5 Minutes Reading: On Human's Mortality

Allright, let's face it, people.
Our body wasn't built to last.
It is designed to wear off as time goes by. Every time we blow our birthday candles, along with all the grateful feelings, we should also realized that we are physically a year older and generally slightly weaker than a year before.

Let's try this one, shall we?
Think of this: what are the odds that you will die during any day next year? Put a percentage. Do you think there's 30% chance you will die next year? Or is it 50%? 20%?
Try to imagine that if you, eventually not die in the following year, and the year after, and the year after, and you were asked the same question again, you will probably state a higher percentage compared to the last three years.

Somehow, we know eventually we will die. And yet, we often act as if we were immortals, and so are the others around us, that "tomorrow" will always come for each and everyone of us. Thus, when death casually says hi and took away someone else, often we are caught in surprise, disbelief, and sadly, anger sometimes.

I wonder if the Lord Himself find us humans amusing in this department. The moment we were born we are practically signed a "death contract", that our life here is time-limited. And it also applies to people around us. They too, have a certain time-frame and the twist is we have no idea when our time or their time will be up.

So today it got me thinking. 

What if, that person you loved so much from afar, the person whose existence means a little something to you, goes to sleep tonight stubbornly don't know how much you like them, and then just like that, they're gone the next morning. And you find yourself waking up to the world where they don't exist anymore. And you remember you promised yourself you would tell them exactly how you feel, but because of this and because of that you just didn't, and now they are gone forever.

What if, that boss you hate so much (all right you don't hate them, you just disliked them. Right.), went home tonight not fully realizing why on earth you don't like her so much, and never came back to the office the next day because her time's up. You didn't get to tell her how awful she is in handling things at the office, or how thankful you are for yet another valuable lesson in life you learned: patience, passion, handling difficult people, and a determination to actually be a better boss someday.

What if, you're not doing all these things you can do, you can say, you don't hug all these people, and you don't forgive because you are convinced you still have time tomorrow to figure things out. What if you went to sleep tonight and your time is up?

I've heard a saying goes like this, "The gods envy us human for our mortality. Because we don't have forever, we value life more and we value things and people around us more." 

We have a limited time, we don't have all the time in the world so that makes every second counts. Have you make your every second counts?

Picture from here



Observasi Amatiran: 10 Tipe Penumpang Gerbong Wanita KRL Commuter Line


Gambar dari sini
Sebagai AnKer (AnakKereta) masa kini, udah semacam makanan hari-hari gw berjuang bersama para AnKer dan commuters lainnya untuk sekedar nitip kaki di KRL Commuter Line (kalo hoki bisa juga sekali-sekali nitip pantat di kursi). Rute hari-hari gw adalah KRL Bekasi - Kota, transit di Manggarai, lanjut (Bogor-Tanah Abang), turun di Sudirman, dan sebaliknya untuk rute pulang.

Hari Kamis lalu (12/6), sekitar jam 19.30 dengan riang gembira gw melipir ke Stasiun Sudirman. Kereta menuju Bogor baru aja lewat di depan mata, tapi gw berpikir 'ga apa-apa lah, mungkin kereta berikutnya bisa lebih lowong (terus bisa nitip pantat 8 menit dari Sudirman ke Manggarai sebelum berperang buat naik kereta Bekasi)'. Tapi apa daya, harapan tinggal harapan. Setelah setengah jam nongkrong di Sudirman, gw mulai curiga. Apalagi waktu melirik ke belakang gw dan ternyata sudah ada 4 lapisan antrian pasukan AnKer yang terbentuk.

Tapi akhirnya, kereta pun datang dan dengan dorongan 4 lapis pasukan, gw pun berhasil masuk ke kereta, gerbong 1 yang adalah gerbong khusus wanita. Kondisinya kurang lebih macam gini:
Ruang gerak = nihil. Human Contact = overloaded. Gambar dari sini.
Ini pun hanya sekedar ilustrasi. Keadaan sesungguhnya lebih padat, jauh lebih padat lagi daripada yang diperlihatkan dalam gambar di atas. Kereta pun berjalan perlahan meninggalkan stasiun dan gw cukup senang mengingat-ingat bahwa cobaan ini hanya akan berlangsung selama 8 menit saja hingga kereta berhenti di Manggarai. Tidak berapa lama kemudian kereta pun berhenti dan setelah 10 menit yang rasanya macam 1 jam saja, kami mendapatkan suatu pencerahan: kereta mogok, dan perlu menunggu kereta penolong untuk menarik kereta kami. Terjadi kehebohan, kepanikan dan kesengsaraan di dalam gerbong kereta selama nyaris satu jam (nggak sempet lagi liatin jam). Sambil berusaha tetap tenang, gw melihat-lihat ke sekitar (dengan gerakan kepala terbatas tentu saja) dan menyimpulkan sedikitnya ada 10 tipe unik penumpang gerbong wanita KRL Commuter Line saat terjadi mogok dan kekacauan:

1. Tipe Pertapa


Tipe ini langsung melakukan meditasi dan relaksasi di dalam kereta. Tarik nafas, hembuskan, tarik nafas, hembuskan. Ciri-ciri tipe ini adalah memejamkan mata, tenang, nggak celingak-celinguk, mendengarkan musik dan terlihat menghitung nafas. Tipe ini tipe pasif, anteng dan kalem. Kalau ada yang nggak sengaja injek kaki, atau narik jilbab atau nyikut pinggang, umumnya tipe ini nggak terganggu. Alisnya berkerut sedikit, kalau parah bisa juga sampai melotot, tapi umumnya segera kembali ke mode pertapa nya. Tipe yang bikin gw salut. Gambar dari sini.

