Mendaki Papandayan

Pada dasarnya, gue ini emang anak alam. Gunung, pantai, danau -- apapun yang judulnya bertualang di alam bebas umumnya membuat gue bersemangat dan tertarik. Rasanya seperti di rumah sendiri kalau berada di alam, dan banyak hal yang bisa ditemukan dalam perjalanan menjelajah alam.


Entah sejak kapan, gue merasa ada sesuatu yang lebih selain sekedar menikmati siluet hangat matahari terbenam, atau sensasi geli karena pasir dan ombak yang bermain di kaki, atau bau rumput dan daun basah di gunung. Dibalik semuanya itu selalu ada momen gue bisa mensyukuri apa yang ada, merasa disapa Tuhan lewat pemandangan-pemandangan itu dan selalu ada refleksi ke dalam diri sendiri yang bisa dilakukan, setiap kali gue hiking, naik gunung, atau berenang di pantai. Gue rasa setiap orang memang butuh channel sendiri untuk berefleksi, meditasi atau merenungkan ulang kehidupan, dengan caranya masing-masing. Karena tanpa itu, ribuan momen dan hal-hal yang terjadi dalam hidup akan lewat begitu saja, tanpa kita bertumbuh melaluinya. Sibuk sih, setiap hari. Jadi nggak ada waktu untuk berpikir mendalam tentang hidup. Bertualang di alam memaksa gue untuk hening sejenak, dan belajar mendengar. Menutup mata dan mencoba mendengar suara detak jantung sendiri setelah susah payah mendaki gunung. Menghirup nafas dalam-dalam dan mencoba mendengar suara sebenarnya dari ombak yang pecah di pantai, mencoba tekan tombol mute untuk suara-suara lain, baik itu suara pikiran sendiri, suara pedagang yang menjajakan jajanan, atau suara teman-teman yang riuh bermain air. Momen-momen seperti itu biasanya jadi saat-saat gue bisa kembali membulatkan tekad, balik lagi, ke track yang bener kalau selama ini ternyata sudah melenceng jauh. Momen-momen yang gue harap bisa terjadi lebih sering.

Perjalanan alam yang jadi highlight tahun lalu adalah mendaki Papandayan. Gue suka dihina-hina kalau menyebut Papandayan sebagai gunung. Kata banyak orang, "Papandayan mah bukit!". Tapi berhubung Papandayan itu tingginya 2.665 meter, pernah meletus dan menghancurkan 40 desa juga menewaskan 2.957 orang di tahun 1772, dan dinyatakan masih aktif dengan kawah dan lubang magma yang dapat dengan mudah terlihat -- yak, Papandayan sangat memenuhi syarat untuk disebut sebagai gunung. Maaf saudara-saudari di luar sana yang kukuh dengan pendirian bahwa Papandayan itu bukit, tapi bukit nggak meletus, percayalah.

yang begini dibilang bukit? Bercanda ya?
Setelah berunding dengan Cinday dan Pingi, akhirnya diputuskan Desember 2014 lalu kami akan mendaki Gunung Papandayan. Ini pendakian Papandayan yang pertama kalinya buat gue dan mungkin yang ke-entah-berapa-belas-kalinya bagi Cinday dan Pingi. Menganut agama the more the merrier, kami menyeret Pilip, JD (bacanya Jeydih), dan Herman untuk meramaikan pendakian (baca: memaksa pria-pria ini jadi porter. Ha-ha).

Gue inget hari itu, 11 Desember 2014, ada banyak hal yang terjadi sekaligus. Ada seseorang yang penting yang lagi liburan di Jakarta dan sebisa mungkin gue pengen menghabiskan waktu bersama anak ini. Maklum ya bapak-ibu, kalau lagi nggak di Jakarta, orangnya jauh dan secara fisik nggak bisa dijangkau. Jadi gue mengiyakan ajakannya untuk melewati siang bersama sebelum sore nanti meluncur ke Semanggi untuk bertemu Cinday cs, naik bus ke Kampung Rambutan, tidur di perjalanan dan bangun-bangun sudah di Garut. Itu rencana sempurna gue. Tapi namanya juga hidup. Hal yang tidak terduga bisa terjadi kapan saja.

Singkat cerita, rencana melewati siang merembet jadi melewati sore juga, dan gue sukses dicerca oleh Cinday. Waktu akhirnya menyusul ke Kampung Rambutan, Cinday dan Pilip sih kelihatan banget capeknya, dengan JD berusaha tetap menceriakan semua orang, padahal dia yang paling capek karena menunggu gue yang nggak tau diri ini di Semanggi dari jam 4 sore (JD, besar upahmu di surga nak. Maafkan saya yang khilaf ini). Pingi dan Herman juga belum sampai, karena stuck dengan kisah ban motor bocor dan bus yang tidak kunjung datang. Setelah menunggu yang rasanya berabad-abad, berusaha menceriakan Cinday dan Pilip, dipelototin Pilip karena berani-beraninya nge-charge HP di counter pulsa di terminal, beli cemilan bersama JD di Indomaret dan terheran-heran kenapa di terminal nggak ada ATM, Pingi dan Herman akhirnya sampai. Setelah merapikan tas dan memastikan tidak ada yang tertinggal kami akhirnya naik bus menuju Garut dan resmi memulai perjalanan.

Gue kasih tau ya, bus Garut berhenti di beberapa titik dan pedagang-pedagang tahu, jeruk, tissue dan lain sebagainya melompat ke dalam bus, berteriak dengan sangat keras dan bahkan menyalakan senter supaya para penumpang bangun. Gue butuh waktu beberapa saat untuk mencerna apa maksudnya orang-orang ini bawa-bawa senter dan menyorotkannya ke wajah orang-orang yang tidur. JD yang duduk di sebelah gue malah lebih terganggu karena bau rokok dari smoking room (iya, busnya punya smoking room) di belakang bus. Dia memutuskan untuk beli jeruk demi meng-counter bau rokok. 'Jey, meskipun elu nggak nyium bau rokoknya, efek untuk perokok pasif yang elu benci itu kan nggak hilang.............' begitu pikir gue saat itu, tapi berhubung tampang JD udah senewen, gue memutuskan untuk mendukung saja semangat berapi-apinya untuk mengupas jeruk. Daripada ditimpuk jeruk kan.

