) to come along.

The trip was............
You know, when they said "no pain no gain", I believe they were talking about going to Allang. Hahaha.. it was hard to get there, and to have the best view (and possible jumping spot), we have to cut through a forest of some kind.
The bright part of the so-called-forest. Almost felt like doing a Survivor shot of some kind haha..
But, after stumbling here and there, we're finally there and the view was amazing, it was worth it.
There's no need to edit this photo, seriously.
Despite its clear and calm appearance, my cousins told me that Tanjung Allang is actually one of the most dangerous areas for ship and boats alike and people need to be really really careful when crossing this beautiful place.
I often find myself wondering, that striking blue colors on the waters, is it the reflection of the sky above? Or is it the sky that mirrors the ocean?
That rocks I'm standing on, they are really really sharp. But to compensate that a little bit, you've got these shiny yellow flowers for your eyes. The contrast they brought with the blue ocean and the sky behind was perfect.
On sunny day like this, those yellow colors stand out like no other
yellow yellow on the ground, I don't wanna look the other way around~
All was well, but I have to remind you though, that in Allang it felt like you have at least two or three suns above your head. It wasn't just sunny -- it was real hot. Like literally you will get an instant sunburn just by standing there without long sleeves / hat / sunblock cream / whatever protection means you can get. So prepare well. And avoid skin cancer.
Lasano-Telussa-Sohilait Dynasty. Consisted of natural adventurers.
Coming into conclusion that staying out in the open in Tanjung Allang any longer will definitely give us premature sunburn even before we arrived at the beach, we decided to leave. The road to the beach was a small road and required us to climb several many stone staircases.
Is that... rock on both side of the road? They are huge.
Staircases. And more staircases. Mm. Love 'em.
When you reach the top of the stairs you could see the green of the forest and the ocean afar. It was quite stunning, although I remembered everyone was sort of short of breath and the hot weather did not help at all. But all in all, I was really happy. Going to this place fulfill my hunger for adventure, my love of running, climbing -- physical activities that helps me feel alive. Listening to my own fast heartbeat, feeling the blood rush and sweat and aching muscles, all to be rewarded with beautiful view after we completed the "trial". 
They should build some sort of flying fox unit in here. Imagine flying from this forest straight to the beach below. I'd climb those stairs all over again to fly more and more.
When we finally reached the Pasir Putih beach (by taking motorbike taxi a.k.a "ojek") everyone was so excited and kind of forgetting all the climbs and tiring road we walked earlier. The first thing I noticed on this beach is that the kind local people have made a tree swing overlooking the beach in front.
It is not the best tree swing in the world, but it was enough.
the happy team
And then the beach itself? I don't have any complaint, nope, not a single one. One thing for sure, Ambon is truly blessed with its magnificent beaches. The water, the sand, the reefs, everything that made up a good beach is here. The atmosphere, the natural surroundings, the sounds around you -- everything. Sure, they haven't build the best infrastructure and it can be quite a struggle to reach these places without a local guiding you, but if you're an explorer and doesn't mind to get lost a few times, you will love it here.
My cousin's been teaching me a thing or two about photography and she volunteered as a model. How did I do? :D
The most beautiful spot on Pasir Putih Beach!
With the burning sun, those waters feel like a whole new level of 'freshness'
My baby cousin (who's pictured in red above) told us that she wanted to see the sunset landscape here on the beach. Her wish, unfortunately, has to be put on hold, because look:

The sun was high, and guess what, it was 05.00 pm. So my older cousins reminded us that we still have a long way to go, back to the city of Ambon and there was no way we could wait till the sunset is set. With that in mind, we set off and left the beauty of Pasir Putih Beach. 


I am so glad I came here.