2. Tipe CLC (Commuterline Lawak Club)
Tipe ini riang gembira, selalu menemukan lelucon atau hal-hal yang bisa dikomentari dengan komentar lucu. Hobinya tertawa terbahak-bahak, sambil ngajakin yang lain ikut ngakak juga, meskipun penumpang lain sekarat dengan asupan oksigen yang hanya cukup untuk bernafas pelan -- sama sekali ga cukup buat dipakai ngakak berjamaah. Semuanya dibawa bercanda sama tipe ini, kereta mogok aja diketawain sama dia. Tipe ini setengah disukai, setengah dibenci. Yang suka bisa ikut-ikutan jadi CLC, yang nggak suka biasanya keki setengah mati, karena suara besar dan lelucon kadang garing yang dikeluarkan manusia-manusia bahagia ini. Tipe yang bikin gw sakit perut di dalam kereta, tergantung kadar HIP (Hasrat ingin Pyipis), gw bisa seneng banget atau keki banget sama mereka.

3. Tipe Revolusioner
Tipe ini pejuang rakyat, punya visi-misi untuk memperjuangkan hak rakyat commuterline, hak atas udara segar dan hak atas informasi. Tekniknya macem-macem, mulai dari intervensi damai (manggil-manggil mas-mas security. "Mas, ada apa nih mas? Mas, ada apa nih?"), mengancam ("Mas, WOI MAS PURA-PURA BUDEK YA?? Ntar budek beneran loh!) dan mengancam sekali lagi ("Mas, ada apa niih?? Mau dikeroyok sama semuanya? Ha!?). Ketika semua ini tak berhasil juga, mulailah para tipe ini ngerajuk berjamaah. Segala macam rajukan dikeluarkan, mulai dari kepanasan (biar dibukain pintu -- ditolak mentah-mentah karena hari itu cuaca sedang tak bersahabat), kaki nggak bisa nafas (maksud ngana, bu?), hingga rajukan tentang bagaimana mereka membawa ASI yang harus segera disetor di kulkas. Tipe ini sesungguhnya bisa masuk ke tipe CLC juga, sebab mereka secara nggak sadar suka bikin yang lain ngakak. Ketika alasan ASI pun tak mampu melembutkan hati masinis untuk membukakan pintu, tipe ini berubah mode jadi warrior: gebuk-gebuk kaca, jendela, pintu dan benda mati lainnya yang bisa digebuk, untung ga sampe gebukin orang. Setelah diminta istighfar dan/atau bersabar, tipe ini biasanya anteng sejenak, lalu mulai lagi cycle nya dari mengancam mas-mas security dan masinis yang malang.

4. Tipe Ramah
Tipe ini sabar, selalu berusaha ngajakin orang lain di dekatnya ngobrol, makin lama makin banyak yang dia ajak ngobrol dan nimbrung bareng, lama-lama bisa jadi arisan. Tipe Ramah mencari informasi dengan bertanya kiri-kanan, atau dengan menawarkan gosip terkini untuk sekedar mengurangi tekanan emosi di dalam kereta. Suka nggak sadar kalau orang lain di sebelahnya lagi nggak pingin ngobrol, mungkin saking terlalu ramah nya.

5. Tipe Intelijen
Tipe ini diem-diem mencari informasi. Mereka terus pegang handphone, paling mungkin buka twitter atau BBM buat cari-cari info tentang apa yang sedang terjadi. Biasanya nggak bilang-bilang, kecuali ditanya sama si Ramah. Umumnya mereka nggak pelit bagi informasi, cuma perlu ada yang inisiatif duluan buat nanya. Tipe ini mantengin timeline nya @commuterline, sekali-sekali mengerutkan kening, menggumamkan "ck." atau garuk-garuk kepala.

6. Tipe Eksis
Bah. Tipe ini paling gampang dikenalin, pemirsa. Tipe ini update status di semua media sosial yang dia punya, FB, Twitter, Instagram, Path, BBM, Line, Whatsapp dan lain sebagainya. Ada juga yang melengkapi dengan foto (apa yang bisa difoto, lautan kepala gitu padahal), buat mereka yang penting eksis broh. Kisaran status bisa mulai dari 'lemotz', 'help', 'trapped (tambahkan sebuah emoticon di sini)', PT KAI bang*at dan lain sebagainya. Mengecek like, share, retweet dan replies setiap saat, sepertinya malah senang kereta mogok karena punya sesuatu untuk dibahas di media sosial. Tipe yang sebetulnya penting perannya supaya kerabat, teman dan juga petugas yang bertanggungjawab lebih aware dengan mogok nya kereta. Mereka sungguh tipe yang berjasa.

7. Tipe Aku Rapopo

Hhh. Gw kehilangan kata buat tipe ini. Antara mereka emang orangnya welas asih dan sabar, atau emang membiarkan orang mem-bully mereka tanpa perlawanan berarti. Tipe ini berkali-kali diinjek kakinya (biasanya sih sama orang yang sama), disikut, kena sabetan rambut atau scarf dan lain sebagainya. Mereka cenderung pasrah, diam saja dan tidak berkata apa-apa, padahal muka keliatan banget kesakitan. Ketika tipe ini akhirnya merasa disiksa dan mencoba menyampaikan pada si penyiksa, umumnya mereka dimarahin balik; "Yeee mbak, penuh gini gimana nggak keinjek! Gitu aja protes. Ga usah naik kereta, wooo!", mereka kemudian hanya tersenyum dan tertunduk. Gambar Cony Rapopo dari sini.