Pukul 2 pagi kami sampai di Garut. Bergabung dengan para pendaki lainnya, kami menyewa angkot. Selanjutnya harus menyewa mobil pick-up bak terbuka dan gue menikmati angin subuh yang dingin dan langit yang sedikit mendung hari itu. Sempat terpikir, kalau ibunda melihat putrinya naik mobil model begini di bak-nya, dijamin langsung didaulat untuk turun. Si mami bakal dengan segera mengkategorikan duduk-duduk di pick-up bak terbuka sebagai kegiatan radikal yang meneriakkan kata "pemberontakan" dan "berandal" dengan keras. Tapi sungguh, tidak seburuk itu. Lebih banyak sisi lucu dan serunya. Lagipula, untuk melawan dingin memang perlu banyak-banyak tertawa.

selamat pagi dari kaki Papandayan
Hujan mengawali pagi kami dan sambil menyeruput kopi dan teh, kami memandangi awan tebal di atas gunung, awan yang membawa hujan. Di dekat kami ada kelompok partai politik yang dengan bersemangat mengadakan apel di tengah-tengah hujan. Semakin keras komandan upacara berpidato, semakin deras hujannya. Karena tidak tahan, para peserta membubarkan diri. Kalau di Paskibra, itu namanya bunuh diri. Anggota pasukan hanya dapat bergerak dengan mematuhi perintah komandan. Jadi kalau hujan dan komandan tidak memerintahkan untuk bubar, yasudah nikmati saja guyuran hujan. dan benar saja, si komandan yang ditinggal di lapangan langsung ngamuk, memerintahkan dengan segera supaya semua peserta kembali ke lapangan. Gue dan yang lain kontan ngakak. Kasihan juga sih, sebagian dari mereka berdiri sampai gemetaran.

Gue lupa siapa yang ngomong. Mungkin Pingi, mungkin juga Herman. Mereka menyusun teori bahwa kelompok parpol ini adalah pembawa hujan. Kemanapun mereka pergi, awan hujan akan mengikuti mereka dan ada baiknya kami menghindari bepergian bersama kelompok ini. Awalnya gue menganggap teori itu bercandaan di pagi hari. Tapi betulan, setelah kelompok parpol itu akhirnya menyelesaikan upacara, matahari mulai menampakkan diri dan langit perlahan-lahan jadi cerah. Kami mempersiapkan diri, mengangkut tas, mengambil foto-foto, menyeruput sedikit minuman hangat lagi dan mulai mendaki. Pingi dan Cinday sudah cerita, Gunung Papandayan itu bisa didaki dengan cukup cepat, berbeda dengan Gunung Gede. Tapi pendakian bisa lebih lama karena Papandayan menawarkan pemandangan cantik kawah-kawah, hutan-hutan hijau, hutan-hutan mati dan pemandangan menarik lainnya. Beberapa menit berjalan saja gue udah langsung paham maksud Cinday dan Pingi.

Janji teman seperjalanan untuk melibatkan sebanyak mungkin tawa dan keceriaan
Pemandangan awal yang disuguhkan oleh Gunung Papandayan adalah batu-batu besar. Jalannya dipenuhi dengan bebatuan, semuanya warnanya kuning-cokelat dibingkai campuran kabut dan asap dari kawah-kawah di bawah kami. Jalannya belum terlalu menanjak.


Gue memang baru dua kali mendaki gunung. Pendakian pertama dilakukan di Gunung Gede, untuk merayakan ulang tahun ke-23. Saat itu tim pendakian hanya beranggotakan tiga orang. Ternyata, memang lebih seru mendakai berama-ramai seperti ini. Gue selalu berpikir kalau mendaki gunung itu betul-betul seperti melihat hidup. Perjalanannya tetap sendiri-sendiri, masing-masing membawa beban sendiri-sendiri, tapi seperti yang Cinday bilang, "gunung itu tetap harus didaki dalam kelompok." Seperti halnya hidup, yang tidak bisa dijalani sendirian. Manusia itu makhluk ringkih sih, kita mah apa dibanding segala kekuatan besar lainnya yang mengelilingi kita.

Herman dan Pingi percaya gue bisa akrobat cium lutut sambil iket sepatu.
Mereka juga percaya kami cocok jadi model untuk poster film.
Yang gue syukuri adalah karena perjalanan ini dilakukan bersama teman-teman yang stok energi dan keceriaannya luar biasa banyaknya. Nggak ada yang bilang mendaki gunung itu mudah, bahkan gunung dengan medan cenderung "rata" seperti Papandayan sekalipun. Jadi kalau mendaki gunung dengan geng yang grumpy dan mudah terusik dengan hal-hal yang membuat tidak nyaman (keringat, bawaan yang berat, jalan yang menanjak, matahari yang terlalu menyengat dan lain sebagainya), perjalanan akan sulit dinikmati. Kalau gue ingat-ingat lagi sekarang, banyak hal-hal konyol yang kami lakukan selagi menanjak. Mendiskusikan kemungkinan kami dikejar oleh si parpol pembawa hujan, mendiskusikan kehidupan percintaan selagi terengah-engah menanjaki jalan berbatu,  berdebat apakah yang warnanya putih-putih itu asap, kabut atau awan (??) sampai menggoda pasangan dalam tim kami yang tampaknya lagi latihan pose foto pre-wedding.

Adalah Pingi, yang sekali dalam setahun bisa ambil pose merenung dengan serius macam ini
Setelah berjalan hampir satu jam, kami tiba di kawasan kawah yang mengeluarkan bau sulfur yang menyengat. Awalnya gue pikir itu bau telur rebus, lalu "mungkin telurnya kelamaan direbus ya. Baunya jadi aneh.", lalu "sebentar, ini macam bau telur busuk." Lalu Herman dengan kalemnya menjelaskan, "Ini bau belerang. Ga enak kan baunya? Itu pertanda nggak bagus buat badan. Marilah bergegas menyeberangi area ini." *pasang muka cool*

.....Ngomongnya dari tadi bisa kali Man.

Setelah melewati kawah-kawah belerang, kami mulai disuguhi pemandangan hijau. Gue udah mulai bertanya-tanya, ini gunung apa tumpukan batu? Daritadi yang kelihatan hanya batu-batu berbagai jenis, bentuk dan ukuran. Maka ketika mata menangkap barisan pepohonan, kami berhenti lagi untuk mengambil foto. Gue rasa, perjalanan pendakian Papandayan ini lebih cocok disebut hunting foto daripada mountain climbing.

Lama-lama encok si Herman
JD udah siap guyur orang pake air. Dia lupa nggak ada yang lagi ulang tahun.
Hal unik yang nggak gue temukan dalam perjalanan sebelumnya adalah bagaimana semua orang menikmati kegiatan masing-masing sambil tetap berada di dalam kelompok. Pingi dan Herman berbagi musik, Cinday dan Pilip berbagi cinta *eh*, entahlah mungkin mereka mendiskusikan prospek Gunung Papandayan sebagai tempat untuk prewedding photoshoot mereka, dan JD si ahli biologi sibuk mengamati segala jenis hewan dan tumbuhan yang ditemuinya (kalau nggak dilarang gue rasa dia akan ngantongin semua sampel tanah, batu, daun dan lain sebagainya).

Gue? Menghirup rakus udara segar pegunungan dan memikirkan tentang hal-hal yang terjadi sepanjang tahun 2014. 2014 banyak memberi ruang buat gue mengeksplor diri sendiri, mempertanyakan hal-hal yang selama ini gue terima aja, memberanikan diri melihat lebih dalam dan mengakui bahwa banyak hal yang selama ini gue take for granted. Persahabatan, salah satunya. Saking terbiasanya dengan manusia-manusia luar biasa di sekitar gue, gue suka lupa kalau mereka mungkin nggak akan ada di sini selamanya. Saking terbiasanya dengan kehadiran seseorang, gue lupa untuk memberitahu mereka kalau dunia gue nggak akan sama kalau mereka nggak ada.