 8. Tipe Ga Tau Diri
Yang ini juga keliatan banget dan gampang dikenalin. Tipe yang gelisah gerak kanan-kiri depan-belakang, celingak-celinguk, ngedumel, dan bahkan garuk-garuk (padahal waktu ga ada open space gitu, waktu dia garuk kaki, kaki orang lain juga ikut kegaruk), kalo udah gatel, gatelnya permanen, setiap semenit sekali garuk-garuk. Tipe ini juga yang biasanya maksa nitip pantat, padahal setting-an kursi buat 7 orang itu udah diisi 8 orang. Alesannya biasanya karena yang duduk kecil-kecil, atau dia juga udah bayar tiket. Tipe ini juga bisa-bisanya jongkok di tengah-tengah lautan manusia, demi kenyamanan tubuh sendiri. Termasuk dalam tipe ini juga orang yang nginjek kaki orang lain berkali-kali, padahal udah tau di situ ada kaki. Ckckckck.

9. Tipe Kombinasi
Tipe ini kombinasi macam-macam tipe yang sudah disebut di atas. Berdasarkan observasi gw, Kamis lalu yang paling kelihatan adalah tipe Pertapa-Ga tau diri. Setelah bertapa dan nggak membuahkan hasil, mereka kemudian frustrasi dan mulai berjongkok, mungkin mau lanjut bertapa pakai pose lotus. Ada juga kombinasi tipe Intelijen-Dauntless. Setelah dapet info kalau sesama intel dan dauntless (lihat tipe berikut) dari gerbong sebelah berhasil loncat, tipe ini pun ingin melakukannya juga di gerbong wanita. Yang paling kasihan tipe ramah-rapopo. Udah niatnya baik mau beramah-tamah, apa boleh buat dia di bully juga.

10. Bonus: Tipe Dauntless
Dauntless dalam novel Veronica Roth, Divergent adalah jenis manusia pemberani, penggoda maut, daredevil, hobinya membahayakan diri sendiri untuk membuktikan kekuatannya. Tipe ini nggak ada di gerbong wanita, adanya di gerbong sebelah, gerbong campuran. Tipe ini mencoba berteriak agar masinis membukakan pintu kereta, tujuannya hanya satu: mereka mau keluar dan mencari alternatif lain, daripada stuck tempel-tempelan sama orang lain macam puzzle manusia di dalam gerbong kereta selama satu jam. Ketika tidak digubris juga, keluarlah sifat alami tipe ini. Mereka membuka paksa pintu-pintu kereta dan terjun ke kegelapan rel tanpa adanya peron -- atau bahkan penerangan selain lampu di dalam kereta. Gambar dari sini.
Gw kayaknya tipe kombinasi -- Intelijen-Dauntless. Cari info dulu dan akhirnya melakukan loncatan akbar keluar kereta. Apa boleh buat, ini namanya survival of the fittest bahahaha. Kalau kalian, kira-kira tipe apa?


5 Minutes Reading: On Falling in Love

Friday morning, which I started with half energy -- spending this week trying to figure out if actually I am standing on the right path, only to find that I won't figure it out in a matter of a week anyway.

I woke up early and 60 minutes later found myself in the station, waiting for my daily train. I let my eyes wandered, and my gaze fixed upon this elderly guy, almost bald, his remaining hair and eyebrows look more like silver than white. He wore glasses with a black frame, and thick lenses. He had fair skin and small eyes. If I have to make a guess, he was probably around 60, he had this oriental look on him. He wore a white and green striped polo shirt, and a dark green trousers. 

What caught my eyes was because he walked so slowly, if not with some difficulties, his hand slightly shaking, his posture was somehow crooked, and there was a very familiar markings, a unique one in the way he walked that instantly reminded me of my late father, a stroke survivor. Or, he could be in early stage of Parkinson disease. Or, it's just aging that's happening to him. 

I watched him until Cindy called me on the phone and then I stopped staring (note to self: staring is rude, stop it). I listened to her telling stories about her morning and then my train arrived, so I hang up. Even before the train fully stopped in front of me, I could see what has become of it: a sardine tin. And everyone insides were sardines, cramped together inside a tin. There is just no way anyone could enter that train, no one supposed to want to ride on that train. I decided that I love my life so much so I opted to wait for the next train. 

As I wait, I looked around again and there he was, that elderly guy again! Let's call him Kenzo from now on, for the sake of simplicity. Mr. Kenzo was standing there waiting for another train, but he was not alone. Somebody else was holding his hands, steadying him, helping him stand firmly. He smiled so warmly to the person standing by his side, a smile that makes me smile myself. 

The other person was a woman, roughly the same age with Mr. Kenzo, but unlike him, she still still a lot of hair and it was black. She wore white shirt and a dark green trousers, matching Mr. Kenzo's.

She looked like she was talking to Mr. Kenzo and the two of them just seems like enjoying each other's company so much. I stood close enough to them, but did not hear any sound. They were gazing at each other, smiling, whispering sometimes, she was caressing his hands, he was staring at the station's make shift roof, mouth half open, enjoying the soft orange sunlight above him, and smiling with his eyes. They stood very closely to each other, and even when they made no sound, I felt like I'm witnessing a very intimate conversation. 

The atmosphere around them was so warm and calm, so different with the rushing atmosphere around other people, some with visible frustration over late and overcrowded trains, and strangely I found myself physically drawn towards them. It is as if I can also taste the warmth they share if I stood close enough. 

I thought about my mom and dad. I thought about what my best friend's mom told me a month ago, that when lovebirds lose its' couple, she / he will just slowly losing their will to live too, the literally literal meaning of "I can't live where you do not exist" -- a thought so unreal for me, but makes a little sense when I see these two persons. I was a little bit drowned in those thoughts until the next train arrived.

I stepped into the train and they were behind me. No more seat available, so we stood there. I remember wishing with all my heart that someone will give his seat to Mr. Kenzo. But Mr. Kenzo -- unlike most elderly people I saw on the train, he didn't look around with pleading eyes, he was just too preoccupied with the lady who still holding his hand, steadying him by his elbow. 

And then somebody stood up, a gentleman and gave his seat. Mr. Kenzo thanked him in a clear voice, smiled and sat. I smiled-- I just cant help it and noticed that the man sitting in front of me was staring at me and he smiled too. Soon, the woman beside him smiled too and then offered her seat for Mr. Kenzo's lady and she sat, after thanking that woman. The train moved, people come in and out and somehow I ended up sitting beside Mr. Kenzo. He was calmly looking around, seemed interested with the trains interiors.

Then we arrived at a very crowded station and so many people rushed inside, blocking his view of her Lady Kenzo, and it was then when he looked agitated. He kept searching for the face of Lady Kenzo behind a crowd that standing in front of him, smiling when he got a glimpse of her and staring to just one point: where she sat. 

Some more stations and then I heard a clear voice calling, "Pa, we're here." Over and over again, and Mr. Kenzo's eyes lit up and he smiled again. When the train stopped, people made way for Mr. Kenzo and the last thing I saw before the train doors shut was both of them, hand-in-hand, stepped out of the train.

Intimate conversations with no sound, attached to each other, seeing a dear person in front of us that weak legs and overcrowded train doesn't really matter, supporting each other when our old bodies started to give up on us,

When I grow old, will I still be able to fall in love the way they do?
Picture from here



"Salamate Lai He Hina Allane"

"Welcome, to the village of Allang"



I visited a quite remote village called Allang on my trip to Ambon back then. The two spots I was dying to see were Tanjung Allang and Pasir Putih Beach. My Ambon-raised cousins volunteered to take me there and I dragged all of my other cousins (the city boys and girls) to come along.

The trip was............
You know, when they said "no pain no gain", I believe they were talking about going to Allang. Hahaha.. it was hard to get there, and to have the best view (and possible jumping spot), we have to cut through a forest of some kind.
The bright part of the so-called-forest. Almost felt like doing a Survivor shot of some kind haha..
But, after stumbling here and there, we're finally there and the view was amazing, it was worth it.
There's no need to edit this photo, seriously.
Despite its clear and calm appearance, my cousins told me that Tanjung Allang is actually one of the most dangerous areas for ship and boats alike and people need to be really really careful when crossing this beautiful place.
I often find myself wondering, that striking blue colors on the waters, is it the reflection of the sky above? Or is it the sky that mirrors the ocean?
That rocks I'm standing on, they are really really sharp. But to compensate that a little bit, you've got these shiny yellow flowers for your eyes. The contrast they brought with the blue ocean and the sky behind was perfect.
On sunny day like this, those yellow colors stand out like no other
yellow yellow on the ground, I don't wanna look the other way around~
All was well, but I have to remind you though, that in Allang it felt like you have at least two or three suns above your head. It wasn't just sunny -- it was real hot. Like literally you will get an instant sunburn just by standing there without long sleeves / hat / sunblock cream / whatever protection means you can get. So prepare well. And avoid skin cancer.
Lasano-Telussa-Sohilait Dynasty. Consisted of natural adventurers.
Coming into conclusion that staying out in the open in Tanjung Allang any longer will definitely give us premature sunburn even before we arrived at the beach, we decided to leave. The road to the beach was a small road and required us to climb several many stone staircases.
Is that... rock on both side of the road? They are huge.
Staircases. And more staircases. Mm. Love 'em.
When you reach the top of the stairs you could see the green of the forest and the ocean afar. It was quite stunning, although I remembered everyone was sort of short of breath and the hot weather did not help at all. But all in all, I was really happy. Going to this place fulfill my hunger for adventure, my love of running, climbing -- physical activities that helps me feel alive. Listening to my own fast heartbeat, feeling the blood rush and sweat and aching muscles, all to be rewarded with beautiful view after we completed the "trial". 
They should build some sort of flying fox unit in here. Imagine flying from this forest straight to the beach below. I'd climb those stairs all over again to fly more and more.
When we finally reached the Pasir Putih beach (by taking motorbike taxi a.k.a "ojek") everyone was so excited and kind of forgetting all the climbs and tiring road we walked earlier. The first thing I noticed on this beach is that the kind local people have made a tree swing overlooking the beach in front.
It is not the best tree swing in the world, but it was enough.
the happy team
And then the beach itself? I don't have any complaint, nope, not a single one. One thing for sure, Ambon is truly blessed with its magnificent beaches. The water, the sand, the reefs, everything that made up a good beach is here. The atmosphere, the natural surroundings, the sounds around you -- everything. Sure, they haven't build the best infrastructure and it can be quite a struggle to reach these places without a local guiding you, but if you're an explorer and doesn't mind to get lost a few times, you will love it here.
My cousin's been teaching me a thing or two about photography and she volunteered as a model. How did I do? :D
The most beautiful spot on Pasir Putih Beach!
With the burning sun, those waters feel like a whole new level of 'freshness'
My baby cousin (who's pictured in red above) told us that she wanted to see the sunset landscape here on the beach. Her wish, unfortunately, has to be put on hold, because look:

The sun was high, and guess what, it was 05.00 pm. So my older cousins reminded us that we still have a long way to go, back to the city of Ambon and there was no way we could wait till the sunset is set. With that in mind, we set off and left the beauty of Pasir Putih Beach. 


I am so glad I came here.


Semoga Indonesia Tetap Rukun


Salah satu proyek dalam Kemah Kepemimpinan 2013 lalu adalah latihan jurnalistik. Latihan dilakukan dengan menugaskan kami layaknya para wartawan untuk mencari berita dan menuliskannya. Berita yang kami tulis kemudian diberikan feedback oleh salah seorang pentolan koran Tempo. Tidak bisa dibilang sebagai pengalaman paling menyenangkan, tapi saya rasa ada saatnya kita belajar melalui hal-hal yang tidak enak, tidak nyaman, dan membuat kita ingin memberontak dari berbagai segi.