Karena gunung selalu menarik keluar refleksi macam begini, persiapan mental jadi lebih diperlukan dibanding ketika pergi main ke pantai. Gue inget waktu pendakian pertama kali ke Gede, salah satu ranger di sana ngomong begini ketika tahu itu perjalanan pendakian pertama, "If you do it right, in front of the mountain you will lay open like a book. An open book for yourself."


Mungkin itu sihirnya gunung buat gue ya. Belum tentu juga sih yang lain merasakan hal yang sama. Sementara itu, perjalanan semakin menanjak. Batu-batuan dan kawah sekarang sudah digantikan dengan pemandangan hijau, tanah yang gue injak bukan lagi tanah yang kering kecokelatan, tapi sudah rumput-rumput hijau. Rasanya seperti sedang menembus pedesaan. Gw spot JD bertampang seperti ini dan langsung tertawa. JD memang cocoknya berada dikelilingi alam seperti ini ya.


Gue inget di satu titik di pendakian Papandayan Desember lalu, gue bertanya-tanya dalam hati apakah jalur kami ini adalah jalur yang benar. Tanjakannya mulai terasa berat, semuanya sudah berhenti haha-hihi sana-sini, kaki JD sudah kram beberapa kali dan pada dasarnya semua orang sudah lelah. Gue beberapa kali menangkap ekspresi wajah ragu dari Herman, yang memimpin jalan hari itu, tapi dia mencoba stay cool aja dan memutarkan lagu Dust in the Wind nya Kansas.


Karena udah capek banget, biar nggak menjadi-jadi gue mencoba memusatkan konsenterasi dengan mendengarkan lirik lagu yang diputar Herman keras-keras dari hapenya. "I close my eyes, only for a moment and the moment's gone. All my dreams, pass before my eyes a curiosity." Lalu mendadak disuguhin pemandangan ini.


Gue berhenti sebentar, menutup mata, mendengarkan bunyi jantung yang berdebar keras karena habis menaiki tanjakan panjang, mendengarkan suara-suara di sekitar gue dan tiba-tiba merasa memahami lirik lagunya si Kansas itu. "close my eyes, only for a moment and the moment's gone." Gue mencoba mengingat, momen apa ya, di 2014 yang rasanya lewat begitu saja saat gw menutup mata? Lalu yang terpikir malah, rasa-rasanya 2014 lewat begitu saja. Saking cepetnya waktu berlalu. Gue membuka mata dan mikir, oke cukup perenungannya. Malah jadi depresi. Hahahaha.

Ketika akhirnya sampai di Pondok Seladah, kami mendirikan tenda dan mulai memasak. Pondok Seladah ini daerah lembahan, dan dinginnya ampun-ampunan. Bisa gemetar sampai ke tulang. Suhunya sih berkisar 15-17 celcius, tapi ketika angin bertiup... mak. Pilihan paling logis jelas adalah meringkuk dalam sleeping bag yang hangat di tenda. Tapi ini gunung, di malam hari. Ada satu pemandangan yang demi apapun nggak akan gue lewatkan: bintang. Jika cuaca cerah, berada di ketinggian seperti ini, jauh dari lampu-lampu kota dan polusi, langit akan memamerkan starry night show yang tidak ditemukan di tempat lain. Gue bergabung dengan Pingi dan Herman yang merapatkan diri di dekat api kecil parafin, sambil membawa sebungkus marshmallow untuk dicemil ramai-ramai.

Baru tau kalau marshmallow dan malam berbintang adalah pasangan yang romantis
Ketika mendongak, gue bisa melihat ribuan bintang. Ribuan bintang memenuhi langit seperti berdesak-desakan. Dan gue nggak pernah nggak terpesona dengan langit berbintang. Langit berbintang adalah lukisan alam yang paling gue suka, nomor satu, diikuti pemandangan sunset dan hujan. Sayangnya kamera hape nggak cukup canggih untuk menangkap masterpiece di langit Papandayan malam itu, dari ketinggian 2.400 mdpl. Herman berbisik pelan, "bersyukurlah karena kita disuguhi pemandangan ini, padahal dari pagi tadi langitnya mendung."

Tiruan pemandangan ini, dua malam sebelumnya gue saksikan di langit-langit Planetarium Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Ketika menyaksikan pemandangan aslinya, nggak ada yang lain yang gue harapkan selain bisa teleport orang-orang yang gue sayang untuk berdiri di samping gue malam itu (selain yang udah ada di sana) dan menunjukkan pemandangan itu. Dan untuk berterimakasih kepada mereka karena mereka membuat gue merasa seperti pemandangan ribuan bintang itu: beautiful, precious and loved. Bisa dibilang diantara semua pemandangan indah yang disuguhkan Papandayan, pemandangan langit malamnya adalah pemandangan favorit gue. Setelah menemukan Orion dan Sagitarius (dengan bantuan JD), gue menyerah dengan udara dingin dan kembali ke tenda.

Paginya, kami kembali mendaki, melewati hutan mati dan menuju Tegal Alun, padang Edelweiss di Gunung Papandayan. Pagi ini, karena sudah beristirahat dan sarapan enak, semuanya sedikit lebih bersemangat.

Three musketeers
Gue nggak tahu harus merasa apa soal hutan mati. Di satu sisi, gue bisa bilang itu hutan memang punya pemandangan yang bisa bikin terdiam sesaat. Kesannya misterius dan sunyi. Gue juga paham kenapa hutan mati Papandayan disebut-sebut sebagai "Alpine" nya Indonesia.


Masalahnya, Alpine itu ya meranggas karena musim dingin, yang ini kan karena pohonnya benar-benar sudah mati. Pohon-pohon ini menjadi pohon mati ketika Gunung Papandayan meletus ratusan tahun lalu. Kalau dipikir-pikir, mendadak gue merasa kecil sekali ketika berada dikelilingi pepohonan itu. Mereka sudah ada disana ratusan tahun lalu. Ratusan tahun lalu, seperti apa tanah di tempat ini? Dunia ternyata sudah tua sekali ya.

Happiness is contagious, believe me.
Yang langsung terasa di hutan mati adalah betapa panasnya tempat itu. Gue selalu mengasosiasikan daerah tinggi dengan udara yang bersih dan sejuk, dengan panas matahari yang ditahan oleh rimbunan pohon-pohon. Berhubung pohon disini memang tingal batang, ya apa mau dikata. Setelah puas foto-foto di hutan mati, kami melanjutkan perjalanan. Tujuan akhir dari pendakian Papandayan adalah mencapai Tegal Alun, hamparan Edelweiss seluas 35 hektar. Waktu mendaki Gede dulu, gue nggak mampir ke Surya Kencana, jadi belom sempat melihat seperti apa sih bunga yang disebut-sebut sebagai bunga abadi itu. Jalan menuju Tegal Alun ternyata masih didominasi oleh tanjakan-tanjakan kejam. Di sebagian besar tanjakan itu sudah disediakan tali untuk membantu pendaki, sesuatu yang oleh Pingi disadari sebagai sesuatu yang baru.