Proyek itu membawa pengalaman tersendiri untuk saya, yang baru pertama kali melakukan simulasi mencari dan menulis berita. Prosesnya lumayan seru dan mempertemukan saya dengan banyak hal tak terduga di balik gang-gang rumah kontrakan di Cinangka.  Ada cerita di sana dan berbagi cerita tersebut adalah salah satu hal yang dapat saya lakukan untuk membuat kisah mereka terdengar.

Semoga Indonesia Tetap Rukun

“Anda dapat kapan saja bepergian dan berwisata mengunjungi negara saya. Tetapi saya tidak bisa pulang ke rumah sendiri.”

Aziz (26) menatap mata saya lekat-lekat. Ia adalah salah seorang dari delapan pengungsi asal Myanmar yang sekarang tinggal di Kampung Cinangka, Megamendung, Jawa Barat. Kedatangan mereka difasilitasi oleh badan PBB United Nation High Commissioner for Refugees (UNHCR) dan secara resmi dilindungi di Indonesia. Siang itu saya bertemu dengan Aziz dan ketiga temannya, M. Suman (26), Kabir Hussain (25) dan M. Sobuz (28) di sebuah warung nasi di Kampung Cinangka.  Ketiganya menceritakan bahwa belumlah genap dua bulan semenjak kedatangan mereka di Tanah Air, meninggalkan Myanmar yang semenjak dua tahun silam kisruh dengan konflik agama. Mereguk kopi dan menyalakan rokok, Aziz kembali bercerita. “Jumlah kaum muslim hanya sedikit di Myanmar. Tapi kaum Buddha tidak henti-hentinya mengejar, menembaki, mengusir dan membenci kami.” Konflik antara para penganut agama Buddha dan Muslim di Myanmar mulai mendapat perhatian internasional sejak insiden Rohingya yang terjadi pada awal Juni 2012 silam. Sejak saat itu, situasi terus memanas dan ketegangan antara umat Buddha dan Muslim tidak dapat dikendurkan.

Setelah tinggal di Indonesia, Aziz merasa lebih nyaman, meskipun tidak dapat sepenuhnya tenang karena masih ada keluarga yang ditinggalkannya dalam ancaman kematian setiap hari. “Di Indonesia, saya merasa aman.” kata Aziz. “Kami tahu ada banyak penganut Kristen, Buddha dan agama lainnya di sini. Tapi kami sama sekali tidak takut. Kami tahu kami aman.” Hussain menambahkan. Sehari-harinya para pengungsi ini bangun pagi, berbelanja beberapa bahan makanan di pasar, kemudian kembali pulang dan memasak. Sesekali mereka makan di warung nasi Bu Oom, yang selalu mereka panggil dengan sebutan “kakak”. Setelah itu seringkali mereka saling mengunjungi kediaman pengungsi-pengungsi lainnya dan saling berbagi informasi. Informasi biasanya berkaitan dengan keadaan di negara masing-masing dan kemungkinan kesempatan berbisnis atau bekerja. Menjelang sore mereka akan mampir di Masjid Al Taqwa untuk beribadah sebelum pulang dan beristirahat. Keseharian ini telah mereka lakukan selama enam minggu berturut-turut di Kampung Cinangka.

Kampung Cinangka merupakan salah satu kampung dalam naungan Desa Cipayung di Megamendung, Jawa Barat. Penduduk di kampung ini sudah tidak heran lagi dengan adanya warga negara asing yang berseliweran di jalan-jalan kecil kampung mereka. Ibu Oom (44) pemilik warung nasi dan beberapa rumah kontrakan di Cinangka misalnya, telah terbiasa mengontrakkan rumahnya untuk para pengungsi dari Somalia, Irak, Afghanistan, Sri Lanka dan Myanmar. “Mereka pengungsi legal, mereun (mungkin). Dibantu kedutaan, mereun.” Ibu Oom berbicara dengan logat Sunda yang kental. Menurutnya di kawasan Megamendung, Bogor dan sekitarnya ada banyak para pengungsi dari negara konflik. “Di Cibereum juga banyak. Kalau disana itu banyakan pengungsi Irak, neng. Yang hidungnya mancung-mancung pisan.” Canda Bu Oom. Bu Oom kemudian menjelaskan, bahwa para pengungsi mengontrak rumah dengan harga dua juta rupiah setiap bulannya. Untuk makan dan kebutuhan sehari-hari, rata-rata menghabiskan uang satu juta rupiah per bulan. Para pengungsi umumnya membuka rekening bank dan mendapatkan kiriman uang seadanya dari keluarga di negara masing-masing untuk memenuhi kebutuhan mereka. Mereka sulit mendapatkan pekerjaan di daerah Cinangka karena adanya keterbatasan bahasa dan masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan budaya lokal.

Para pengungsi, meskipun sangat lega karena mendapatkan rasa aman di Indonesia, namun mereka juga merindukan kehidupan sebelum konflik mulai terjadi di Myanmar. Aziz, terutama, rindu untuk dapat membaca buku. Sebelumnya di Myanmar ia memiliki akses yang mudah setiap kali ingin membaca buku. “Apakah Anda dan Tempo bisa memberikan buku berbahasa Inggris untuk saya dan teman-teman?” tanyanya penuh harap. Bagi Aziz, Myanmar dulu pernah menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Namun kini, ia merasa ditolak oleh negerinya sendiri. “Presiden tidak menginginkan kami. Oleh karena itu kami ditembaki dan diusir. Masjid-masjid kami dibakar, lalu rumah kami dirubuhkan.” Aziz kemudian menunjukkan beberapa foto yang dimilikinya. Ia menunjukkan wajah bangunan dan jalan-jalan di Myanmar sebelum dan sesudah terjadi konflik. Jenazah dapat tergeletak begitu saja di jalanan, tidak peduli laki-laki, perempuan atau bahkan anak-anak. “Mereka menembaki kami yang bertangan kosong.”