Diberkatilah siapapun itu yang menaruh tali disana
Ngomong-ngomong soal pendakian, nyokap adalah orang yang paling nggak rela setiap kali anaknya menggendong ransel. Padahal dia juga mantan MAPALA, dan tahu betul bahwa naik gunung itu nagih, untuk keteduhannya, untuk refleksi yang diberikannya, untuk sensasi nyut-nyutan di kaki, untuk suara detak jantung yang terdengar jelas di telinga, untuk pemandangan awan, bintang, matahari terbit dan untuk persahabatan yang terjalin di antara para pendaki. Tapi pada akhirnya doi selalu mengizinkan sih, karena gue rasa nyokap juga tahu kalau pemandangan seperti ini bukan pemandangan reguler harian, dan kenyataan bahwa kita perlu berjuang untuk melihatnya membuat pemandangan itu berkali-kali lipat lebih worth it untuk dinikmati.


Gue nggak begitu ingat berapa waktu yang dibutuhkan untuk mendaki dari Pondok Seladah - Hutan Mati - Tegal Alun. Yang gue ingat hanya Herman yang mengingatkan kami untuk menambah kecepatan, karena mendadak mendung lagi. Pingi menyebutkan sesuatu tentang "mungkin kelompok partai politik itu udah berkemah di daerah Pondok Seladah. Jadi, naturally, mereka manggil hujan." Gue kok ya antara mau ngakak dan nelangsa juga mendengarnya. Berjalan di medan yang cukup datar, gue tahu Tegal Alun sudah di depan mata ketika Cinday dan Pingi memanggil-manggil gue dengan riang.

Tegal Alun. Edelweiss. Akhirnya.

I felt like running with my arms stretched in here
Bunga Edelweiss ini bunga original pegunungan-pegunungan tinggi seperti Himalaya dan Alpen. Namanya berasal dari bahasa Jerman yang artinya "noble" dan "pure". Mereka disebut-sebut sebagai the star of the snow, karena warnanya yang putih bersih. Di banyak negara, Edelweiss termasuk tanaman yang dilindungi, artinya nggak boleh dipetik dan dibawa turun dari gunung. Katanya, dulu Edelweiss hanya tumbuh di tempat-tempat yang sulit dijangkau oleh manusia.

Star of the Snow
Kami menghabiskan cukup banyak waktu di padang Tegal Alun. Banyak merenung, banyak tertawa, merenung lagi, bahkan Pingi dan Herman sempat-sempatnya photoshoot dengan toga wisuda. Gue baru sadar kalau mereka bawa-bawa toga sampai ke atas. Sungguh berdedikasi.

"Laughter will always be the best medicine"
Ceritanya terharu melihat Pingi dengan toga
Gue mendaki gunung bukan karena ingin dunia -- orang lain melihat gue sebagai pendaki gunung. Gue mendaki gunung justru supaya gue bisa melihat dunia, dari perspektif yang berbeda. Hari itu gue berdiri di depan hamparan Edelweiss, menarik nafas dalam-dalam dan berjanji pada diri sendiri untuk jadi seseorang yang lebih baik lagi begitu turun gunung. Jadi seperti Edelweiss yang bertahan dalam situasi keras, tetap pure  dan jujur pada diri sendiri. Pendakian ini jadi perjalanan penutup 2014 dan saat itu gue merasa 2015 akan jadi tahun yang banyak membawa perubahan, banyak tantangan dan petualangan-petualangan besar. Gugup? Nggak usah ditanya. Perubahan bukan hal yang mudah, tapi gue percaya bahwa ketika diletakkan dalam satu path , God provides you with wings.



 Ketika berjalan turun, tim yang isinya enam orang super ribut mendadak hening. Mungkin itu juga ya salah satu "mantra" nya gunung. Atau mungkin juga semua orang mulai lelah, atau mungkin karena kabut turun perlahan, semuanya mendadak gloomy. Kami kembali dalam keheningan yang tidak biasa, menuju Pondok Seladah, memasak sebentar, menanti hujan berhenti dan berjalan menuruni Gunung Papandayan.

Dan selalu, gue bersyukur.

Can you hear the woods calling?


Walt Disney World Cultural Representative Program - Journey Begins

My late father always taught me that in life I can't only be a spectator,  I have to go run, participate, try things, explore the world and leave a place better than before or else I'll end up watching my life goes by without actually being part of it. It was such an abstract concept for me to understand that time. When he was with me watching the stars at night, he'd tell me that I should go see these stars from different side of the world. He taught me the importance of saving, as he said, "someday you'll want to go see places I can't afford you financially to go. Or maybe I'll be too old to be with you but that shouldn't stop you to go anyway." As I grow older, his words ring clearer and clearer.

Bearing his words in mind, I always try my best to be available for life to happen to me. So when I heard about this once-in-a-lifetime opportunity with Walt Disney World, I applied without even thinking. There were friends with me back then, the people who were as excited as I was, and together we read blogs after blogs, discussed how we can write an epic cover letter, composed our CV and all that. It was 2013, I sent my first application and Disney replied back saying that there is no open vacancy that time and if I'm still interested I can try again the next year.

2013 passed pretty fast, and early in 2014 someone on Facebook posted a quote from Disney which instantly reminded me of the Cultural Representative Program (CRP).



CRP is a 12-month program in which Walt Disney World invites people from different countries to authentically represent the countries Disney has re-create in various pavilion (mostly) in EPCOT park. Currently there are 11 pavilions each representing Mexico, Norway, China, Germany, Italy, USA, Japan, Morocco, France, UK and Canada. Other regions that don't have their own pavilion but are represented through Animal Kingdom park and Animal Kingdom Lodge are Brazil, Southeast Asia (India, Indonesia and Thailand) and Sub Saharan Africa.

France Pavilion, EPCOT
The idea is to give Guests the realistic touch and feel experience. With the pavilion, signature food, native cultural representative and Disney's magic, people would feel as if they were really visiting that particular country. So basically a Cultural Representative job is to bring their own culture to life at Walt Disney World.

Disney Animal Kingdom, new home for the next year if I got accepted
I applied for the second time that night, completely aware I was -- am the biggest nerdiest dreamer ever. Who am I to send Disney World an application from different side of the globe trying to convince them that I'm half-Mulan (or Merida)-half the bouncy Tigger and they should let me stay there as a Cast Member? I'm glad I did. After all God causes everything to work together for the good of those who loves Him and are called according to His purpose for them. The journey begins.


2014 - The Year of Rejection and Blessings in Disguise

January
A happy kid who got to be back to her birth town in Ambon. Spent Christmas and new year with the whole family; a full house as her family would put it, and realize that to her, her family matters the most.
Suli Beach, at its sunniest day
February
Honestly could not remember what happened. Probably was lying half alive over research journals, hours of recorded interview tapes, and all sort of preparation for the theses defense.

March
Undergraduate theses defense -- Failed.
Sent home with teary eyes (it was her youngest brother's birthday. Which was so sucks, she did not want to ruin his day), but received a lot of support from the most unexpected people.