Hidup para pengungsi sebagai kaum minoritas di Myanmar sangat berat namun, mereka sangat berterimakasih kepada Indonesia dan penduduknya yang ramah. “Kami menyukai Indonesia. Makanannya, rokoknya, kopi dan para penduduknya. Kami sangat menyukai negeri ini.” kata Suman. “Saya suka nasi kuning, tapi tidak makan soto.” tambah Kabir Hussain sambil menyunggingkan senyum. Aziz kemudian menambahkan bahwa kedepannya ia berharap dapat juga membawa keluarganya ke Indonesia. Untuk saat ini ia ingin terlebih dahulu mendapatkan pekerjaan tetap supaya dapat membantu menghidupi keluarganya. “Terimakasih.” kata Aziz. Ia berharap Indonesia akan selalu menjaga kerukunannya. Karena ketika Indonesia turut mengusir sekelompok orang karena agama yang dianutnya, pada saat itulah Aziz akan tahu bahwa ia tidak lagi memiliki tempat dimanapun di dunia ini.
***


Jatuh Cinta pada Indonesia



Jatuh Cinta pada Indonesia

Memangnya, perlu merantau jauh dari tanah air dulu baru bisa mengerti seribu hal dari Indonesia yang selama ini hanya kita terima dengan cuma-cuma?

Saat bersekolah selama satu tahun di sebuah universitas di Jepang, saya berangkat dengan keyakinan bahwa saya akan belajar banyak tentang Jepang dan kebudayaannya. Tidak sabar ingin membuktikan apakah kehidupan sekolah di Jepang sama dengan yang digambarkan Hana yori dango, penasaran dengan distrik fashion Harajuku dan Shibuya, setengah mati ingin merasakan tradisi hanami (makan dan minum sambil melihat bunga sakura) dan ingin mengunjungi kota-kota bersejarah layaknya Hiroshima, Nagasaki dan lain sebagainya. Melihat ke belakang sekarang, betapa sederhana, naif dan egoisnya saya saat itu. Karena ternyata, justru dengan menjadi anak rantau di negeri orang, saya belajar lebih banyak tentang negeri sendiri.

Di kampus, saya bertemu dengan banyak mahasiswa pertukaran pelajar lainnya dari berbagai negara di dunia dan tentu saja, dengan para mahasiswa Jepang. Ada yang merasa familiar dengan nama Indonesia, beberapa mengaitkannya dengan Pulau Dewata, tapi tidak sedikit yang sulit percaya bahwa Bali adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Reaksi pertama saya adalah terkejut, karena tidak menyangka bahwa banyak sekali orang yang tidak tahu-menahu tentang Indonesia.

Saat itu saya berdiri di sana, di depan rekan-rekan saya dan menceritakan tentang beberapa hal yang berkaitan dengan kebudayaan di Indonesia. Seorang teman dari Finlandia memperhatikan pin Garuda emas yang saya sematkan di tas saya. Dan ia bertanya, apakah itu adalah coat of arm negara Indonesia. Pertanyaannya membuka diskusi panjang tentang negara kami masing-masing. Saya mencoba menjelaskan tentang simbolisasi Garuda, makna 17 helai sayap, 8 bulu ekor dan 45 bulu dada yang dimilikinya. Juga perisai Pancasila dan pita bertuliskan bhinneka tunggal ika yang dicengkeramnya. Si pria Finland kemudian berkata bahwa ia tidak tahu Indonesia ternyata adalah negara yang dibangun di atas filosofi yang sangat kuat, dan bahwa rupa-rupanya para pendiri bangsa memiliki visi yang sangat besar untuk negeri ini.

Rekan-rekan saya hari itu mungkin kembali ke asrama mereka dengan sedikit tambahan informasi tentang Indonesia, namun saya kembali dengan suatu percikan api yang memenuhi relung hati: saya adalah orang Indonesia dan saya ingin Indonesia dikenal lebih luas lagi sebagai negara yang kaya budaya dan penting untuk dikenal. Maka, saya kembali ke asrama dan melakukan riset besar-besaran melalui internet. Mengingat kembali sejarah, mencari tahu lagi tentang berbagai upacara adat dan kesenian Indonesia dan fakta-fakta yang sebelumnya terlewat begitu saja dari ingatan dan keseharian saya selama masih berada di Tanah Air. Lalu saya merasa lucu. Sebagai anak-anak Indonesia, kita adalah orang-orang yang semestinya paling mengerti tentang kebudayaan Indonesia. Kita hidup di dalamnya selama bertahun-tahun, kebudayaan itu adalah kita, dalam keseharian  kita, dalam cara kita menghayati apa yang kita miliki sebagai Bangsa Indonesia. Namun, saat merantau tiba-tiba saya diserang oleh kesadaran bahwa ternyata sebelumnya saya pun bukanlah orang yang menghayati dan mengenal kebudayaan sendiri dengan segenap hati.

Bagaimana saya akan memperkenalkan Indonesia, jika saya sendiri tidak mengenalnya secara mendalam? Melalui berbagai presentasi, tugas dan interaksi saya dengan rekan-rekan dari mancanegara, saya akhirnya menemukan jalan untuk pertama kalinya menyadari penuh bahwa saya telah jatuh cinta pada bangsa Indonesia.