April
Mardi Wu, CEO of Nutrifood. Photo from here
Challenged herself and applied to the prestigious internship with Nutrifood for marketing communication instead of the usual path for Psychology student; HR (Human Resources) Development. Made it to the final round of interview, met the hot Mardi Wu. But rejected nonetheless.

May
Applied to EF Global Internship Program -- Rejected
Photo from here
And then a very important person in her life returned home to Jakarta. Spent one single day with this person and had a long talk about friendship, love and exploring hidden feelings. For the first time realizing she is at great disadvantage when asked to describe her emotions and feeling verbally. Self esteem on its lowest point because it seems everything she did was never good enough.

Undergraduate theses defense, the second time -- Nailed it like a pro. HA HA. Take that, reviewers. One does not simply walked into a juvenile detention centre and failed the second time.

June
Officially graduated from the School of Psychology. Presented the 100 pages of qualitative research on "Juvenile Sex Offenders and Their Attachment to Their Parents" Dedicated and owe each and every single one of those 100 pages to these people:
  1. God, for giving me strength through these angels in disguise:
  2. Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, dan staff bidang Hubungan Masyarakat yang dengan ceria membuatkan surat izin dan mendukung saya agar “secepat kilat” menyelesaikan skripsi. Sebuah hal yang jarang saya temui ketika berurusan dengan birokrasi; sambutan dari Dirjen Pemasyarakatan menyisipkan semangat tersendiri dalam penyelesaian penulisan skripsi.
  3. Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Klas IIA Tangerang, seluruh staff yang bersabar menemani, memberikan insight, menjawab semua pertanyaan, menyemangati dan menawarkan bantuan untuk menjadi penguji demi menghilangkan rasa gugup untuk menghadapi Sidang Sarjana. Terimakasih Ibu Yenita dan Pak Rizal karena menjadi rekan diskusi yang luar biasa. Terimakasih kepada ke-32 Anak Didik Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria untuk waktu, inspirasi dan pelajaran hidup yang diberikan untuk saya. Terimakasih telah mengijinkan saya mengintip kehidupan pribadi kalian. Terimakasih juga untuk musik yang dimainkan dan tawa yang disuguhkan setiap kali saya datang. Ke depannya saya mendoakan segala yang terbaik untuk rekan-rekan.
  4. Prof. Bernadette, PhD. Old saying says, that a good educator teaches for a while, but inspire forever. Dear Bu Ber, I am forever grateful for every single lesson I got from you. There are too many moments when I doubted myself, what I am capable of, or lost and could not remember why I chose this path. But you will always remind me, listening to me, and supporting my rather unusual dreams. You made my problem your problem and offering fresh eyes to see things. Thank you for believing in me, for frowning when I say these are “silly dreams” of mine because for you they are not silly at all, for being able to talk about research and all psychology-related thing in one minute and switch mode then talk about going to FL on the next minute. Thank you for always praying for me, for giving me space whenever I need it and basically, for understanding me. Thank you Bu, blessed your soul.
  5. Drs. Nurcahyo, Psi. Pak Yoyok, kelas Psikologi Forensik adalah jenis kelas langka yang 1) selalu saya nanti-nantikan 2)akan saya ambil lagi dan lagi untuk mendapatkan ilmunya 3)diampu oleh dosen yang mengajar karena mencintai pekerjaannya sebagai pengajar. Terimakasih pak Yoyok, karena memberikan saya ruang untuk bertumbuh dan belajar, ‘menyentil’ seperlunya dan dengan bersemangat mendengarkan ide-ide saya, teori-teori dan juga apa yang saya temukan di lapangan. Terimakasih untuk mengingatkan bahwa perjalanan ini adalah perjalanan untuk dinikmati bukan untuk dikutuki. Terimakasih karena tidak hanya membiarkan saya bercerita ngalor ngidul tentang impian saya, tapi juga dengan serius menanggapinya dan memberikan berbagai masukan penting. Terimakasih untuk menjadi pembimbing paling gaul yang bisa diminta oleh seorang mahasiswa. Terimakasih pak, sudah diangkat menjadi ‘anak sendiri’. Sungguh, saya merasa disayang dan diajar.
  6. Ibu Juliana M, Dr.phil., M.Si. Life is never flat, you are so right, Bu. Terimakasih Bu Murni, untuk kata-kata dukungan, pelukan dan bantuan dalam menemukan logika ketika emosi terlalu melimpah menguasai. Alles ist in Ordnug, Bu, finally. And we grow wiser. Thank you for reminding me about this. I am looking forward for another insightful discussions and sharing sessions about life and everything in it over coffee together.
  7. Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, dosen-dosen yang menjadikan perkuliahan sungguh adalah warna tersendiri dalam hidup. Staff sekretariat lantai 4 dengan pertanyaan “kapan?” yang didengungkan sekitar 6 bulan terakhir ini dan staff lainnya yang membentuk kesatuan Fakultas Psikologi. Saya belajar banyak selama bertahun-tahun menjadi mahasiswi FP UAJ, saya belajar kembali memaknai menjadi manusia dan pada akhirnya, saya bersyukur saya berada di sini.
  8. Mami, Io dan Ido, terimakasih karena menerimaku yang kembali menjadi remaja moody, galak dan egois. Kalian-kalian yang selalu menjadi penyemangat, pendoa, sasaran kegalakan, dan tetap memanggilku anak / kakak setelahnya. Untuk menyaksikan perjalanan ini dari awal hingga akhir, untuk geregetan karena nampaknya lama sekali membuahkan hasil, untuk setiap pertanyaan dengan nada mencemaskan dan nada mengancam, untuk setiap lelucon dan waktu-waktu yang kita bagi bersama, terimakasih banyak.
  9. Bernadetta, terimakasih untuk doa, semangat dan keyakinan. It is always amazing to see how little distance affect us. Thank you for thinking of this research as if it was your own, for those brainstorming sessions and for challenging me non-stop. To think about it, we did start our theses together, right? Remember those times at those family restaurants? Those were great moments of great minds and lots of ice cream and junk foods, I guess. For love and always a safe place to return to, dank well, Loince.
  10. Terimakasih untuk Angelika yang mengerti dan selalu sudah lebih dulu “merasakan”. Terimakasih untuk menyederhanakan segala sesuatunya yang rumit, untuk jadi tim emergency yang mau datang bahkan di jam 10 malam dan menemani hingga subuh. For a friendship so deep, I am at loss describing it with words, thank you, Cindaynya.
  11. Terimakasih, Brigita untuk tidak juga menyerah dalam mendengarkan ocehanku dan mengubahnya menjadi brainstorming penuh inspirasi. Untuk berbagi pengalaman dan ilmu, dan untuk menganggap setiap kontak tentang skripsi sebagai sesuatu yang serius, untuk selalu menyisipkan humor (yang kebanyakan tidak disengaja itu), untuk menjadi teman yang seperti bintang (tidak selalu terlihat tapi selalu ada di sana), terimakasih, Brigita.
  12. Monica, terimakasih sudah bersamaku sejak dahulu kala, sejak nongkrongin kelas Statistik, bolos kelas Statistik, dan stuck lagi bersama Statistik. Terimakasih untuk merelakan waktu-waku santai untuk pusing bersama, untuk menyemangati, untuk mendengar atau untuk mengomeli. Terimakasih untuk mengingatkan bahwa normal adanya untuk sekali-sekali mengamuk, galau atau bahkan shut down sejenak, karena ini kan skripsi. Terimakasih untuk menjadi sahabat yang setia, lembut dan galak di saat yang perlu, untuk rekomendasi lagu-lagu, dan untuk rasa sayang, gomawo, tiya-ya. Saranghae!
  13. Cynthia, for prayers, for cheering me up, for always providing a good laugh. Thank you for tagging along with me, when together we climb mountains, both the true mountains and other ‘mountains’ too. Thank you for staying here, for patience, for logics and for hugs. For standing by me, always, for the tenth thousand times, thank you, Cynthia.
  14. C.J dan Iin, terimakasih untuk menemani, menyemangati, mengingatkan bahwa petualangan berikutnya selalu menanti. Terimakasih untuk musik, kopi, ramen dan pikiran-pikiran realistis ketika galau dan pembicaraan tentang mimpi ketika terlalu kaku. Karena bersama kalian, mimpi tidak pernah terlalu konyol, dan sejatinya hidup adalah untuk dinikmati.
  15. W, for tons of inspiration and heartwarming actions that you don’t actually realize you gave me. For encouraging, and never giving up even when it doesn’t look like I’m going to finish anything anytime soon. For silently rooting on me, and for being a best friend that you are. Cheers for years and years of friendship!
  16. Teman merantau bersama: Rin, Jen, Achien terimakasih banyak. Terimakasih karena tidak berhenti berbagi keping-keping momen kehidupan bersama-sama, bahkan sekembalinya kita semua ke Tanah Air. 本当にありがとう。こんなに仲良くになると、思わなかったの。君たちと出会って、よかった、よかった。これからも、よろしく! 皆と一緒にまたもっと先へ!
  17. Teman-teman K3J yang setia dengan bangku biru, dan rekan-rekan mahasiswa Jepang yang belajar Bahasa Indonesia dengan semangat di KANDA. Untuk selalu menularkan semangat belajar, dan bermain juga tentunya, terimakasih!
  18. Last, but not least, Kazuki, thank you for inspiring, understanding and being such a friend in the battle with 卒論. Get yours done as soon as possible! で、早く世界一の教育家になってください!今まで色々、ありがとう。
July
Embarked on a 10 days trip to explore Singapore, Ho Chi Minh City, Phnom Penh, Siem Reap, Bangkok and Phuket with her best friend/sworn travel mate (more posts on that later). Had a lot of fun -- thinking of the trip as an "escape" and coming home finally recognizing herself again.
Ta Prohm, Siem Reap
Lost Ellie the iPhone in Siem Reap. Apparently, it symbolized something deeper than just losing a phone. She almost forgot one important thing she learned these days: to let go. Ellie is very closely associated to her father. She was crushed but her best friend/travel mate pointed out softly that it's probably the time already to let go of her father's passing, sincerely.