Saya jatuh cinta pada negara yang memiliki lebih dari 17.000 pulau dalam wilayahnya. Saya jatuh cinta pada negara yang masing-masing pulaunya memiliki tarian, kisah dan legenda memesona, kepingan sejarah, ragam kepercayaan, sensasi makanan khas dan juga tradisi yang berbeda-beda. Saya jatuh cinta, pada negara yang berusaha merantai semua perbedaan itu dalam semangat persatuan. Saya jatuh cinta, pada negara yang memiliki kombinasi ragam keindahan alam, baik darat dan laut yang terindah di dunia. Saya jatuh cinta, pada negara yang masih jatuh bangun menata pemerintahannya.

Kemana saja saya selama 22 tahun ini? Apakah terlalu sibuk menggandrungi kebudayaan negara lain dalam era globalisasi? Apakah terlampau apatis untuk memperhatikan pertumbuhan negara sendiri? Apakah kelewat egois dengan terus mencemooh pemerintah tanpa merefleksi apa yang sudah saya lakukan untuk negara?

Dalam banyak kesempatan berpikir, saya bertanya-tanya apakah rasa nasionalisme dalam diri generasi muda Indonesia sekarang sudah menjadi terlalu tipis? Ada berapa banyak generasi Indonesia yang sama egoisnya dengan saya sebelum datang ke Jepang? Sebetulnya, saya merasa menyesal, tidak lebih cepat jatuh cinta pada Indonesia. Seharusnya, rasa nasionalisme sekuat ini sudah saya miliki sejak dulu dan tidak perlu menunggu merantau jauh-jauh untuk bisa menyadari betapa bangganya menjadi seorang anak Indonesia.

Cinta bangsa seharusnya ditumbuhkan dari pendidikan budaya dalam keluarga, di sekolah, dan masyarakat sejak usia dini. Saat saya menjadi siswa SMP bertahun-tahun silam di Jakarta, saya masih diwajibkan membaca karya sastra Indonesia. Sebut saja Layar Terkembang dan Anak Perawan di Sarang Penyamun karangan Sutan Takdir Alisjahbana. Namun dewasa ini, penanaman nilai-nilai budaya seperti itu telah semakin bergeser dan terlupakan. Padahal, hal ini penting dalam pembentukan karakter siswa yang notabene adalah generasi penerus bangsa. Contoh lain, pemerintah Indonesia belakangan menyadari tentang pentingnya penanaman nasionalisme, dan meyakini bahwa penambahan porsi jam mata pelajaran Agama dan Pendidikan kewarganegaraan akan menjadi solusi yang baik. Sedangkan, pelajaran-pelajaran tersebut masih seringkali didominasi oleh tumpukan teori dan hafalan.

Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran pernah berkata, “Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.” Oleh karena itulah, rasa cinta tanah air tidak akan dimunculkan hanya dengan menghafal teori dan menambah porsi jam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah-sekolah. Cinta tanah air tidak akan berakar jika generasi muda tidak dididik untuk mengenal kebudayaannya dari dekat.

Saya rindu, generasi muda akan terus-menerus jatuh cinta pada Indonesia. Saya rindu, perasaan cinta itu tumbuh seiring dengan pertumbuhan kami sebagai pribadi-pribadi Indonesia. Saya rindu, kami-kami ini akan dapat memperkenalkan Indonesia kepada dunia luas bahwa mereka akan merugi jika tidak mengenal Indonesia. Untuk itu saya rindu, pelajaran “kewarganegaraan” dan “budaya” adalah pelajaran yang menfasilitasi siswa untuk menggunakan inderanya demi meresapi budaya bangsa. Mumpung masih berada di bumi Indonesia, saya rindu generasi muda melihat, menyentuh, mencium, mendengar dan membaui budaya itu sendiri. Karena tempat mana lagi yang lebih tepat digunakan sebagai ajang eksplorasi budaya bangsa, kalau bukan di lahan bangsa itu sendiri?

Saat ini, saya berada dalam jalur pekerjaan yang memungkinkan saya memiliki akses pada pendidikan anak usia dini. Saya akan memulainya dari sini. Dari anak-anak muda ini, saya akan menularkan virus jatuh cinta pada tanah air. Dan saat mereka bertumbuh dewasa, saya berharap virus itu sudah merajalela di setiap nadi dan pembuluh darah mereka. Dan bahwa kami, anak-anak Indonesia, akan membawa virus itu kemanapun kami pergi.
***


Selain perjalanan pendakian ke Gunung Gede, salah satu highlight tahun lalu bagi saya adalah mengikuti Kemah Kepemimpinan yang diselenggarakan oleh Tempo Institute. Kemah Kepemimpinan yang merupakan bagian dari KEM (Kompetisi Esai Mahasiswa) itu mempertemukan 30 anak muda dari berbagai tempat di Indonesia untuk mendiskusikan ide tentang bagaimana menjadi Indonesia. Seleksi pertama dilakukan dengan meminta para kandidat untuk menuliskan sebuah esai. Esai di atas adalah esai yang saya tulis untuk KEM Menjadi Indonesia 2013.

KEM membuat saya belajar banyak hal, dan mendapatkan banyak teman baru, manusia-manusia yang memiliki idealisme masing-masing dan tidak ragu menyampaikannya dalam diskusi. Perbedaan jelas terlihat diantara kami, dan tidak sedikit yang berdiri di kutub-kutub ekstrim dari sebuah pandangan. KEM lalu mempertemukan kami-kami ini dan memfasilitasi sebuah think tank, membiarkan masing-masing orang berproses dan mengemukakan idenya, imajinya tentang sketsa Indonesia. Proses ini bagi saya terbilang baru, karena saya didorong untuk berpikir dan secara jujur mengemukakan sketsa saya sendiri, untuk pertama kalinya secara intens mempertanyakan pada diri sendiri, "bagimu, apa itu Indonesia?" dan "apa yang membuatmu mau menjadi Indonesia?"