August
Welcoming home one of her favorite girl from the land of a thousand lake and wept over the fact that she will only be around for some days. Begin to question the essence of reuniting when soon we'll just get separated all over again. Banish that evil thought at the very sight of her best friend slash/ sister because it doesnt matter if it was one day or one year. Every hour count as important and she was grateful for every minute the girls have for each other.

September
She turned 24 surrounded by family and friends with surprises, love, laughters, songs, wishes and hugs. Received beautiful greetings and special phone calls (received another phone calls the next day). Went to sleep feeling very very happy.

Had her final interview with a local newspaper for journalist position, at the same time C.J was having her final interview for LPDP Scholarship. Met up for coffee afterwards and ended up discussing life. Realized that although she supported C.J wholeheartedly, it was uncomfortable for her thinking that when her person left for the Netherlands, there will be no more emergency coffee session, movie day out, or ramen/sushi/bakerzin/anything delicious session for one long year.

Rejected by the local newspaper and was asked how about a job with them as an HR instead. Asked them if they were kidding. Very dry sense of humor.

Participated in a traveling competition (reward was 10 days all-expense-paid travel to Japan). Made it to the final round, but failed that, again.

Wondering just what is it with everything?

October
The graduation ceremony. The university mercilessly decided to hold it on weekdays. Which means no one would be available to come since they are all working. Feeling good for herself though, for finally finishing university. Grateful -- could not find any other word; for the people who were actually there, sharing her happiness and making sure she had her closest people to fiercely commented on her heavy make-up, but still succeeded in making her feel good anyway.

November
Started a selection process as a young journalist for the biggest english newspaper in the country. Surprisingly, also got invited to an interview with one of the coolest travel magazine in town as a travel writer. Received the call from the magazine while waiting for interview turn at the newspaper office. Such a perfect timing........

Iin was graduated. The three of us now officially finished university, and totally jobless. Had our rough time wondering why is it so hard to find a decent job, but enjoyed every bit of our last free time together.

December
Just. Too. Many. Things. Happened. In. This. Joyful. Month.

Accepted by the english newspaper. Scheduled for the medical examination process as the last requirements of the selection. Hating the fact of future trip to a hospital. No words/news whatsoever from the travel magazine.
Had a sudden fever, rescheduled the medical examination because there was no point in taking the examination when one had trouble standing firmly.
Fever was over, here comes the monthly period. Uterus controls the universe by again rescheduling the medical examination date like a boss.
Still no news from the travel magazine.
Finally took the medical examination.
The hospital cleared her of any contagious disease and/or use of drugs. Officially accepted by the english newspaper and offered a contract.
Still no news from the travel magazine.
Decided to sign the contract with the english newspaper.
A week away from signing the contract and folks from the travel magazine innocently called.
Accepted as a travel writer for the travel magazine.
Overwhelmed and felt dizzy for a moment.

A very important person in her life returned back one more time to Jakarta. Have all these mixed feelings over that news: happy, grateful, relieved, excited, happy again -- to have this person around for Christmas. Feeling really loved by God. Spent some awesome unforgettable days meeting up with this person and hanging out with this person's family. Just like that and she firmly believed she could not be more blessed.

Accepted the travel magazine's offer. Wrote a kick-ass email to the english newspaper explaining her withdrawal.

Received an email; a follow up of a super amazing, once in a lifetime kind of opportunity, after applying for that program last year (or was it the year before that?). Was literally jumping all around, could not believe how God rocks her life by opening even bigger doors when she thought He slammed shut all doors she could see right in front of her eyes.

Climbed Mount Papandayan (--Updated--). She climbs mountain not so the world can see her, but so she can see the world. Saw a beautiful and peaceful starry night's sky show, under the unforgiving wind of Pondok Selada. Wishing she could show this to everyone she loves (besides the ones who were with her that night). Because that is exactly how her loved ones make her feels: beautiful and peaceful. Made promise to herself to return home as a stronger person, realizing 2015 will bring massive changes and challenges but believing she is all set for the adventure.
Looking back at 2014, she knew better than anyone that God transform what she thought as a rejection into something bigger, bigger than her dreams, bigger than her wishes, bigger than herself. Because it was never all about her, life was always something more than just her.

Learned that one of the two biggest lessons in life is to let go. Sooner or later everyone will have to deal with it. The other lesson is that life is always about choices. One of her best friend said that arriving at the crossroads where we have to choose between different good choices is another sign of adulthood. Amen to that. From now on, nobody make decision for us. We choose our own path, and will be responsible for whatever comes out as the consequences of our choices.

Welcome, welcome, adulthood.

All in all, she'd say there were a lot of rejections this year, so many rejections she kind of getting used to it. But through it all there were always, always, hidden blessings -- blessings of some kind. So to those of you who are still struggling to find that hidden blessings, don't stop. Go on, take another step, have faith. We can not explore the ocean if we are too afraid of losing the sight of our own beautiful seashore.

Merry Christmas to you all, happy holidays and happy new year!


[Recipe] Dark Chocolate Espresso Mousse

You know one of those days when you wake up and ask yourself, "What the heck am I doing with my life?", believe me those kind of days could turn out to be either a very inspiring day or a very depressing one depend on what you choose to do about it.

A week ago, I woke up feeling crappy -- it's a combo result of a lot of things. One of my best friend who has put up with me for the last 6 years of my life and practically live through all the crazy things during those years simply texted me stating she knew exactly what I'm feeling (I told her I think I need to disappear for sometime. Clear signs of introvert side kicking-in, only no body would believe me about that), and told me to just "escape".

So I did. I escaped.

My "escape" usually take form in one of these two things:

1. Do physical exercise, most likely running until I am more or less numb. Take a good long bath after that and sleep. Then wake up feeling confused why did I abuse my legs three hours earlier.
2. Cook or bake something, feed everyone, then feel better.

This time, I opted for number two and after wandering in the kitchen and with a little recipe hunt over the internet, I came across a fairly simple and delicious recipe involving the essential ingredients for happiness: chocolates (lots of them) and for sure, coffee.


Dark Chocolate Espresso Mousse
recipe from the amazing blog of Heather Hands, with slight adjustments

Just a little reminder before you proceed. This recipe uses raw egg whites to create the mousse texture. Some people are dangerously allergic to this, especially infant and little children. Please be careful when serving.

Ingredients
150 gr dark chocolate, finely chopped
2 tbsp water
2 tbsp cocoa powder
1 tbsp good quality strong espresso
3 tbsp white granulated sugar
4 egg yolks
4 egg whites, room temperature
120 ml heavy cream, cold

Garnish
Cocoa powder, grated chocolate, chocolate stick, whipped cream etc


Melt the chocolate with au bain marie technique: simply put barely simmering water in a pan, put another pan on top of the water and melt the chocolate there. You can add the 2 tbsp water here if you want (although I found it unnecessary to do so). Stir the chocolate constantly until smooth.


Beat in the egg yolks into the melted chocolate and whip over low heat for a few minutes until smooth.

Remove from the heat and stir in the espresso. Make sure it blended well with the chocolate mix, otherwise the espresso will stick to the bottom of the mix, and you don't want to do that, because it will ruin the whole dark chocolate-espresso idea. Transfer the mix into a large bowl and set aside.

Now, we'll be concentrating with our egg whites. Use a mixer with whisk attachment. On medium speed, whip the egg whites until they've reached soft peak. Increase the speed to high and slowly add the sugar one tbsp at a time, continue to whip until stiff peaks have formed. Fold the egg whites into the chocolate, blend well.


Hint: soft peaks are rounded peaks that fold over when the beaters are lifted upside don. Te stiff peaks will hold their shape as the beaters are lifted, but are still moist and glossy.

Rinse and dry your mixer bowl. Stir the cocoa powder into the cream and add it to the bowl. Whip the cream to soft peak stage on medium speed. Increase to high and continue to whip to stiff peaks. Be very careful not to over whip. If you do, the fat and liquid will start to separate and large chunks will form. You can't use it. Fold the whipped cream into the chocolate and egg whites.

Scoop the mousse into small serving bowls. I love to experiment with different kind of serving bowls. Coffee cup, wine glass, ramekin -- it is up to you. Try some different serving bowls and choose the one you think is the most suitable with your mousse, and your mood. Cover with plastic wrap and place in the fridge for several hours (I think 3 hours will do) before serving.


Garnish the top with grated chocolate, whipped cream, cocoa powder, chocolate stick to your liking. My personal favorite is to grab my favorite chocolate bar, cut them in small chunks and pour the chunks on top of the mousse. Enjoy!




7 Menit di Langit: Menjejak Langit Cisarua


Photo beautifully captured by Jeddy Prionggo (JP)
 "Dalam diri masing-masing kita terdapat serat-serat angkasa dan debu-debu bintang, sisa-sisa dari penciptaan kita. Kebanyakan orang terlalu sibuk untuk menyadarinya sementara beberapa orang dapat merasakannya lebih kuat dari yang lain. Kesadaran tentang hal itu bertanggung jawab untuk semua keinginan bawah sadar; paling kuat dirasakan oleh kami yang terbang, sebuah hasrat yang mendorong kami untuk memakai sayap-sayap, dan mencoba memahami batas-batas kabur tentang asal-usul kami." -KO Eckland
"Bagaimana mungkin kamu tidak rindu untuk terbang?" Gue rasa hal itu yang paling ingin ditanyakan sama KO Eckland, seorang penerbang, ilustrator dan pecinta musik jazz dari Cleveland, Ohio, melalui kata-katanya di atas. Menurut beliau kita ini memiliki residu komponen-komponen langit, sisa-sisa serat angkasa dan bubuk debu bintang di dalam diri masing-masing. Jadi, wajar jika langit memanggil kita untuk menjelajahinya. Manusia terlalu lama berpijak di tanah, lupa seluas tanah di bumi, seluas itu juga --bahkan mungkin lebih-- cakrawala di atas sana yang dapat dijelajahi.

Setelah pengalaman kabur ke Puncak hari Selasa lalu, rasa-rasanya gue paham sama omongannya si Eckland. Langit, kapanpun dilihat selalu menawarkan pemandangan yang berbeda. Pemandangan anggun matahari terbit atau terbenam, pemandangan langit biru yang cerah atau kelabu berawan, pemandangan langit malam yang kadang berbintang dan kadang tidak.

Gue sering mikir. Apa ya rasanya, bergerak di ruang terbuka itu, waktu kaki nggak menginjak tanah. Apa iya karena takdirnya di tanah, lalu manusia cuma bisa menatapi langit? Waktu masih polos, imajinasi gue sedikit lebih liar. Terinspirasi gula-gula kapas yang nyaris tiap tahun gue makan di PRJ (kalo nggak di PRJ nggak boleh makan gula-gula kapas. Aturan emak-bapak gue dari dulu emang aneh-aneh), gue jadi bertanya-tanya, awan juga bisa dikunyah nggak ya? Bentuknya sama.