Dalam KEM ini pula muncul sosok unik Rocky Gerung, seeorang yang langsung mengambil posisi pengusik, seorang penggoda seperti dalam cerita Adam dan Hawa. Singkatnya, ia mempertanyakan ideologi 30 anak muda ini. Menantang dan menuntut jawaban logis, apakah kami percaya pada Republik? Sungguhkah Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sesuatu yang patut dipertahankan, tidakkah akan jauh lebih baik dan adil bila kita menjadi sebuah negara serikat? Pada kami yang meyakini Undang Undang Dasar 1945 dan pada kami yang sentimentil mengungkit kisah perjuangan para pejuang untuk mempersatukan negeri, pak Gerung bertanya, "Mengapa?" tidakkah ideologi kami tentang NKRI adalah ideologi yang "dipaksakan" melalui pelajaran Sejarah, melalui hal-hal yang kami telan mentah-mentah dari orang-orang dewasa di sekitar kami? Sesuatu yang menjadi bagian dari kami begitu saja, tanpa kami pertanyakan, tanpa kami hayati sebagai sebuah ideologi. Mengapa memaksakan negeri ini harus tetap menjadi suatu kesatuan? Tetap menjadi sebuah Republik Indonesia? Ia bahkan bertanya apa yang kami pahami dengan nasionalisme, sebuah pertanyaan mendasar yang ternyata telaah jawabannya jauh lebih dalam dari yang saya yakini selama ini.

Pak Gerung memang pengusik yang handal.

Kurang lebih seperti itu sepenggal nostalgia saya tentang KEM 6 bulan yang lalu. Kami diusik untuk merumuskan kembali "menjadi Indonesia". Lalu, tanggal 30 Maret kemarin, rekan-rekan dari Tempo Institute beserta para alumni berangkat ke Bandung untuk memulai rangkaian kegiatan Menjadi Indonesia 2014. 
Saya duduk di depan komputer dan sebuah senyu menyungging begitu saja. Sudah dimulai lagi, ternyata. Rangkaian kegiatan yang saya harap akan tetap menjadi proses berpikir ulang bagi para anak bangsa, dalam perjuangan merealisasikan sketsa Indonesia. Menurut saya ini proses yang penting. Tahun ini pun, saya berharap KEM akan menjadi wadah dimana anak-anak muda Indonesia dari berbagai paham, idealisme dan sudut pandang akan berkumpul dan berlatih memahami perbedaan, toleransi, dan patriotisme.


I belong to the pure sky and the line of stars on the faraway milky way

Of all my family and relative's houses, I love my grandparents' one the most. It is a 2 stories house in a village in Ambon with spacious garden, which my grandma filled with beautiful flowers and her collection of ferns. As far as I can remember, the garden was always  colorful, smelled great and there were no mosquitos around because gran planted some plants that she said was the natural repellent of mosquitos. There's a big tree by the left corner of the garden and when I was a child, there was a tire swing hanging on that tree. I spent a lot of time there, by that tire swing.

My grandfather said that my middle name was given to me because for some months the flowers around their garden weren't blooming as usual, and no one knows why. But then on the day I was born, all of the flowers suddenly bloomed in the same time. Grandpa said that he remembered the day as the day when the garden smelled the best. I still can't figure out whether my grandfather was telling the truth, or if he was just being a very convincing storyteller.

Last Christmas was a full house in my grandparents' place in Ambon. My aunties, uncles, cousins from all places were there. We laughed, danced, teased each other, chat, and had fun together and it was amazing. Everyone arrived at different times so after three days, we realized we had a problem. There wasn't enough room and bed for everyone to sleep.. my cousins and I find it pretty funny because since that everyone started to mark their place to sleep. On the couch, on the floor using mattresses, sneaking to my grandparents' room at night and sleep between them etc. Me, being a nomad, I slept at different spots every night muahahaha. I wasn't being a nomad alone. One of my cousin, 5 years younger than me turns out to be a nomad himself and we explored all the creative alternative for a sleeping spot every night. Then one day he came with this brilliant idea. On the second floor there's an open air space looked like a balcony where my grandparents always sit together for afternoon tea. He suggested we slept on that balcony and pretend we were out camping and sleep under the stars.

It was amazing.

I don't have many starry nights in Jakarta, and when I did, the stars don't really fill the whole sky, everyone kept saying that it was because of the pollution, the dirty air.
But that night in Ambon, I really slept under the stars. I lay down with my blankets and pillows and looked up and the line of stars... it was a magical view. I think the stars lulled me to sleep that night. Another nice part was waking up. I woke up to the sun rays on my face and the sky got brighter and brighter until it was pure blue and I really enjoyed the view. 

I really love that house.

That, plus a beach behind the house.


I often think that we do have to travel a lot, revisiting old places and trying to go somewhere new too, just to see where you really belong. We could not choose the place where we were born but certainly we can choose to see other places too if we want it.

I still have some posts left about trip to Ambon. But... I will probably have to put in on hold since next week will be the big day of the last exam ever in the university before graduation yaaay. So this week I'll be concentrating on that and hope to be back with good news. Anyway Jude is starting a new project combining Instagram and music here.  It's called Anthropoplogy: Music on your feed, I've seen her selection and most are new to me and I'm happy about it because she's broadening my range of knowledge of music. Hahaha.. I'm particularly attached to Zedd and his song "Find You" which is also will be one of the soundtrack for Divergent movie. Give it a try probably you'll be surprised.

Wish you a happy weekend!
I'm going to lost myself now reading Freud, Adler, Jung, Kelly and everyone else in between :3