Mulailah sindrom penasaran gue dan setelah browsing Internet kanan-kiri, gue menemukan beberapa hal berikut:

Daftar Cara Menjejak Langit

#1 Base Jumping
Foto dari Asosiasi Base Jumping Indonesia
Base Jumping disebut-sebut sebagai salah satu olahraga paling ekstrim. Jumper melompat dari base (yang bisa berupa gedung, tiang, patung atau bangunan lain) tanpa membuka parasut terlebih dahulu. Sebenernya mirip-mirip terjun payung, tapi waktu jatuh bebas (free fall) tanpa parasutnya lebih singkat. Di Indonesia ada Asosiasi Base Jumping dan anggotanya termasuk jumper pertama di Indonesia, Frangky Kowaas dan Petra Mendagi. Foto di atas adalah foto bung Frangky Kowaas yang melompat dari Menara Imperium Kuningan, Jakarta tahun 2009 silam.

#2 Skydiving / Skysurfing
Ini olahraga terjun bebas dari pesawat. Ada free fall dan parasut dibuka di ketinggian tertentu. Jadi untuk sekian menit kita melayang-layang di udara tanpa parasut. Awalnya gue mencari-cari tempat untuk melakukan skydiving. Ada yang mencatat wilayah Bogor dan Lido sebagai arena untuk melakukan skydiving, masalahnya kebanyakan yang melakukan kegiatan ini sudah berlisensi profesional. Gue agak kesulitan menemukan skydiving tandem (melompat bersama orang lain yang sudah ahli melakukan skydiving). Setelah mencari-cari opsi lain gue menemukan ini:

#3 Paragliding (Paralayang)
Beda dengan skydiving yang adrenalinnya diperoleh dari meloncat bebas tanpa parasut untuk waktu tertentu, paralayang menggunakan parasut yang sudah dikembangkan dari awal. Tinggal berlari dan melompat. Buat mencoba paragliding ini gue menghubungi tim MountNear di daerah Puncak. Kalau belum bisa sendiri, kita bisa memilih terbang tandem. Terbang tandem artinya akan ada master paragliding, atau pilotnya yang terbang bersama-sama kita. Kitanya sih duduk aja, anteng.

Beres-beres parasut sebelum terbang (JP)
Paralayang terkenal akan kepraktisan alat-alat yang digunakan. Parasut yang digunakan (parasut utama dan cadangan) dapat dimasukkan ke dalam sebuah ransel yang digendong di punggung. Jadi begitu selesai main, parasutnya bisa langsung dibungkus lagi ke dalam ransel.

Sambil terbang, si pilot tandem ngajakin gue ngobrol. Beliau menjelaskan tentang updraft (gerakan udara ke atas, arus vertikal) yang dibutuhkan saat paragliding agar parasutnya bisa membawa kita terbang ke atas. Waktu gue tanya soal apa si pilot pernah ikutan skydiving, dia langsung ketawa dan bilang kalo nggak berani. Gue yang sempet niat banget mau cobain skydiving pun bertanya, "kang, emang udah berapa lama main paragliding?" si pilot pun menjawab "Udah 14 tahun nih jadi pilot. Ini bulan depan mau ikut kompetisi di Phuket."

14 tahun. Kalau dia aja yang udah 14 tahun jadi pilot paragliding masih nggak berani terjun bebas buat skydiving..... mungkin udah saatnya gue cari tau lebih banyak tentang skydiving itu sendiri. Selagi gue tenggelam dengan pemikiran itu, pilot tandem mulai memutar-mutar parasut, gerakan parsut jadi circling perlahan. Beliau menjelaskan bahwa ini caranya untuk menambah ketinggian dan gue tentu saja semangat karena memang naik semakin tinggi.

Cuma 1 hal: makin naik ke atas makin sulit bernafas. Gue lupa pelajaran IPA zaman SMP yang menjelaskan bahwa di tempat tinggi molekul udara semakin tipis dan jantung akan dipaksa bekerja lebih keras, hasilnya jadi berdebar-debar. Lalu jadi merasa capek, padahal itungannya cuma jadi penumpang yang duduk diam menikmati langit.

Si akang pilot tandem tampaknya menyadari bahwa gue nggak biasa main paragliding, maka beliau pun menyarankan kami landing saja. Gue terbang kurang lebih selama 7 menit. Tadinya waktu dikasih tahu waktu di udara hanya 5-10 menit, gue sempet mikir: cih, sebentar banget dong ya. Ternyata itu semua ada alasannya saudara-saudari. Kalau tidak terbiasa terbang dengan ketinggian seperti itu, maksa untuk berlama-lama terbang justru akan membahayakan diri sendiri.

Terbang. Akhirnya. (JP)
Gue inget banget, angin sejuk Puncak, cuacanya yang berawan, petak-petak perkebunan teh di bawah gue, semuanya itu memberi sensasi tersendiri. Rasanya jelas berbeda dari sekedar mengamati pemandangan dari kaca jendela pesawat. Bagi gue, waktu terbang itu rasanya gue menyatu dengan langit. Meskipun beberapa orang secara spontan nanya, "Bahaya nggak tuh?" atau "Elu nggak takut?" ketika mendengar gue menyampaikan keinginan buat main paragliding, gue nggak bisa bilang ini olahraga memacu adrenalin. Apa mungkin karena gue terbang tandem dan sepenuhnya mempercayakan nyawa gue ke si pilot tandem ya?

Buat gue rasanya bebas dan tenang. Gue jadi sedikit paham keras kepalanya para pilot atau kenapa mereka-mereka yang disebut adrenaline junkie nggak juga berhenti melakukan kegiatan ini. Karena bukan sekedar menantang maut, masbro, mbaksist, ini perihal mendeklarasikan kebebasan dan ketenangan diri sendiri. Ini tentang mengekspresikan rasa ingin tahu dan menembus batas "biasa". Dan selalu, rasa syukur yang mengikuti itu berlimpah-limpah. Bumi Puncak kelihatan jauh lebih cantik dilihat dari atas. Rasanya gue nggak akan melihat Puncak dengan "biasa" lagi sejak diijinkan buat melihat penampakannya dari langit.



Mountnear Paragliding Center
Paramotor & Paragliding Indonesia
mountear.com
Tandem Flight:
Rp 350.000 / flight (+ Rp 100.000 untuk video + foto dengan kamera GoPro)
support@mountnear.com
info@mountnear.com
+62818-14-3508

DISCLAIMER:
Semua foto dan video diambil oleh manusia-manusia gembira dan berbakat: Angelika Cindy W / Jeddy Prionggo / Filipus Prionggo. Kepada mereka gue berhutang semua dokumentasi kegiatan paralayang ini, karena kamera GoPro tim Mountnear diboyong semua untuk kompetisi di Manado, dan gue terlalu nggak percaya dengan tangan sendiri untuk memegang handphone sambil terbang.
Kalau kata Filip (tentang gue ngambil selfie sambil terbang): "Udah dah. Byebye hape. byebye." Mengikuti saran semuanya, gue meninggalkan hape dan berserah sepenuhnya pada tiga orang ini untuk mengabadikan momen-momen selama paralayang di Puncak. Terimakasih banyak ya kalian!